Perubahan

Karya . Dikliping tanggal 5 Januari 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
HARI berganti. Waktu demi waktu telah berubah. Ada perubahan dari Mas Rahmat. Selepas kejadian yang menimpanya setahun lalu, mengubah hidupnya.
Entah harus bagaimana? Biasanya Mas Rahmat yang selalu pertama kali bangun Subuh, sekadar mengingatkan kami salat, kini tidak lagi. Jika dulu ia selalu mengajari adik-adiknya mengaji, bahkan setelah salat Subuh ia selalu melantunkan ayat-ayat suci, kini sudah tak ada lagi. Mas Rahmat sekarang bukan lagi Mas rahmat yang dulu.
Aku turut berduka selepeas mendengar ceritanya yang pilu. Tapi bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Asih, tunangannya yang sebulan lagi akan dinikahi telah mengkhianati, lantaran kakakku kurang kaya dari selingkuhannya. Aku tak habis pikir, segitu teganya perempuan mempermainkan perasaan kakakku. Kini, Mas Rahmat sering melamun sendirian. Ia menjadi sering tak berdaya dan hilang harapan. Hampir sisa waktunya ia pergunakan untuk mabuk-mabuk. Pulang pagi, bermain perempuan, berfoya-foya dan meninggalkan kewajiban sebagai umat muslim.
Bila aku dapat mencegahnya, akan aku lakukan itu. Sekadar mengingatkan, ia masih punya adik-adik yang selalu menyayangi. Namun tiap kali kuajak bicara, ia selalu membentak, dan berteriak seperti orang kesurupan. Aku sering tak kuasa menahan tangis melihat kakakku yang begitu kasar. Selain kakakku siapa lagi harapanku. Ia orang tertua di rumah saat ini.
Ia selalu berteriak setiap pagi. “Dartiii! Dartiii! Mana sarapannya?”
Aku terpaksa, sebelum berangkat ke sekolah, harus menyiapkan sarapan pagi untuk kakak laki-lakiku satu-satunya. Tak masalah membentakku asal ia mau makan. Aku selalu berdoa, kakakku bisa melewati masa sulit ini.
“Kau jangan suka terlambat ya, menyiapkan sarapan ini! Aku sudah lapar! Mana?”
Nada bicara seperti orang yang habis mabuk. Aku sedikit gemetaran menuangkan nasi di atas piringnya dan kuberikan satu lauk ikan tengiri di atasnya.
“Cepat! Lama sekali kau! Aku sudah lapar!” Piringnya ia sahut dengan kasar.
“Kak, mau sampai kapan Kakak akan seperti ini?” celetukku tak tahan lagi.
“Sampai Asih bertekuk lutut dan meminta maaf kepadaku!”
“Tapi… mau sampai kapan? Sampai kiamat pun Kak Asih tak meminta maaf, apalagi melihat Kakak seperti ini, aku yakin Kak Asih nggak akan mau menemui Kakak.”
Air mataku pun menetes sebutir.
“Aku tak menyangka, ternyata selama ini Kakak hanyalah orang kalah yang tak berguna ya. Untuk apa kakak masih mengharapkan Kak Asih yang jelas-jelas tidak memilih Kakak?” tambahku.
“Tutup mulutmu!”
Bentakan itu membuat tangisku semakin deras.
“Kamu pikir, aku tidak sakit hati setelah dia menerima cintaku, lalu aku lamar dan dia pergi dengan lelaki lain. Aku sekarang mau tanya…. kamu baru umur berapa ha? Baru seumur jagung saja sudah menasihati soal cinta. Tahu apa kamu soal cinta. Haaaaa?”
“Tapi kakak keterlaluan! Apa yang salah dengan cinta? Kakak saja yang terlalu bodoh, bahkan merusak diri Kakak sendiri dan menyalahkan soal cinta? Haaaa? Kalau begini caranya, dari dulu aku mau pergi saja… dan meninggalkan Kakak. Aku muak!” Kali ini tangisku semakin deras. Aku tak tahan, lalu seketika tas ranselku kuambil dan pergi ke sekolah.
Seharusnya aku tak berbicara seperti itu di depan kakakku. Tapi apa daya, aku tak tahan. Melihat kakak yang menjadi-jadi, Mila dan Syilfa, adik perempuanku, hanya melihatku tak berdaya beradu mulut dengan kakak lelakiku. Mereka berdua kuajak sama-sama berangkat sekolah.
***
HARI berganti. Waktu tak akan bisa kuputar kembali. Smeinggu lagi Kak Asih akan menikah dengan lelaki pilihannya, yang jelas bukan kakakku. Mendengar berita itu, kakak semakin menjadi-jadi. Ia sering keluar rumah dan tidak pulang. Entah apa yang ia lakukan di luar sana. Kalau pun pulang selalu dalam keadaan mabuk. Berkali-kali ia selalu menyalahkan bahwa dunia ini tidak adil. Ia selalu berteriak protes menyalahkan kehendak Tuhan. Aku semakin prihatin.
Pagi ini kakak tak pulang lagi. Entah kenapa kali ini ketidakpulangan kakak membuatku khawatir. Hari-hari sebelumnya memang sudah biasa kakak tak pulang. Namun setelah mendengar Kak Asih akan menikah, kakak semakin menjadi-jadi. Aku cemas. Dengan muka sayu aku siapkan sarapan untuk adik-adik, tanpa ada kakak yang membentak-bentak.
Tiba-tiba pintu rumah ada yang mengetuk. Ternyata Bik Surti tetangga samping rumah. Mengabarkan, Kak Rahmat berkelahi dengan seseorang tadi malam, dan kini di rumah sakit.
Aku bergegas keluar rumah, bolos sekolah, pergi ke rumah sakit diantar Bik Surti. Aku sempat berpikir berutang budi dengan Bik Surti, tapi beliau bilang kita semua seperti anaknya sendiri. Beliau janda tua yang sudah tak memiliki siapa-siapa lagi. Hanya kami yang beliau anggap keluarga.
Kak Rahmat terpuruk tak berdaya di atas ranjang. Mukanya membiru, kepalanya berbalut perban. Dokter bilang, kepalanya terbentur. Kak Rahmat dalam kondisi kritis dan koma.
Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki seumuran kakakku datang. Mukanya memar seperti bekas tonjokan. Ia mengantarkan secarik surat ditujukan pada kakakku. Ia bilang surat itu dari Asih. Kuterima begitu saja surat itu tanpa berpikir terlalu dalam. Aku hanya bingung menatap lelaki itu. Barkah, itulah nama yang ia sebutkan. “Maaf, selama ini aku hadir di tengah kehidupan kalian,” celetuk lelaki itu.
Aku tak mengerti. Ia ternyata mengaku sebagai tunangannya Kak Asih.
Aku sempat kesal. Tapi ia tak seburuk apa yang aku pikirkan. Berkali-kali ia meminta maaf dan memintaku memberikan surat ini pada kakakku ketika sadar. Begitu aku terima suratnya, ia hanya pamit begitu saja. Kubuka suratnya hanya ingin menjawab rasa penasaranku, berisi;
“Maaf telah meninggalkanmu tanpa alasan. Aku tak jujur, tapi semua itu kulakukan hanya untuk kebaikan. Hidupku tak lama lagi setelah divonis dokter terkena penyakit jantung. Maaf aku telah berbohong. Kupikih Barkah sebagai lelakiku karena aku tak punya pilihan lain selain membahagiakan orangtuaku. Di sisa waktu ini aku ingin melihat orangtuaku bahagia, jadi maaf. Sudah cukup untuk merusak dirimu. Ingatlah kehidupanmu masih panjang!”

Airmataku hanya bisa meleleh, tak sanggup mendengar kenyataan yang sebenarnya terjadi. Ternyata perubahan Mas Rahmat menjadi lebih buruk adalah kesia-siaan belaka.
Nurul Hidayati Yunaida. Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nurul Hidayati Yunaida
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 3 Januari 2015