Pintu Hijau (2)

Karya . Dikliping tanggal 21 Agustus 2016 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
TERLEBIH lagi, mereka para ibu-ibu itu tak ketinggalan membicarakan terkait dengan tidak pulangnya paman selama enam tahun itu, lengkap dengan dugaan-dugaan yang paman lakukan selama menghilang sampai pada sebab kenapa kaki paman.
Mendengar hal semacam itu, aku menjadi tidak nyaman.

Padahal, mereka membicarakan itu hanyalah dugaan omong kosong. Hatiku sangat miris. Tentu Paman Debing menderita dan terguncang batinnya akibat kehilangan kaki itu. Aku merasakan itu dari tingkah laku paman. Jelas aku melihat tidak ada gairah hidup pada diri paman. Apa lagi sejak tahu bahwa orang-orang membicarakan dirinya.

Pada mulanya Paman Debing menganggap hal itu biasa. Entah kenapa perlahan-lahan rasa iba dan rasa kasihan orang terhadap paman berubah menjadi gunjing. Paman jadi pencuri selama menghilang, paman menjadi budak pengelola pelacuran yang karena ketidakbecusan paman sehingga ia dihukum oleh sang majikan dengan cara dipotong kakinya, begitu orang-orang di setiap kali aku bertemu mereka: bergunjing tentang keberadaan Paman Debing.

Sementara paman aku lihat jarang skelai keluar rumah. Untuk beli rokok saja ke warung ia tidak berani. Aku menduganya mungkin karena paman tidak kuat berjalan dengan hanya kekuatan kaki kanan. Menyedihkan sekali. Kalau aku lihat Paman Debing berjalan, ia seperti mau jatuh, hilang keseimbangan. Ditambah lagi dengan kusutnya mukan pamanyang mulai terlihat. Paman sudah tidak lagi mempunyai gairah hidup.

Lama setelah itu, baru aku menyadari bahwa sebab Paman Debing jarang keluar ruadaan kaki kirinya yang palsu itu. Tetapi karena tidak tahan dengan gunjingan orang-orang. Sebenarnya paman mencoba tidak memedulikan itu. Bibi Yuni sendiri, istri paman, mencoba menghibur dan seringkali menemui Paman Debing dengan berbagai gerak-gerik yang diusahakan supaya paman tenang menerima kenyataan. Tak ketinggalan, aku dan keluargaku juga melakukan hal sama dengan apa yang dilakukan Bibi Yuni terhadap paman.

Barulah setahun lebih kemudian, sedikit reda gunjingan orang-orang, para tetangga, orang-orang di pasar, ibu-ibu di sungai dan teman-teman sekolahku. Meskipun begitu, tetap saja kami masih dilanda rasa khawatir.

Tak ayal, kekhawatiran itu bertambah ketika pada suatu malam paman meminta kami sekeluarga untuk berkumpul. Kebetulan berkumpul di beranda rumahku. Kami semua bertanya-tanya dengan kekhawatiran ytang cukup besar (tak biasanya paman mengajak kami berkumpul, apa lagi ajakan paman waktu itu sangat serius, seperti memang ada hal penting). Ternyata paman membuka semuanya.

Ya, pada malam itu juga kami tahu secara apsti sebab musabab kenapa kaki kiri paman mesti seperti itu. Kata paman, ia jatuh dari ketinggian bangunan bertingkat yang ketika itu ia menjadi pekerja menyusun batu bata untuk dinding bangunan itu. Paman jatuh karena secara tiba-tiba ia pusing dan kehilangan daya tahan tubuh dan tenaganya. Akibatnya paman terpelanting dari penyangga di mana ia berada di situ menyusun batu bata.

Setelah dibawa ke rumah sakit oleh rekan-rekan buruh bangunan lainnya dan setelah paman siuman dari pingsan, tiba-tiba ia menemukan kaki kirinya tidak ada, hanya tinggal betisnya saja dengan perban putih belepotan darah. Dokter di rumah sakit itu bilang pada paman bahwa kakinya patah dan mesti diamputasi. Itu saja penjelasan sang dokter, kata paman.

Tahu-tahu percakapan paman berubah pada nasibku di masa depan nanti. Aku memang baru saja merayakan kelulusanku dari sekolah menengah atas ketika itu. Awalnya perbincangan kami ringan-ringan saja, namun entah kenapa di tengah bekas rasa haru dan kesedihan mendengar cerita paman tentang kaki kirinya, paman melontarkan kata-kata yang tidak aku duga. Dan kata-kata itu terarah pada kedua orangtuaku.

“Lin, Alwi, aku ingin mengajak Malina ke kota. Di sana akan aku kuliahkan dia. Dan kamu tidak usah membiayainya. Aku yang akan menanggung semua itu,” kata paman. Matanya terarah lebih kepada ayah. Kami diam tak tahu apa yang harus dikatakan untuk menanggapi perkataan paman. Hening beberapa saat sampai kemudian aku memberanikan diri untuk berkata.

“Aku gembira sekali kalau kuliah. Apalagi di kota,” kataku tanpa beban. “Kota mana, Paman?” tanyaku selanjutnya.

Paman beralih menatapku.

“Kota di mana Paman tinggal selama lebih enam tahun. Di sana kamu juga punya paman. Namanya Yani, adiknya Bibi Yuni, istri Paman.” Paman menjelaskan sambil mengalihkan pandangan yang semula terarah padaku, berganti lagi pada ayah dan ibu.

“Paman punyak banyak tabungan. Dan di sana kamu tidak sendirian, selain Yani, ada banyak teman lainnya. Dan kamu tinggal di asrama bersama mereka.” Tatapan paman kemudian beralih lagi padaku.

Bibi Yuni menyela.

“Iya. Bahkan Yani tidak mau pulang karena betah di sana,” kata Bibi.

“”Aku ingin menghadiahkan jerih payahku sampai harus kehilangan kaki kiri untuk ponakanku. AKu tidak punya keturunan,” kata paman selanjutnya.

Namun sepertinya kata-kata itu tidak tertuju pada siapapun. Kepala paman menunduk.

“Kok Bibi dan Paman tidak pernah cerita kalai Yani kuliah?” tanyaku.

Yani pernah datang ke rumah saat paman menikah, saat aku kelas enam sekolah dasar. Yani mungkin lebuh tua dua tahunan dariku.

“Sebelumnya, mungkin dua tahun yang lalu Paman pulang, tapi tak sempat pulang ke sini. Pulang ke rumah mertua Paman menjemput Yani. Paman sungguh buru-buru ketia itu. Selain paman tidak libur kerja, pendaftaran kuliah Yani akan segera ditutup. Paman yang membiayai hidup Yani sampai sekarang,” jawab paman.

“Iya, Pamanmu memang pernah pulang dua tahun lalu tapi tidak sempat pulang ke sini. Bibi saja tahu setelah Pamanmu di sini setahun yang lalu,” kata Bibi Yuni.

“Kami sangat mengkhawatirkanmu, Paman. Bahkan kami menduga Paman meninggal akibat kerusuhan dan pembantaian beberapa tahun lalu itu. Kenapa tidak pulang ke sini walaupun sebentar?!” kataku, mendesak paman.

“Maunya Paman begitu, Mal. Tapi waktulah yang tidak mengizinkan Paman. Maafkanlah Paman,” jawab paman.

“Sudahlah, Mal. Pamanmu jangan didesak begitu. Toh sekarang Paman sudah di sini,” kata Bibi Yuni.

“Debing, kalau aku terserah Malina. Kalau Malina memang mau kuliah, bagi kami memang tidak masalah.” Ayahku angkat bicara.   (bersambung)-c


Rachem Siyaeza: lahir di Pajagungan, 2 September 1988, sebuah kampung kecil di ujung timur Pulau Madura, Kuliah di  Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga tahun 2007 dan lulus 2015. Beberapa tulisannya termaktub dalam bunga rampai kumpulan ceriat pendek Jalan Menikung ke Bukit Timah (2009), Tiga Peluru (Kummpulan Cerpen Pilihan Minggu Pagi Yogyakarta 2010, editor Latief Noor Rochmand) Riwayat Langgar (2011), Love Autumn (2012). Bermukim di Yogyakarta. 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rachem Siyaeza
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi 21 Agustus 2016

Beri Nilai-Bintang!