Perseteruan Sementara

Karya . Dikliping tanggal 9 Maret 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
SECARA jarak usia, keduanya pentas menjadi kakak adik. Hanung cuma lebih tua empat tahun ketimbang Lea. Berhubung ibu Lea kakak tertua Hanung, jadilah Lea keponakan Hanung. Ketika ayah ibunya belum bercerai, Lea tinggal bersama mereka di Surabaya. Setelah orang tuanya berpisah, gadis itu mengikuti ibunya yang pulang ke Yogyakarta. Hubungan Lea dan Hanung terbilang akrab, bahkan mereka biasa bermain bersama saat masih bocah. Tapi ketika Lea menjadi anak SMP dan Hanung sendiri SMA, hubungan itu mulai berubah. Adakalanya mereka berdua justru laksana seteru.
Sebagaimana layaknya gadis-gadis sebaya, Lea pun mulai ingin tampil cantik. Seperti juga sahabat-sahabatnya seperti Cessa dan Shelly, Lea mengenakan tanktop dan celana pendek ketika mereka akan menghabiskan sebuah sore di mal. Hanung cukup terkejut melihat penampilan keponakannya. Kebetulan dia baru saja pulang dari kegiatan eskul di sekolahnya.
“Mau ke mana?” tanya Hanung.
“Mau jalan-jalan ke mal. Om Hanung mau ikut?”
“Nggak, makasih. Baju apa yang kamu pakai itu?”
“Baju yang modis dong, Om. Biasa kan cewek cakep kayak aku pakai baju begini? Kenapa sih, Om Hanung nanyanya aneh deh…”
“Kamu nggak pantas pakai baju seperti itu! Apa nggak takut digoda cowok-cowok di mal?”
“Asal godainnya nggak sampai colak-colek sih, it’s ok aja, Om. Aku kan nggak sendiri, ada temen-temen yang jalan bareng aku nanti.”
“Ya sudah, terserah kamulah.”
Hanung menghentikan ucapannya. Setiap mau menasihati Lea, keponakannya itu selalu punya banyak amunisi untuk adu argumentasi, hingga Hanung kehabisan kata. Tentu dia begitu sayang pada keponakannya, namun Lea bisa jadi tak memahaminya.
Sekian jam kemudian, sehabis jalan dengan teman-temannya, Lea pulang dengan wajah sembab. Ibu dan neneknya pun cemas melihatnya.
“Kamu kenapa Lea, wajahmu pucat begitu?” tanya ibu Lea.
“Ibu… Eyang…” Lea menghambur ke pelukan ibunya sambil menangis sesenggukan. Gadis itu pun dibimbing ibunya menuju kamar tidurnya. Nenek Lea menemani Cessa, teman Lea di ruang tamu. Hanung yang semula berada di kamarnya beranjak keluar menemani ibunya.
“Ada apa ini, Nak Cessa?” tanya nenek Lea.
“Anu Eyang, tadi kami digodain cowok, terus Lea sampai dipeluk-peluk begitu,” sahut Cessa dengan wajah tegang.
“Kurang ajar! Kamu tahu siapa mereka, Ces? Mereka harus diberi pelajaran!” seru Hanung sambil menggebrak meja.
“Maaf, saya nggak tahu, Om. Eyang Putri dan Om Hanung, saya permisi pulang dulu. Moga-moga Lea  baik-baik saja dan besok bisa masuk sekolah,” harap Cessa.
***
PERISTIWA malam itu membuat Lea mengubah gaya berpakaiannya. Semua tanktop, celana super pendek, dan rok mini disingkirkannya dari dalam lemari bajunya. Dengan berat hati, gadis itu menyetujui komentar pamannya tempo hari. Namun untuk hal-hal lain, mereka tetap kerap tak sependapat. Hanung bahkan makin tak bisa memahami jalan pikiran Lea ketika sudah menjadi anak SMA, sementara dia sendiri mulai kuliah.
Waktu itu tepat malam Minggu. Sudah lebih dari jam sepuluh malam, Lea masih sudi menerima kedatangan seorang teman laki-lakinya. Dan ternyata lebih dari sejam kemudian, mereka masih bercakap berdua di teras rumah. Setahu Hanung, lelaki itu bukan yang menyukai Lea, mungkin ia tengah curhat semata pada keponakannya. Tapi apakah esok sudah tak bakal hadir lagi, sehingga mereka mesti bicara tanpa peduli waktu telah larut malam? Begitulah pikiran Hanung.
Menjelang jam dua belas malam, penghuni rumah lainnya sudah terlelap, termasuk ibu Lea. Ingin sekali sebenarnya Hanung mengingatkan gadis itu supaya ingat waktu dan menyudahi dialognya, namun dia khawatir bakal murka jika sempat bicara. Maka Hanung memilih melakukan sesuatu tanpa kata, yang diharapkannya bisa menjadi peringatan bagi Lea. Dia mematikan lampu ruang tamu dan teras rumahnya, lalu masuk kamar, sejenak menunggu sekian menit. Ternyata lantas terdengar suara motor dinyalakan. Pintu rumah ditutup dan terdengar langkah seseorang masuk. Lea pun membuka pintu kamar Hanung.
“Kenapa sih. Om Hanung nggak ngomong aja?” tanya Lea.
“Bosan. Kalau aku bicara, jarang kamu dengar, kan? Oh ya, apa besok sudah tiada waktu lagi buat kalian berdua?” sindir Hanung. Lea hanya diam seraya menutup pintu.
***
HUBUNGAN Lia dan Hanung kembali merenggang ketika ibu Lea memutuskan akan menikah lagi. Gadis itu menentang rencana ibunya. Dia tidak percaya pada calon suami ibunya, seorang duda tua yang kaya harta. Keluarga besar ibunya pun semula kurang sepakat, termasuk Hanung pula. Berhubung lelaki itu pandai mengambil hati calon mertua dan adik iparnya, akhirnya semua setuju.
Hari terus bergulir hingga dua tahun berlalu sejak pernikahan ibu Lea. Sebuah peristiwa besar akhirnya mengubah hubungan Lea dengan Hanung. Pagi itu, ayah tiri Lea memberi kabar mertuanya, ibu Lea mendadak jatuh dan tak sadarkan diri di kamar mandi. Ibu Hanung meminta cucunya agar bersiap-siap menjenguk ibunya. Tapi dia malah tetap santai dan beralasan mau mandi dulu. Ibu Hanung hampir habis kesabarannya melihat ulah cucunya.
“Ya ampun, Lea! Ibu kamu itu sudah tidak sadar, kita diminta cepat ke sana, dan kamu masih mau santai? Terus terang, firasat Eyang Putri tidak seenak ini.”
“Sabar, Bu. Sudahlah Lea, sekali ini turutilah kata Eyangmu,” kata Hanung geregetan juga.
Akhirnya Lea pergi bersama neneknya menuju ke rumah suami ibunya. Ternyata ibu Lea terkena stroke. Sungguh sesuatu yang tak terduga bagi semua yang menyayanginya.
“Sedih banget aku lihatibuku. Tapi aku siap andaikan Tuhan memang menghendaki Ibu kembali pada-Nya,” ujar Lea sambil terisak.
Sejak kakak sulungnya tak sadarkan diir, Hanung memikirkan hubungannya dengan Lea. Dia mencoba memahami sikap keponakannya yang selalu merasa benar, sok pintar, dan sering tak mau dinasihati. Sedari kecil, Lea tak merasakan kasih sayang ayahnya sejak orang tuanya bercerai. Hanya sesekali sang ayah menjenguk anaknya, meski kebutuhan Lea secara materi selalu dipenuhinya. Ketika ibunya menikah lagi, kasih sayang sang ibu barangkali sedikit berkurang karena mereka tak serumah lagi. Hanung berharap Lea bisa berubah setelah ibunya sakit, jadi hubungan mereka menjadi pula. Sejujurnya dia jenuh dengan perseteruan mereka.
***
SETELAH kehilangan ibunda, lambat laun sifat dan sikap Lea mulai berubah. Gadis yang dahulu paling jago ngeyel, kini sudah sering mau mendengarkan kata orang-orang di sekitarnya, termasuk juga Hanung. Memang terkadang masih ada sikap Lea yang membuatnya mangkel, tapi dia lebih sabar menghadapinya kini. Perseteruan tampaknya telah berakhir. []
Luhur Satya Pambudi, lahir di Jakarta, Tinggal di Yogyakarta
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Luhur Satya Pambudi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 8 Maret 2015