Piano – Requiem

Karya . Dikliping tanggal 8 Mei 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Piano

Malam menggeser jarum jam ke angka 21
jemari rampingmu kembali mainkan Bach
dan aroma kematian menyergap ruang tamu
angin musim semi seakan terhenti seperti layar televisi.
Di luar mulai terdengar kepak gagak,
teriak seorang anak, derap sepatu serdadu
di antara pohon jambu dan jendela bulan beku
dalam dingin pandangiku.
“Fugue, katamu, mengingatkanku pada Celan
yang mencipta puisi dengan tinta kematian”
tapi, tak ada Yahudi  yang rambutnya terbakar lidah api
hanya keringat panas menetes dari pori-pori
dan kenangan dari abad-abad silam
menjelma rumpun berduri di ingatan yang muram.
2016

Requiem

Di taman ini, kubiarkan kenangan
bersenandung merdu di antara langit senja
dan dinding-dinding kusam Isola.
Kubiarkan segala angan-angan
yang membayangiku saban hari
bersemi lalu gugur kembali
seperti kembang melati
di antara pepohonan dan perempuan Bareti
Meski jantungku membiru
tak berdegup lagi
Meski kata-kataku
yang purba tak lagi diketahui.
Lalu kubiarkan bayang kematian
yang lembut keemasan
mencapai sepaang mataku
dan purnama di sepasang matamu
akan terus memancar
menerangi sepanjang jalan kematianku
juga lavender tubuhmu
menjadi wewangian bagi kuburku.
2015


Dedi Sahara, bergiat di Arena Studi Apresiasi Sastra, UPI.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dedi Sahara
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 8 Mei 2016