Pertunjukan Monolog

Karya . Dikliping tanggal 29 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

Aku meninggalkan rumah menjelang Isya. Jalanan sangat ramai dan sesak, padahal bukan akhir pekan. Dari dua arah berlawanan, yang ditandai oleh garis putus-putus warna putih, kendaraan bergerak seperti kura-kura berlari di atas pasir. Aku benci kondisi jalanan yang seperti ini. Namun, demi menyaksikan Nor Agus, penyair terkenal yang kukagumi, membacakan puisinya selepas pertunjukan monolog, aku rela menembus sesak kendaraan dan segesit mungkin mencari ruang untuk menyalip.

Sebenarnya, tidak butuh waktu lama untuk sampai di lokasi pertunjukan. Tetapi karena macet, penyakit yang kerap menjangkiti kota ini, aku butuh waktu setengah jam untuk sampai. Acara pertunjukan diletakkan di halaman depan Gedung Kebudayaan, di bawah tenda yang dipasang khusus dan sementara. Pertunjukan sengaja diletakkan di luar karena ruang utama gedung digunakan untuk pameran buku.

Aku duduk di teras depan Gedung Kebudayaan, tidak jauh dari pintu utama. Seorang perempuan bertubuh ramping mengenakan ID card yang digantungkan di leher berdiri di depan pintu utama. Seorang perempuan lain, bertubuh gempal, mengenakan kaus warna putih, mondar-mandir menyiapkan acara pertunjukan yang sebentar lagi akan dimulai. Gedung Kebudayaan, seperti namanya, adalah sebentuk bangunan tradisional dengan kontur pagar menyerupai bangunan kerajaan-kerajaan masa lampau.

Di depan panggung pertunjukan disediakan kursi, tapi aku memutuskan untuk tidak duduk di sana. Terlalu dekat. Aku memilih duduk di belakang karena dari sana aku bisa memperhatikan gerak-gerik setiap pengunjung yang datang, apakah mereka datang karena benar-benar ingin menonton pertunjukan monolog atau hanya ingin menghindari sepi dan kejenuhan-kejenuhan.

“Sudah tadi?” Seorang kawan lama duduk di sebelahku, lalu menawariku air mineral yang sudah tinggal setengah botol.

“Lumayan.”

“Kau tahu siapa yang akan menampilkan pertunjukan monolog?”

Aku menggeleng. “Pemain teater?”

“Gomblo. Tokoh teater lokal yang terkenal. Kau tahu?”

Aku menggeleng. Namanya saja aku baru dengar sekarang. Aku tidak tahu bagaimana sebenarnya tokoh teater bernama Gomblo itu. Aku menebak, mungkin dia seperti kebanyakan anak teater yang tak sengaja kulihat di Kafe Pustaka, mengenakan kaus oblong warna hitam atau putih dengan sedikit kata-kata di bagian dada atau punggung, mengenakan flat cap dan atribut lain seperti tas samping terbuat dari kain.

Acara dimulai dengan penampilan tari yang dilakukan beberapa anggota sebuah kelompok teater dari Surabaya. Seusai pertunjukan tari seorang pembawa acara naik ke atas panggung, berbasa-basi sebentar, lalu memanggil nama Gomblo untuk mementaskan monolog yang sudah ditunggu-tunggu.

Aku berdiri sebentar, lalu duduk kembali menopang dagu. Orang-orang yang tidak kebagian kursi berdiri. Seorang laki-laki bertubuh pendek menjulurkan kepala dari balik punggung seseorang yang ada di depannya. Dalam monolognya Gomblo melontarkan kata-kata yang seolah mengolok-olok dirinya sendiri. Katanya, sastrawan tak bisa berbuat banyak tanpa bantuan penerbit. Dan tanpa pembaca yang ingin menikmati sastra, takkan ada penerbit yang mau menerbitkan buku-buku puisi. Padahal puisi, katanya lagi dengan penekanan suara tajam dan dalam, selalu mengajarkan kita untuk tidak bunuh diri.

Sambil menyimak bahasa satire Gomblo aku memperhatikan wajah orang-orang yang berdiri menghadap panggung. Perhatian mereka tersedot begitu dalam. Lalu, di tengah kerumunan itu pandanganku terbentur pada seorang perempuan berkerudung biru mengenakan jaket putih motif bunga. Dia berdiri mendekap tubuhnya sendiri. Wajahnya memantulkan cahaya-cahaya yang datang dari panggung. Aku tidak mengenal perempuan itu. Tapi pada bentuk wajah, garis bibir, dan matanya yang serupa ekor kelinci aku merasa sedang melihat seorang perempuan yang sangat kukenal, seorang perempuan yang diam-diam kuperhatikan selalu duduk di dekat jendela.

“Sendirian?” tanyaku sok akrab.

Dia menoleh sebentar. “O, ya. Sendiri. Kau?”

“Seperti yang kau lihat. Suka pertunjukan monolog?”

“Dulu. Sekarang tidak begitu. Kau?”

“Aku ke sini hanya ingin melihat Nor Agus membaca puisi.”

“Nor Agus? Penyair dan cerpenis itu?”

“Dia juga seorang sutradara. Pertunjukan-pertunjukan teater garapannya selalu penuh penonton dan dinikmati artis-artis terkenal.”

Pertunjukan MonologDia diam. Aku menerka, kalau dulu dia memang penyuka teater, seharusnya dia mampu meraba maksud kata-kataku. Tapi karena dia tidak memberikan tanggapan, konsentrasiku kembali pada Gomblo yang kini duduk di kursi, menulis menggunakan mesin ketik, yang mengeluarkan suara-suara keras saat huruf-hurufnya ditekan. Dua perempuan, yang bertindak sebagai tokoh figuran dan sengaja tampil dengan ekspresi wajah dungu, duduk di lantai dengan rambut keriting yang dibiarkan terurai tak beraturan.

Para penonton sangat serius menghunjamkan tatapan ke panggung. Apakah mereka benar-benar menikmati pertunjukan atau sekadar mencairkan kebekuan-kebekuan setelah seharian mendekap di dalam kantor, aku tidak tahu. Penonton yang berdiri di sisi kanan semakin merangsek maju saat Gomblo berhenti mengetik, turun dari panggung, mondar-mandir memelototi penonton seraya berkelakar tentang nasib tak beruntung yang kerap menerpa para pekerja sastra.

“Mau?” Perempuan itu menawarkan roti yang masih terbungkus plastik.

“Terima kasih.” Aku menatap wajahnya.

“Wajahmu mengingatkanku pada seseorang.”

“O, ya?” Dia menoleh. Matanya mengabarkan bahwa dia tidak percaya dengan apa yang kukatakan. “Wajahku memang pasaran.”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Aku tahu. Maksudku, di dunia, kadang, manusia yang satu dengan yang lain memiliki kemiripan wajah. Hanya satu yang membedakan, sidik jari. Jadi, wajar kalau kau merasa melihat seseorang pada diriku.”

“Kau sangat mirip.”

“Kita tidak bisa menggeneralisir semua hal hanya dari tampilan fisik yang sampai pada mata. Indra bisa menipu. Sendok yang dimasukkan ke dalam gelas berisi air bisa kelihatan bengkok, padahal tidak. Wajah lebam atau benjol belum tentu habis dianiaya. Boleh jadi baru selesai operasi wajah.”

Aku terkekeh. Ingatanku langsung meloncat pada seorang perempuan yang diberitakan telah dianiaya hanya karena wajahnya lebam-lebam, padahal setelah ditelisik, menurut pengakuannya, ternyata baru selesai operasi plastik. “Nyatanya,” kataku sambil melirik bentuk matanya yang indah, “kita lebih sering tertipu oleh apa yang sampai pada mata. Aku setuju denganmu. Apa yang terlihat tidak selalu seperti itu.”

“Indra bisa menipu, tapi akal tidak.”

“Tunggu, tunggu, tunggu…” Aku memotong kata-katanya. “Jika semua orang berpikir seperti itu maka tidak akan ada orang yang percaya pada indra. Manusia akan berbondong-bondong menuhankan akal. Apa yang tidak sesuai dengan akal akan diragukan kebenarannya.”

“Indra dan akal hanya alat untuk memastikan kebenaran. Apakah benar laut berwarna biru? Jangan-jangan warna laut itu bukan yang sebenarnya. Yang sebenarnya, barangkali, adalah pantulan warna langit.”

Aku mengangguk-angguk. Kami kembali menikmati pertunjukan. Kupikir akan segera selesai, tapi ternyata tidak. Anehnya, pikiranku tidak bisa lepas dari perempuan itu. Selain memiliki wajah cantik dan penge tahuan luas, dia juga cukup mudah diajak berdiskusi, meskipun sebenarnya aku tidak terlalu suka berdiskusi. Semakin memikirkannya pikiranku melambung semakin jauh. Terutama tentang seorang perempuan yang selalu duduk di dekat jendela dan kulihat bersemayam dalam dirinya.

“Kau masih berpikir bahwa aku mengingatkanmu pada seseorang?” Dia menoleh, memastikan aku mendengar kata-katanya, lalu memalingkan wajah ke panggung.

Aku tidak bisa untuk bilang tidak. “Bukan hanya mengingatkan, tapi kau mirip sekali dengannya.”

“Sudah kubilang, wajahku pasaran. Yang memiliki bentuk wajah sepertiku pasti banyak, tidak hanya aku.”

Apakah wajah cantik juga pasaran? Tapi aku yakin, kataku padanya, setiap orang yang datang ke kehidupan kita, entah hanya sekejap atau lama, baik yang secara sengaja atau tidak, pasti memiliki alasan-alasan, termasuk kau.

Dia hanya menyunggingkan senyum. Kuperhatikan penonton di dekat tiang tenda. Seorang perempuan mengenakan celana kain, mungkin seorang guru atau seorang karyawan sebuah kantor pemerintahan, sedang menahan anaknya yang berambut keriting, kira-kira berusia enam tahun, untuk tidak pergi kelayapan di sela-sela kerumunan penonton. Anak itu tetap memaksa. Akhirnya, perempuan berwajah lembut itu membiarkan anaknya lari-lari memutari area pertunjukan yang tidak terlalu besar. Pertunjukan masih terus berlangsung. Cahaya lampu yang ada di atas panggung seolah memisahkan kami sebagai penonton dengan Gomblo sebagai sebuah dunia yang sedang kami tonton. Ibarat sebuah film di bioskop, pertunjukan yang ditampilkan Gomblo adalah adegan-adegan yang ditampilkan pada sebuah layar melalui suatu sistem yang sudah dirancang khusus, sementara kami merasa seolah berada di dunia yang lain, dunia penonton. Padahal, antara kami dan Gomblo di atas panggung hanya terpisah oleh jarak kira-kira dua meter.

Setelah hampir satu jam berlangsung Gomblo mengakhiri pementasannya dengan menundukkan kepala seraya diikuti gemuruh tepuk tangan penonton. Pembawa acara naik lagi ke atas panggung dan meminta dua penonton maju ke depan, meminta pendapat mereka tentang pertunjukan tadi.

Aku mengajak perempuan itu menjauh dari ingar-bingar panggung. Aku mengambil dua botol teh dingin dan membayar semuanya dengan uang 50 ribu. Seraya memberikan satu botol kepada perempuan itu aku menyebutkan namaku, dia juga.

“Bagaimana penilaianmu terhadap pertunjukan tadi?” tanyaku tidak ingin kehilangan kesempatan mengobrol dengannya.

“Jujur, aku tidak terlalu menikmatinya.” Dia kelihatan agak kaku. “Maksudku, aku tidak bisa menilainya secara objektif.”

“Kau terlihat tegang.”

Dia meminum teh botol beberapa tegukan. “Laki-laki yang tadi mementaskan monolog adalah mantan suamiku. Dulu kami sama-sama bergabung dalam satu kelompok teater.”

Aku menelan ludah.

“Saat masih bersama-sama kami kerap bertengkar dan itu dipicu oleh kebutuhan-kebutuhan keluarga. Dua tahun yang lalu kami memutuskan bercerai. Kadang, masalah ekonomi menjadi sebab bercerainya sepasang suami-istri.”

Kami terus berbincang hingga sebuah mobil datang menjemputnya. Sepeninggal perempuan itu aku kembali ke depan panggung, duduk menopang dagu, menunggu Nor Agus membacakan puisinya.

Malang, 2018

Latif Fianto lahir di Sumenep. Cerpennya, “Kota Agats”, juara 3 Festival Sastra Islam Nasional, FLP Makasar, 2015. “Perempuan yang Berdiri Sepanjang Waktu” masuk sepuluh pemenang Lomba Cerpen Kisah-Kisah Kota Lama Semarang, 2016. Novel pertamanya Batas Sepasang Kekasih (Basabasi, 2018).


[1]Disalin dari karya Latif Fianto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu 28 Oktober 2018