pewarah dan teknologi lisan – badai kembang api sebuah alfabet – teknoteks: kanjeng ratu kidul – blackboard

Karya . Dikliping tanggal 22 Mei 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

pewarah dan teknologi lisan

orang kampung telah berkumpul
mereka akan mendengar dongeng
seorang pewarah tua di kampung mereka
hari bertambah gelap
suara hewan malam mulai terdengar
membuat batas kegelapan antara bahasa dan aksara
pewarah yang ditunggu mulai keluar
membawa kotak sirih
dia duduk bersila
kotak sirih mulai dibuka
gambir dan kapur: sebuah tutur pembuka
selembar sirih dan sejumput tembakau
pinang telah dibelah:
lidah pewarah membuat bahasa jadi rahasia tubuh
dia mulai mengunyahnya
bibirnya menabuh kata-kata
suara hewan malam mulai bercampur suara lain
semakin jelas suara orang berbaris, suara kayuh perahu mayeng
tatapan dan kerlingan dalam kelokan cerita
suara tabuhan cetik dan keroncong lampung
bunyi yang mulai menusuk ke dalam kata
pekikan gajah dan ringkik kuda
sayatan sunyi pada pohon karet, getah putih bau lateks
cerita sudah dimulai melalui turunnya hujan
air sungai mulai naik, batas-batasnya melebar
rawa-rawa mulai menggeliat menggigit air sungai
nelayan mulai memasang lebung
menjebak ikan masuk ke dalam lebung bersama masuknya air
suara serangga bertambah nancap
malam dalam frekuensi yang mengasah bunyi sunyi
menghujam ke dalam bayangan bahasa
seorang perempuan berwarna biji jagung
yang tak terlihat para penonton
datang membawa teh hangat, singkong dengan parutan kelapa
sang pewarah meremas daun sirih
darah keluar dari inti cerita
suara malam seperti layar berganti awan yang lain
paradinei mulai terdengar dalam cahaya bulan
puisi cinta, bau sirih, payung putih dan tapis emas
penonton tak tahu sang pewarah telah sirna
berganti batang pisang yang melanjutkan cerita
di atas kota-kota yang telah hancur dalam waktu
di sebuah rumah tak berpenghuni di bandar dewa
jendela telah lepas, pintu bolong, lantai rumah panggung
miring ke runtuh
bayangan seorang perempuan terus menenun di balik jendela
orang hanya melihatnya sebagai potret keluarga
tenggelam dalam kertas mengabur
suara tenun kayunya terus menggema
melewati seretan waktu yang cemas
mencari oksigen dalam aksara kaganga
dalam tujuh butir telur naga yang menyimpan marga-marga
dalam kamar berkelambu merah jambu
sang pewarah terbaring, sendiri
tubuhnya berlumuran cerita
catatlah alamatku, katanya:
aku tinggal dalam bahasa lampung

badai kembang api sebuah alfabet

untuk Rati Saxena

sebuah alfabet baru saja diciptakan
di kuil attukal bhagawathi. hari masih pagi
ketika dia belum bisa mengucap huruf awal: … sebuah pagi
air kelapa mengalir dalam huruf-hurufnya
mereka, alfabet dari bangkai burung gagak itu
mulai berkicau agar bahasa berwarna biru
bajai menabraknya, kereta api menabraknya
bis menabraknya, sebuah pagi menggilasnya
– tanpa huruf awal
badai klakson kota trivandrum dan runtuhan mantra
setiap suku kata – angin yang langka
bau bumbu yang megah di pasar chalai
aksara penuh luka dimandikan di rumah mahakavi
kumaran asan smarakam
alfabet baru bisa menciptakan sebuah pagi
dengan torehan kapur putih di keningnya
dia bernyanyi – hanya bernyanyi
sebuah bahasa inggris menabraknya
semua bahasa inggris menabraknya
seluruh bahasa inggris menabraknya
sebuah pagi … gelombang transcoding pasar dunia
individu … individu … kembang api yang padam
bubur beras, tetes tebu coklat manis,
parutan kelapa, kacang-kacangan, kismis
s-u-s-u dengan huruf-huruf italic
matahari mendidih di atas bendera partai komunis india
(alfabet) dengan baju sari bersulam emas
bersama jutaan perempuan kerala – memasak kota
untuk dewi attukal amma (tombol buah dada pada altar)
alfabet yang digunakan hanya untuk bernyanyi
dan malam: badai kembang api (dalam puisi)
pada urat nadi tangan kirimu (yang marah)
aku lihat ada bekas luka
– dalam huruf tebal
yang diam

teknoteks: kanjeng ratu kidul

untuk jawa, ratu
<untuk jawa>
dan kembali lagi
apa yang belum aku tanam untuk lukamu?
garis lurus walisongo
raffles – voc – dai nippon
menatap jawa seperti lampu baca di atas meja berair
sebuah bahasa merembes – melebar
– mendalam. membuat dua bayangan tangga laut
tinggi …………… [.] …………………….jatuh
etimologi ajisaka dalam buku tulis kematian
bau parem beras kencur dalam memar kecantikan
perempuan abadi dan lelaki mati
telah aku tanam kuku, rambut dan kesunyianku
di petilasan parangkusumo, batu cinta dan pasir dupa
partikel-partikel abu vulkanik merapi, kelabu berkilau
aku ulurkan tanganku:
perempuan yang berumah dalam bayangannya sendiri
kembang setaman
bau menyan menyusup ke dalam kata
kain batik dan cermin di bantal hijau –
untukmu, ratu:
bayangan pantai di batas lupa dan gila
ombak tujuh lantai
balok kyai tunggulwulung dari tapa senopati
untuk jawa, ratu. “untuk luka”
batas memar antara keyakinan dan kepercayaan
dalam dan luar <.>
keraton abadi dalam runtuhan aksara jawa
aku tinggalkan tubuhku
dalam kain dodot hijaumu – bau birahi melati
paha kemilau penuh lampu neon <tombol cancel>
sembilan penari bedhoyo menatap ke bawah…
untuk jawa, ratu
<<untuk lukamu>>
dan kembali lagi.

blackboard

(blackboard dipakai buat nulis apapun, ngajari manusia dari kecil sampai tua. kemudian tulisan itu dihapus lagi. dan gue, si pikiran memar, nggak pernah bisa nulis tentang blackboard.)
kebohongan
kebohongan
kebohongan
kebo
kebo
hongan
hongan
(gue pernah lihat karya instalasi joseph beuys, dia menghamparkan begitu saja puluhan blackboard di lantai, dalam galeri nasional berlin. karya itu mencekam, seperti makam tua dunia tulisan. “mampus, luh.”)
kebohongan
kebohongan
keb
keb
o
h
o
n
g
a
n
(pagi ini gue begitu kangen dengan blackboard. ngebayangin debu kapur tulis berjatuhan ketika tulisan di blackboard mulai dihapus, sebagian debu kapur tulis itu terbang tertiup angin. sama kangennya gue dengan mesin tik, terutama saat kertas terakhir habis diketik dan lepas dari rolnya, sementara tulisan belum kelar. saat itu gue merasa tulisan adalah nyawa yang terus mencari tubuhnya. kadang tubuh yang dibutuhkannya bukanlah blackboard atau mesin tik, melainkan penghapus.)
kebohongan
kebo
kebo
h
on
gan
Afrizal Malna, Lahir di Jakarta, 7 Juni 1957. Berlin Proposal (2015) adalah Buku Puisinya yang terbaru. 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Afrizal Malna
[2] Pernah tersiar di surat kabar “KOMPAS” edisi Sabtu 21 Mei 2016
Beri Nilai-Bintang!