Peristiwa – jatuh cinta

Karya . Dikliping tanggal 2 Desember 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

peristiwa

di angin berlendanglendang
pada celah antara riang dan bimbang
kulihat engkau menari sembari berdendang
dan sesekali memanggilku, “hai, Sayang!”

belum menjelang tengah hari ketika itu
tetapi senja sudah membayang di ambang pintu
kupikir sebentar lagi malam membiru
entah bagaimana saat itu engkau tersedu

kekasihku,
jika pandang mata dan puisi tak menentramkanmu
jika senyum dan sajak tak meluruhkan gelisahmu
apa lagikah yang bisa kuberi selain hatiku?

lalu benar senja tiba
sesudahnya malam tak membiru ternyata
dan bulan mengapung dengan warna kesumba
cuma sekilan jaraknya dari kepala

“kemarilah,” katamu. “duduklah di sampingku.
aku ingin memelukmu
dan lalu menyelinap masuk ke debar degab jantungmu
melalui sela tulang igamu.”

aku, malumalu, mendekat
engkau, penuh gairah, melekat
itulah kali pertama urat dan riwayat
mulai sering bercakap tentang Jerat

sampai Kini
…..

jatuh cinta

padahal kusenandungkan
lagu kesukaanmu
sebatas dalam hatiku.
tapi kamu
yang semula mengarahkan pandang
ke mbuh mana menatap entah apa
menoleh kearahku.
memandang dengan tatapan sajak gimana gitu,
tersenyum dan sesudahnya berucap
yang meski lirih bisa masih kudengar
cukup jelas, “alangkah merdu.”

apakah kamu
sedang jatuh cinta
padaku?
hingga tahu
yang walau sudah kusimpen primpen
di hatiku.

mungkin, harusnya,
seperti yang dikata ebiet g. ade
dalam salah satu lagunya, “…mestinya aku berdiri,
berjalan ke depanmu…”
namun toh kupilih mencecap pahit kopiku
yang manisnya
bikin seluruh bagian dunia seolah bergula.

“ayu, ya…” kata mata.
aku tertawa.

“godaan memang selalu nampak jelita…” sahut hati.
“betulkah itu godaan?” tanya benak. “bagaimana
kalau ternyata wujut anugerah
setelah bertahun bisa tak tergoda?”

desir mendesau
senyari di bawah pusar
aku ngaceng.

“tak usah regejegkan
itu memang godaan.” kataku pada benak,
dan hatiku nimbrung maido utek, “lhaaa… yaaa… taaaa…”

seperti jatuh cinta
bagiku
tanda selalu terang
…..

namun tak sampai menyilaukan

jadi jelas
: itu Bukan
…..

Timur Sinar Suprabana, penyair, tinggal di Semarang


[1] Disalin dari karya Timur Sinar Suprabana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 2 Desember 2018