Pinsil Usil

Karya . Dikliping tanggal 3 September 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerpen Lawas, Majalah, Majalah Bobo
EKO terlihat panik. Ia kehilangan pinsil barunya. Padahal, sebelum istirahat tadi pinsil itu ada di atas mejanya. Parto tidak merasa meminjam. Juga Akrie. Akibatnya, tangis manja Eko mulai terdengar. 
“Kita harus bantu Eko. Kita patungan untuk belikan dia pinsil baru,” kata Parto pada teman-teman sekelasnya. Ia khawatir tangis Eko meledak.
Semua teman setuju. Mulailah mereka mengumpulkan uang sukarela. Ada yang limapuluh, ada yang seratus, ada pula yang lima ratus. Setelah uang terkumpul, Akrie langsung ke koperasi sekolah. Membelikan pinsil paling bagus yang dijual di situ.
Ternyata uangnya malah lebih. Jumlah yang ada malah bisa beli tiga pinsil sekaligus. Tapi pinsil Eko yang hilang cuma satu. Akhirnya, sisa uang diserahkan pada bendahara kelas.
“Uang ini bisa dibelikan pinsil lagi. Siapa tahu besok ada teman kita yang kehilangan pinsil juga,” kata Ani, sang Bendahara.
Pada hari lain, giliran Akrie yang mengaku kehilangan pinsil. Parto memberitahukan teman-teman yang lain. Mereka setuju jika sisa uang kemarin, dibelikan pinsil lagi untuk Akrie. Setelah dapat ganti, Akrie tersenyum. “Nah, ternyata aku bisa punya pinsil baru juga. Padahal pinsilku kan tidak hilang!”
Parto tahu, Akrie berbohong. Makanya, dia berbisik pada Akrie. Dan Akrie tersenyum mendengar rencana Parto besok.
Keesokan harinya, ketika ruang kelas sedang sepi, tiba-tiba ada kehebohan kecil, “Pinsil saya hilang … pinsil saya hilang. Pinsil Eko hilang, lalu pinsil Akrie, sekarang pinsil saya …,” kata Parto pada teman-temannya. “Karena uang kemarin masih sisa, dibelikan pinsil untuk mengganti pinsil saya saja ya,” kata Parto. Lagi-lagi, anak-anak setuju.
Parto girang bukan main dapat pinsil baru. Dengan cara yang tidak terpuji.
Kejadian itu terdengar juga oleh Bu Nina, guru mereka. Bu Nina memanggil ketiga muridnya, yang dijuluki Patrio kecil. Sebab nama-nama mereka memang persis dengan nama-nama anggota Grup Lawak Patrio.
Bu Nina bertanya tentang pinsil mereka masing-masing.
Pertama Eko yang menjawab, “Pinsil saya memang hilang, Bu. Saya sih tidak minta teman-teman mengganti.”
“Tapi kok nangis?” tanya Akrie.
“Saya memang begitu. Cepat tersentuh. Kalau ada teman yang penghapusnya hilang, saya juga nangis, apalagi yang hilang pinsil saya sendiri.”
“Ibu percaya, kamu jujur, Eko,” kata Bu Nina.
Lalu Bu Nina memandang wajah Akrie dan Parto. Mata mereka sama-sama memancarkan kecemasan. Bu Nina tahu, apa yang harus dilakukannya. Ia menghampiri dan membelai kepala mereka, “Kalian berdua tidak pantas jadi pembohong. Dan memang bukan anak yang suka bohong,” kata Bu Nina.
Dibilang begitu, Parto dan Akrie merasa malu. Keluar dari ruangan Bu Nina, ketiga anak itu terlihat ceria lagi. “Wah, aku malu sama Kak Parto yang Patrio itu, kalau sampai digelari pembohong,” kata Parto.
“Aku juga begitu. Nanti Bang Akrie yang Patrio itu tidak suka padaku, karena aku tidak jujur,” kata Akrie.
“Kalau Mas Eko, pasti senang padaku, soalnya aku jujur,” kata Eko.
Akhirnya Parto dan Akrie mengembalikan pinsil itu pada bendahara kelas. Lalu pinsil tersebut disimpan, siapa tahu besok-besok ada anak yang kehilangan pinsil. Baik hilang sungguhan, maupun hilang karena ada tangan usil.
Tak lupa, Parto dan Akrie meminta maaf pada teman sekelasnya. Di pintu kelas, Bu Nina tersenyum melihat adegan tersebut. “Ah, anak-anak memang begitu. Kadang-kadang manis, kadang usil. Meski cuma perkara pinsil.”
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Saiman Humor
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Majalah Bobo” nomor 50 Tahun XXVII 16 Maret 2000