Perihal Puisi Dan Jodoh – Puisi Sayap – Jadi Peluru – Pohon Sunyi – Empu Hening

Karya . Dikliping tanggal 15 Maret 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Perihal Puisi Dan Jodoh

Bagi Ulfatin Ch

Daun-daun kering
Debu-debu terbang tak berumah
Di tengah rima melodi puisi
Hijau segar sejuk membasah
Engkau berjodoh dengan puisi
Di tengah ruas ruas yang berlari
Mengeja huruf dan baik baik sunyi
Seluruh hidup puisi tak henti henti
Yang mendekap senyummu berhari hari
Yang mereguk kopi malam sunyi
Yang kau hantar doa di malam sepi
Yang pelihara kicau kacer dan nuri
Di rumah bathin terdalam
Itulah puisi abadimu
Hingga rambut memutih beruban
Menyatu dalam nafas siang malam
Mengasah anak sambil bersajak
Pada puisi mengabdi
Bersatu langkah mengeja hari
Bersatu kiblat hingga membumi
Pituruh Purworejo, Agustus 2014

Puisi Sayap

Bagi Dorothea

Bertandang, rumah terkunci
Terakhir surat post card kau kirim
Ada di rotersdam
Seperti meledek keheningan
Di ruang bathinku terdalam
Wajah jawamu, diantara bule jiran
Puisi puisi itu berubah
Menjadi sayap
Kau pun terbang tanpa hinggap
Tiba tiba kau e-tag foto
Baid sajakmu mengepak di jerman
Di festival puisi penyair pilihan
Engkau masih tetap jawab,sederhana
Di sorot matanya menyimpan
Pengunungan menoreh.
Serta senyum bukit tidar
Yang memancar.
Disitulah rahim puisimu berawal.
Pituruh, Purworejo Agustus 2014

Jadi Peluru

Bagi Wiji Thukul

Menjadi suratan sudah
Jadi misiu
Pelatuk jiwa sajakmu
Melesat membidik sesuatu
Mengarah yang nanah
Menusuk yang busuk
Tapi terlalu mahal
Sekali dalam lesatanmu
Berkali setiap ledakanmu
Tak kutemukan
Dimana selongsong tubuh itu.
Hilang!
Jogjakarta, Agustus 2014

Pohon Sunyi

Bagi Triyanto Triwikromo

Hidup pohon berasal dari biji
Hati yang lebat buah itu
Semestinya terbentang, rindang
Seperti laut hamparan samudra
Yang siapapun mencebur
Di kedalamannya
Tapi, adakah mereka bersalah
Jika ingin merasa punya ?
Kaulah pohon sunyi itu.
Tumbuh besar di halaman rumah jawa
Tak berukur tingginya
Berbuah saja,aduhai melodiusnya
Pituruh, Purworejo, Agustus 2014

Empu Hening

Bagi Iman Budi Santosa

Air laut tak tidur oleh ombak
Seperti keris meliuk dalam luk
Hidup laksana dibakar tungku
Membara memanggang baja
Setiap keris memiliki riwayat tubuh
Langit tempat berumahnya awan
Tempat bulan bersandar
Tempat bintang bertebaran.
Engkaulah langit itu
Engkaulah tungku itu
Engkau juga laut muaranya ikan ikan
Langit pemberi keluasan purnama bulan.
Yang menyebarkan biji biji puisi
Bergayutnya awan yang bersajak
Dan engkaulah langit teduh itu
Empu hening di ketinggian langit biru
Jogjakarta, Agusus 2014




*) Sumanang Tirtasujana, tahun 1987.  Aktivis di Kelompok Sastra Pendapa (Ksp) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta. Sejumlah antologi puisi nasional dan daerah telah menampung puisi puisinya. Puisinya dimuat di sejumlah media. Sesekali menulis esai dan lakon teater. Kini tinggal di Pituruh Purworejo. Sembari terus setia dengan dunia pilihannya. 



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sumanang Tirtasujana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” 15 Maret 2015



Beri Nilai-Bintang!