pertemuan muara takus – alasan lancang kuning

Karya . Dikliping tanggal 5 Juli 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

pertemuan muara takus

walau aku bukan utusan umar abdul azis
penebar kasih tak pilih-pilih
kau buka suaramu dari masa yang jauh
tak sekedar kampus nalanda
mengirim pesan sampai ke tibet
menyambangi asoka dengan suka cita
apalagi sekedar catatan i-tsing
yang kehilangan bayang di tengah hari
bahkan sampai ke adam
bersabung debar dalam banjir semasa nuh
di swarnadwipa emas berbalut

sebelumnya kau tolak aku sebagai tamu
sebab tak ada yang datang kecuali pergi
makanya kau sebut aku hanya kembali
bagai datuk sibijaya
disalahtafsirkan menjadi sriwijaya
laksana syailendra mendekap jawa
menanam borobudur dalam ukur
seperti dapunta membuka palembang
di melaka sekedar istirahat
bergeser ke riau mematut-matut
menaut indonesia dalam satu tuntut
dan malaysia dan singapura dan brunei
berturut-turut

pada titik nol koma dua derajat
engkau mengaku belum sampai kepada sepi
meski candi-candimu
yang tak diserupai di lain tempat
telah bersemedi sebelum sumatera
memangku sunyi dari setiap janji
bersamaan dengan kapal-kapal niaga
yang menjauh dengan tabik diri
seketika sungai-sungaimu mengatup
dibalut kayu-kayan berkawan-kawan
ke dalam kenangan
membuat sempadan dengan sepadan

sempat kau rindukan putri indra dunia
walau ke tanah hindi ia tak kembali
seketika dara petak dan jingga terbayang di jawa
pun saat gajah mada tak jadi pulang ke matangkari
bersambut dengan kepergian hang tuah entah ke mana
sehingga rindu adalah kata lain dari kehilangan
sampai-sampai menyebutnya saja
tak lebih dari sekedar runsing
yang bersepadan dengan khayalan
hampir selayang di samping bimbang

lalu tak satu pun kau jawab pertanyaanku
sebab setiap pertanyaan adalah jawaban
terbenam dalam kisah
tanpa waktu tanpa ruang
seperti ingatanmu yang terus terpuruk
ke dalam tanah

Catatan: Muara Takus/Motakui/Matangkari, Riau – diperkirakan salah satu pusat Kerajaan Sriwijaya dengan berbagai peninggalan fisik yang memadai, misalnya gugusan candi Hindu-Buddha tertua di Sumatera – ditemukan pada 1800-an. Aktif berhubungan dengan Umar Abdul Azis, khalifah Islam ternama abad ke-8.

alasan lancang kuning

lancang kuning ini
memang diperlayarkan malam hari
agar engkau tahu
betapa mudah pada siang
ketika terang terbentang
semua benda dapat dipandang
gelombang dan semua penghadang
begitu senang membuat bayang
sampai di matamu begitu laju
melebihi kekencangan angin
ditambah berlipat kecepatan cahaya

lancang kuning ini
memang diperlayarkan malam hari
ketika hari-hari tersimpan dalam rahasia
hitam warnanya tambahkan misteri
dikebat ragu dari segala penjuru
sedangkan ancaman adalah jiwanya
diperbudak takut pada kemudi
dengan risau yang memagut haluan
yang kesemuanya harus kau layani
tidak dengan mata telanjang
apalagi hanya dengan sekilas sadar
tapi dengan kewaspadaan seluruh indera
dalam satu dayung sekali sentak
menyentap layar dengan segenap kuat
agar dapat berdepan dengan tujuan
melempar jangkar di tempat pilihan
yang telah lama menunggu
dengan rindu tertahan-tahan

ke laut dalamlah tujuan terhala
sebab di dengkat yang bersaudara dangkal
engkau tak akan pernah bisa berenang
tapi dalam pun bukanlah perkara jarak
makanya saat engkau harus menyelam
engkau sebenarnya masuk ke dalam diri
yang ternyata lebih luas dari samudera
kemudian akan begitu mudah kau sadari
bagaimana nakhoda bukanlah kesempatan
untuk membaca angin dari arah tertentu
tapi petunjuk membenahi kemudi
menyabarkan jangkar di tengah badai
kelasi dan semua yang bernyawa
menambatkan tali di tanganmu yang tak dua
sebagai tanda penyerahan segala tiba
hampir seperti nasib kepada takdir

lancang kuning ini
memang diperlayarkan malam hari
agar wajah senantiasa menengadah ke atas
menemukan bintang yang menghalakan arah
dari tempat allah turun ke langit dunia
di malam bungsu menjelang fajar
dengan kemahabesaran yang tunggal
menebar berkah ke semua arah
sehingga engkau paham
hidup di dunia hanya tak bisa dilupakan

akhirnya jelaslah seperti didendangkan orang
lancang kuning berlayar malam
haluan menuju ke laut dalam
kalau nakhoda kurang paham
alamat kapal akan tenggelam

Catatan: Diangkat dari lagu rakyat Melayu-Riau, “Lancang Kuning”.

Taufik Ikram Jamil menulis puisi dan fiksi, menetap di Pekanbaru, Riau. Buku puisinya adalah tersebab haku melayu (1995) dan tersebab aku melayu (2010).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Taufik Ikram Jamil
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” pada 5 Juli 2015