Perpisahan Baik-Baik

Karya . Dikliping tanggal 16 Februari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos
RUMAH makan langganan kami terlalu riuh sore itu dan kami hanya berdiri di ambang pintunya mengamati keriuhan di dalam rumah makan. Seorang pelayan mendatangi kami, mengatakan ada dua orang merayakan ulang tahun dan salah satu membawa anak-anak panti asuhan. 
“Semua orang berulang tahun hari ini,” kata Robi. “Untung Mama di Semarang. Kalau ia di sini, pasti dibawanya juga anak-anak panti asuhan kemari.” 
“Mama berulang tahun hari ini?” tanyaku. 
“Ya.” 
Sebenarnya masih ada tempat duduk kosong yang bisa kami tempati, tetapi Robi menginginkan suasana yang lebih tenang untuk bercakap-cakap. Maka, kami beralih ke rumah makan lain di seberang jalan yang lebih sepi pengunjung dan memilih tempat duduk di dekat jendela. Kami duduk berhadap-hadapan di meja untuk dua orang dan aku menghindari bertatap mata dengannya. Aku tahu apa yang ia ingin bicarakan. Kami sudah berkali-kali membicarakannya setahun belakangan dan topik itu terasa kian menyakitkan dalam tiga bulan menjelang ia berangkat. 
Pelayan rumah makan datang ke meja kami, menyodorkan daftar menu, dan kemudian berdiri di samping meja menunggui kami memutuskan pilihan. 
“Ada ikan hiu, Ratri, mau coba?” tanya Robi. Suaranya terdengar sedih. 
Aku menggeleng. 
“Konon penting mencoba hal-hal baru, termasuk dalam soal makanan.” 
“Maaf, Pak,” kata pelayan, “Hiunya kosong. Itu menu pesanan.” 
“Maksudnya?” tanya Robi. 
“Kalau mau, Bapak bisa pesan sehari atau dua hari sebelumnya.” 
Robi kembali menekuni daftar menu, lama sekali, kubayangkan seperti malaikat meneliti daftar kesalahan orang yang baru mati. 
“Kau pernah melihat film ikan hiu, Rob?” tanyaku. “Bayi-bayi ikan hiu sudah harus bertarung dan saling memangsa sejak di dalam rahim induknya.” 
“Menarik, aku malah baru dengar itu sekarang,” kata Robi. Matanya tetap di daftar menu. 
“Sebetulnya menyedihkan,” kataku. 
“Kupikir telur-telur hiu menetas di luar rahim induknya.” 
“Itu telur itik.” 
“Maksudku seperti ikan badut di film Nemo. Induknya menaruh telur di semak-semak dasar laut dan mereka menetas di luar.” 
“Hiu tidak begitu. Jadi, dari sekian bayi di dalam rahim, yang keluar hanya yang berhasil memenangi pertarungan. Kau tega memakannya setelah ia berhasil mempertahankan nyawa dan selamat dari pertarungan?” 
Ilustrasi karya Bagus

Robi mengeluarkan gumam, seperti hendak menjawab tetapi tidak jadi, dan, setelah diam sebentar, ia lantas menyebutkan menu yang ia pilih. Aku memesan menu yang sama agar mudah saja. Pelayan mencatat dan kemudian meninggalkan kami dan aku mengarahkan mataku ke jalanan. Dua remaja lelaki dan perempuan melintas di trotoar, bergandeng tangan, seperti dua figuran numpang lewat di layar film. Di belakang mereka segerombol remaja berjambul, persis kawanan kasuari. 

Beberapa tahun lalu, saat kami belum lama berpacaran, pernah kami melihat serombongan anak muda dengan penampilan seperti itu di alun-alun, berjambul juga, dan Robi tiba-tiba mengajukan pertanyaan iseng, “Kau bisa menebak apa cita-cita mereka?” dan aku menjawab sekenanya, “Menjadi ustad, mungkin. Ada pelawak yang rambutnya persis mereka, tidak lucu sebagai pelawak, dan sekarang ia menjadi ustad.” 
Sekarang kami kehilangan kelakar dan mungkin tampak sebagai dua orang yang sama-sama tertekan. Kucabut beberapa lembar kertas tisu dari tempatnya. Permukaan meja terasa agak basah dan lengket dan aku mengelapnya dengan kertas tisu itu. Telingaku menangkap suara jalanan, dengung kipas di langit-langit, bunyi peluit dan aba-aba tukang parkir, dan akhirnya suara Robi. Ia terdengar lebih murung ketimbang saat menawarkan menu ikan hiu, seolah-olah ini hari terakhir kami hidup di muka bumi. 
“Jadi kita tak akan pernah menjadi suami istri, Ratri?” tanyanya. 
Aku tahu ia akan membicarakan hal ini dan aku tidak ingin membicarakannya. 
“Bisa kita membicarakan hal lain, Rob?” kataku. Mataku tetap melihat jalanan. 
“Tentang apa misalnya?” 
“Apa saja, tapi kumohon jangan bicarakan urusan itu sekarang.” 
“Baiklah, tapi aku tak punya topik lain. Kau saja yang memilih topik pembicaraan.” 
“Rob….” 
“Ya?” 
“Apakah kita tidak bisa selamanya menjadi sepasang kekasih?” 
“Maksudmu?” 
“Apakah kita harus menjadi suami istri?” 
“Tidak, jika kau tak menghendakinya.” 
“Tapi kau menghendakinya.” 
“Ya.” 
“Dan kau sudah tahu apa yang kupikirkan.” 
“Ya, tapi aku tak paham.” 
“Karena kau tidak mau paham.” 
“Mungkin. Tapi kau juga tidak mau memahamiku, bukan?” 
“Aku hanya tidak ingin membicarakan hal itu sekarang” 
“Dan kapan kau ingin membicarakannya?” 
“Pada saatnya, tapi tidak sekarang.” 
“Kita sudah berhubungan tujuh tahun, Ratri, dan lusa aku harus pergi.” 
“Aku tahu.” 
“Tahun lalu, ketika aku tahu bakal ditempatkan di Venezuela, kubayangkan kita akan berangkat bersama-sama. Ternyata tidak bisa. Lalu kupikir aku akan berangkat lebih dulu dan kau menyusul bulan berikutnya.” 
“Aku tak bisa meninggalkan pekerjaanku, Rob, kau tahu.” 
“O, jadi karena urusan pekerjaan?” 
“Rob….” 
“Ya?” 
“Kenapa kau tidak meninggalkan aku sejak waktu itu?” 
“Sejak waktu itu?” 
“Ya, sejak—’* 
“Sejak kau masuk rumah sakit? Aku tak pernah memikirkan hal itu.” 
“Aku tak akan sakit hati jika kau melakukannya. Maksudku, aku tak akan menyalahkanmu.” 
“Baiklah.” 
“Apa maksudmu baiklah?” 
“Mencoba memahamimu.” 
“Terima kasih.” 
“Jadi, sekarang aku tak akan mengajukan permintaan apa-apa lagi kepadamu. Dan itu berarti hubungan kita berakhir.” 
“Berarti kita tidak bisa hanya menjadi sepasang kekasih?” 
“Tentu bisa, Ratri. Bisa sekali. Dan sepasang kekasih bisa menikah dan tetap menjadi sepasang kekasih selamanya” 
Aku melihat sesuatu yang berbeda di dalam benakku dan kepalaku menggeleng-geleng begitu saja, cukup lama. 
“Kau hanya melihat hal yang menakutkan tentang pernikahan, Ratri, dan kau memelihara ketakutanmu, dan kau tidak mempercayai aku. Kau juga tak mau percaya bahwa Mama bisa menerimamu.” 
“Aku minta maaf, Rob.” 
“Lucu juga bahwa kita harus berakhir seperti ini, pada hari ini, pada tanggal ini. Kau tahu sekarang tanggal berapa?” 
“Dua belas.” 
“Dua belas Mei, hari kita jadian.” 
“Oya? Kau mencatatnya?” 
“Aku mengingatnya, sebab sama dengan hari ulang tahun Mama.” 
“Kau tak pernah memberi tahu itu.” 
“Barusan sudah kuberi tahu.” 
“Sebelum ini maksudku.” 
“Mungkin karena aku malu. Atau sungkan dianggap anak mami, apa-apa harus selalu dikaitkan dengan Mama. Tapi sekarang kau sudah tahu bahwa sejak hari ini aku punya tiga hal yang kukenang pada tiap dua belas Mei: ulang tahun Mama, hari kita jadian, dan hari kita bubaran.” 
“Kau marah padaku?” 
“Tidak” 
“Aku minta maaf.” 
“Tak ada masalah. Setidaknya ada kepastian tentang akhir hubungan kita.” 
“Aku…” suaraku tersendat. “Kau tahu betul apa yang selalu mengganggu pikiranku.” 
“Bisa kita bicara topik lain saja, Ratri? Sekarang aku yang minta.” 
“Rob….” 
“Ya?” 
“Boleh kutelepon Mama?” 
la diam beberapa saat. Aku mendengar tarikan napasnya. 
“Kupikir tak usah” katanya, “Biar aku saja yang menyampaikan soal kita.” 
“Aku mau mengucapkan selamat ulang tahun,” kataku. 
“Tak usah, lah.” 
“Oh, oke! Oke!” 
“Atau nanti saja setelah kita di rumah masing-masing.” 
“Tak usah, lah.” 
Sunyi lagi. Robi mengangkat ponselnya dan menekan-nekan tombol dan kemudian menempelkannya ke telinga kanan. 
“Halo, Ma… Sedang apa? … Ya, ya, sudah, semuanya sudah beres. Besok pagi aku pulang dulu, pesawat paling pagi, lumayan ada waktu sebelum lusa. Sebentar, Ma, sebentar, ada yang mau bicara.” 
Ia menyodorkan ponselnya kepadaku; tanganku agak tersendat menerimanya, juga suaraku: 
“Halo, Ma. Ini Ratri. Selamat ulang tahun, semoga panjang umur, selalu sehat, selalu cantik, dan semakin dicintai oleh Papa.” 
Ia menanyakan apakah persiapan Robi benar-benar sudah beres semua. “Sering teledor anak itu,” katanya. Dan seterusnya dan seterusnya dan pikiranku buyar. 
“Ya, Ma, ini Robi mau bicara lagi.” 
***
TERAKHIR aku pulang ke Semarang tiga bulan lalu, mengambil cuti hari Jumat karena Kamis tanggal merah. Mama sedang duduk di teras membaca buku cerita dan anak bungsu Mbak Warni duduk menyimak di sebelahnya. Anak itu, usianya hamper lima tahun, berlari menyongsongku saat aku turun dari taksi, meraih tanganku dan menciumnya. Kukatakan kepadanya aku membawa oleh-oleh special untuknya dan untuk kedua kakaknya. “Mau tahu?” tanyaku. 
Ia memandangiku. 
“Kukira baru besokkau datang, Robi,” kata Mama. “Kau bilang Kamis, bukan?” 
“Sekarang ini Kamis, Ma,” kataku. 
“Benarkah? Bukannya Rabu sekarang?” 
“Ragil,” kataku pada si bocah, “coba kasih tahu Eyang sekarang hari Kamis, bukan Rabu.” 
“Sekarang hari Kamis, Eyang. Bukan Rabu!” teriaknya. 
“He, sudah pintar kau. Sudah pantas punya adik,” kata Mama. “Robi, kau sudah tahu empat bulan lagi Ragil akan punya adik?” 
Mbak Warni sudah bekerja di rumah ini sejak aku kanak-kanak, menggantikan pembantu sebelumnya yang berhenti bekerja karena menikah. Kurasa umurnya tak beda jauh dari umurku. Aku kelas empat ketika Mbak Warni mulai bekerja; rambutnya panjang dan tubuhnya sebesar anak kelas enam, namun ia tidak bersekolah. Aku menyukainya, sama seperti aku menyukai Nuning, teman sekelasku yang rumahnya berseberangan dengan gedung sekolah dan aku suka bersepeda melintasi depan rumahnya. Kadang Nuning ada di depan rumah, sedang menyapu pekarangan, dan aku ingin menghentikan sepedaku dan menyapanya dan mengajaknya bercakap-cakap. Namun aku tidak melakukannya dan aku akan menyesal kenapa tidak melakukannya. Pada malam harinya, ketika sulit memejamkan mata karena perasaan menyesal itu, aku berjanji pada diri sendiri bahwa besok, jika aku bersepeda di depan rumahnya dan Nuning sedang menyapu pekarangan, aku akan berhenti dan bercakap-cakap dengannya. Dan aku tak pernah berhenti di depan rumahnya. Sampai kami lulus, dan aku sudah berulang kali naik sepeda di depan rumahnya, tak pernah satu kali pun aku melakukan apa yang kupikir seharusnya kulakukan. 
Sesekali, saat aku merasa tidak mengantuk sampai larut malam, Mbak Warni menemaniku di kamar sampai aku tidur. Ia kenal semua jenis hantu yang ada di kampungnya dan tahu apa saja yang telah dilakukan oleh hantu-hantu itu terhadap para tetangganya. Ia menikah dengan pengantar susu langganan kami pada saat aku mulai masuk kuliah dan meminta izin kepada Mama untuk berhenti bekerja dan Mama menolak permintaannya. “Biar suamimu tinggal di sini,” kata Mama. “Jadi kalian tak perlu keluar biaya sewa rumah.” 
Mereka pasangan yang subur. Anak pertama mereka lahir dua tahun setelah hari pernikahan, dua tahun berikutnya anak kedua, dua tahun berikutnya lagi si Ragil, satu-satunya lelaki dari tiga bersaudara, yang ternyata bukan anak bungsu meskipun telanjur diberi nama Ragil. Mama menyayangi mereka dan malam itu, ketika aku membawa secangkir kopi dari dapur menuju teras, kulihat ia sedang duduk di ruang tengah bersama Ragil dan kedua kakaknya, membacakan salah satu dari lima buku cerita yang baru saja kubawa untuk mereka. 
Kopi di cangkirku sudah dingin ketika Mama mendatangiku di teras dan duduk di sebelahku. 
“Sudah selesai mendongengnya, Ma?” tanyaku. 
“Sudah tidur mereka,” katanya. 
“Papa belum pulang?” 
“Bertemu teman-teman lamanya. Kalau mereka sudah bertemu, pasti sampai larut malam.” 
Tak ada lagi yang terlintas di kepalaku untuk ditanyakan. Lalu aku hanya menunggu ia memulai percakapan tentang Ratri. Aku tahu itu yang ia ingin bicarakan denganku. 
“Kau sudah memikirkan risikonya, Robi?” tanyanya. 
“Ya. kami tidak akan punya anak. Itu yang Mama maksudkan risiko?” tanyaku. 
“Keluarga ini tidak bakalan punya penerus.” 
“Lalu?” 
“Aku hanya mengingatkan, kau anak tunggal di rumah ini. Jika kau menikah dan istrimu tidak bisa melahirkan anak, maka putus sudah riwayat keluarga kita.” 
“Aku tidak meminta jadi anak tunggal, Mama.” 
“Sama, Robi. Aku juga tidak meminta jadi anak tunggal. Papamu juga tidak meminta jadi anak tunggal. Tapi kenyataannya kita semua anak tunggal.” 
“Mama tidak setuju aku menikahi Ratri?” 
Mama seperti tidak mendengar pertanyaanku. Ia terus bicara dan suaranya terdengar seperti orang melamun. 
“Dulu, ketika kami baru menikah, papamu pernah berkhayal punya anak sepuluh. Kubilang kepadanya, “Kau pikir kau menikahi kucing? Aku mau tiga saja. Kalau kau mau sepuluh, sisanya kau yang harus melahirkan.” Ia bilang, “Baiklah, nanti anak keempat dan seterusnya aku yang melahirkan. Asal kau tak malu ke mana-mana menggandeng suami yang hamil tua” 
“Tidak,” kataku. “Aku tidak akan malu. Aku akan menyampaikan kepada siapa saja bahwa aku mempunyai suami teladan, ia bisa menangani segala urusan termasuk hamil dan melahirkan.” 
“Dan ia tetap tidak mau kalah. Katanya, “Kalau aku bisa melahirkan sendiri, aku mau melahirkan dua puluh anak.” 
“Ma..” 
“Robi, bagaimanapun, nanti kau akan merindukan kehadiran bayi di dalam rumah tanggamu, yang akan kalian asuh sampai dewasa, sampai kelak ia membangun rumah tangganya sendiri, dan pada saatnya ia juga punya anak, dan seterusnya seperti itu, dan begitulah riwayat keluarga dilanjutkan oleh anak cucu yang lahir nanti.” 
“Mama, sekarang ini urusannya antara aku dan Ratri. Aku mencintainya dan memutuskan menikah dengannya” 
“Baiklah kalau begitu. Jika keluarga ini ditakdirkan berakhir, aku akan menerimanya dengan lapang hati. Paling-paling aku hanya perlu minta maaf kepada leluhur bahwa garis keturunan kita berakhir.” 
“Kenapa berkata begitu, Mama?” 
“Tidak apa-apa, Robi. Ini salahku juga. Aku hanya bisa melahirkan satu anak.” 
“Katakan saja Mama tidak setuju aku menikah dengan Ratri, aku akan menuruti kemauan Mama.” 
Tidak, Rob. Kau menikah dengan pilihanmu. Mungkin rumah tanggamu nanti bahagia, mungkin tidak bahagia, tetapi kau menikah dengan pilihanmu. Aku tidak mau seumur hidup disalahkan karena kau mengikuti kemauanku dan rumah tanggamu tidak bahagia.” 
Kami mengakhiri percakapan sekitar pukul setengah sebelas, setelah mulut kami masing-masing menjadi bisu. Pukul dua dinihari aku keluar dari kamar menuju dapur, mengambil cangkir di rak piring dekat wastafel, menuang air putih ke cangkir tersebut dan meneguknya sampai habis. Mama juga keluar dari kamarnya, melakukan hal yang sama denganku, mengambil cangkir dan menuang air putih di cangkir tersebut, menelan sebutir obat sakit kepala, dan mendorongnya dengan air putih di cangkirnya. 
“Mama tidak bisa menerima Ratri?” tanyaku. 
Mama menggeleng. 
“Aku tidak punya masalah dengannya. Ratri gadis yang menyenangkan, aku menyayanginya dan kau mencintainya.” 
“Kalau Mama tidak setuju….” 
“Aku setuju.” 
Dadaku sesak sekali. Pagi itu aku ingin menjadi kanak-kanak yang menangis di dadanya dan menemukan kedamaian pada degup jantungnya. 
***
LANGIT berwarna jingga di luar, tetapi di dalam rumah makan aku merasa semuanya berwarna kelabu. Kami berpacaran tujuh tahun dan ia akan berangkat ke Venezuela dan kami mengakhiri hubungan dua hari sebelum ia berangkat. 
“Rob.” 
“Ya?” 
“Tlidak apa-apa jika lusa aku tidak mengantarmu ke bandara?” 
“Tidak apa-apa.” 
“Aku ada acara di kantor.” 
“Tidak apa-apa, Ratri. Dan kau tidak memerlukan alasan apa pun untuk itu.” 
“Kau tahu aku tidak menginginkan seperti ini.” 
“Aku tahu.” 
Kuteguk habis sisa minuman di gelasku. 
“Mau pesan minuman lagi?” tanyanya. 
Aku menggeleng. 
Robi memanggil pelayan. “Tolong dihitung, Mbak,” katanya. Pelayan itu balik ke kasir dan datang lagi ke meja kami membawa secarik kertas dalam nampan kecil. Robi mengambil kertas itu dan menarik dompet dari saku celana dan menaruh kembali kertas itu di nampan kecil bersama beberapa lembar uang kertas yang ia ambil dari dompetnya. 
Kami tidak banyak bicara sepanjang jalan pulang, sampai mobilnya berhenti di depan pintu pagar rumahku. Aku turun dan memberinya lambaian tangan. Kami menyelesaikan tujuh tahun cinta kami hanya dengan lambaian tangan. Aku bahkan lupa untuk sekadar berbasa-basi menawarinya mampir dulu. Ia melanjutkan jalan. Aku masuk ke dalam rumah dengan kepala rusuh, dengan kenyataan bahwa hubungan kami berakhir baik-baik. Itu tidak masuk akal: bagaimana mungkin dua orang yang saling mencintai bisa mengakhiri hubungan secara baik-baik? 
Kenangan demi kenangan bermunculan tak terbendung dan menyiksaku hingga dinihari. Tujuh tahun begitu singkat dan hal-hal yang menyenangkan di masa lalu berubah menjadi ingatan yang memedihkan. 
“Coba kau berdiri sebentar, Ratri,” katanya suatu hari. 
Aku berdiri dan ia meletakkan tangannya pada kursi yang kududuki. 
“Panas,” katanya. “Itu berarti kau akan punya banyak anak.” 
“Sok tahu,” kataku. 
“Menurut penelitian begitu. Dan itu berarti kita berjodoh. Aku ingin punya anak dua puluh biji dan mamaku juga menginginkan cucu dua puluh biji.” 
“Kalau begitu kau harus menikah dengan ayam. Dalam dua tahun kau bisa melahirkan Kurawa.” 
Itu percakapan ketika kami baru berpacaran beberapa bulan. Aku tak ingin mengingat percakapan itu, tetapi ia muncul begitu saja di kepalaku. Aku tak ingin memikirkan Robi, sebab aku bahkan tidak tahu apa doaku untuknya setelah kami berpisah. Aku tahu bahwa mestinya aku berharap ia bisa menemukan perempuan yang lebih baik dariku. Namun itu harapan yang akan menyakiti perasaanku sendiri. Aku telah menolak ajakannya dan kami berpisah, tetapi aku ingin ia tahu bahwa tak ada perempuan yang mencintainya lebih dari aku mencintainya. ***
Rujukan:
[1] Disalin dari karya A.S. Laksana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” pada 15 Februari 2015