Pintu Hijau (4)

Karya . Dikliping tanggal 5 September 2016 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
AKU datang lagi ke rumah kakek sebagaimana yang diminta kakek pada malam sebelumnya. Masih dengan mengendarai mobil dinas ayah.
Di dalam kamar, aku menunggu kakek berbicara dan nantinya aku berniat akan bertanya tentang catatan kemarin malam yang telah kubacakan itu.
”Catatan itu telah kusimpan sejak lama, Nak.“ Kakek angkat bicara tanpa aku tanya.
Kakek duduk di ranjang. Masih ada satu kursi kosong di situ. Mata Kakek dipenuhi air mata yang ditahan. Aku heran dengan keadaan itu.
”Aku sungguh ingin menyelamatkan Malina dari tempat itu, Nak,” kata kakek.
”Apa yang terjadi pada Malina, Kek?” tanyaku.
”Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi. Tapi, kata Fatimah, teman Malina di tempat itu, yang aku temui untuk menerima kiriman surat dari Malina, Malina dipekerjakan secara tidak manusiawi. Malina, tanpa diberi waktu istirahat dan makanan yang cukup, serta obat-obatan yang cukup untuk menunjang pekerjaannya, dipaksa untuk terus-menerus bekerja siang malam dan entah berapa puluh lelaki yang ia layani setiap hari dan malam. Sampai sering Malina jatuh sakit.”

”Kasihan sekali,” kataku.

Kulihat mata kakek saat itu. Tampak memandang menerawang dan kosong.
”Bagaimana dengan Pamannya, Kek?“ Aku bertanya.
”Juga aku tidak tahu pasti, Nak. Aku tanya Imah, begitu Fatimah dipanggil, ia tidak tahu. Pamannya tidak pernah bertandang lagi sejak Malina dikurung tiga hari.“
”Apa kaki kanannya akhirnya dipotong?“
”Iya, mungkin,“ jawab kakek. ”Mungkin akhirnya ia meninggal. Atau dibunuh. Tidak tahu pasti.”
Kakek diam beberapa saat.
“Bagaimana Kakek bisa berkenalan dengan Malina?“ tanyaku.
”Saat itu, tahun 1975 bulan Desember, musim hujan, aku bertemu dengan Malina di pasar, tak jauh dari tempat yang akhirnya aku datangi setelah diajak Malina. Malina ketika itu sedang membeli beberapa alat rias wajah. Aku datang ke pasar hanya untuk membeli sabun. Aku buruh kereta api ketika itu. Dan kamu tahu, Nak? Nasib memang memiliki rencana yang di luar rencana. Sabun itu aku berikan pada Malina. Sebab sabun itu, namanya Sabun Bunga Permata, hanya tinggal satu di toko itu. Dan Malina membutuhkannya.“
Aku menyimak seksama kata-kata kakek. Soal sabun itu juga telah disinggung di catatan yang kubaca kemarin malam.
”Bukan main senangnya Malina karena sabun yang kuberikan padanya. ’Maukah sampeyan ikut saya ke tempat saya,‘ kata Malina ketika itu,“ lanjut kakek.
”Kakek ikut saja?“ tanyaku tak sabar.
”Iya. Bungkus Sabun Bunga Permata itu masih aku simpan sampai sekarang, Nak.”
”Oh! Bolehkah aku melihatnya, Kek?“ Aku bertanya penasaran.
”Bagaimana Kakek bisa sempat mengambil bungkus sabun itu?“ tanyaku lagi tanpa menunggu jawaban kakek.
Kakek tak menjawab apa-apa. Ia beranjak dari tempat duduknya dan berdiri lalu berjalan terbungkuk-bungkuk menuju lemari pakaian. Aku diam mengamati apa yang akan dilakukan kakek.
Kakek membuka lemari dan mengeluarkan beberapa pakaian dan diletakkan di meja sisi lemari. Kakek mengambil sebuah kotak –seperti kota amal di masjid-masjid—dan membawanya ke ranjang. Lemari tetap dibiarkan terbuka. Beberapa pakaian tetap di atas meja.
Selanjutnya aku sama sekali diam, tidak bertanya dan hanya sesekali mengangguk, mengerutkan dahi dan sesekali jantungku berdebar hebat.
Sambil membuka kotak lalu mengambil sebuah kertas dan memberikannya padaku, kakek mulai bercerita.
Beginilah kakek bercerita:
Saat itu, aku masih mengingatnya, bulan Desember tanggal lima, Sabtu siang, dengan jalan kaki Malina mengajakku ke tempatnya yang cukup dekat dari pasar. Ia sendirian ketika itu dan aku sama sekali tak tahu diajak ke mana.
Setelah sampai ke tempat Malina betapa aku kaget mendapati banyak orang di sana. Lelaki dan perempuan saling berbicara di teras kamar-kamar yang berdempetan. Ada yang baru saja keluar dari kamar dan ada yang baru masuk.
Tepat sebelum Malina membawaku masuk ke kamarnya, Malina menyapa seorang perempuan yang baru saja keluar kamar dengan seorang lelaki setengah baya dan tampak tua dilihat dari cara berjalan. Lelaki itu begitu saja keluar dan perempuan itu juga sama sekali tak menghiraukan kepergian si lelaki, yang selanjutnya aku lihat lelaki itu pergi dengan mengayuh becak melewati pagar kompleks tempat Malina.
Perempuan ini –yang disapa Malina—dialah Imah, yang kelak sering kutemui malam hari di pasar untuk menanyai Malina dan juga menerima kiriman surat darinya.
”Hei, siapa dia?“ tanya Malina.
”Lelaki yang payah,“ jawab Imah ringan.
”Dia siapa? Ganteng sekali….“ Imah balik bertanya.
Tepat ketika Imah bertanya, Malina sudah masuk ke dalam kamar dan ia menjawab dari dalam kamar.
”Lelaki yang menghadiahiku sebuah sabun yang di toko-toko lain hari ini habis. Kukasih hadiah dia karena itu,“ kata Malina dari dalam kamar.
Suaranya keras dan bening. Aku berdiri terpaku di depan pintu sebelum Malina menarik tanganku untuk ke dalam. Seperti kerbau dicocok hidungnya, aku menurut saja. Malina menutup pintu.
Dari luar kudengar Imah berujar, ”Aku mau dia setelah kamu, Mal! Ganteng dan gagah sekali dia!“ kata Imah. Kemudian ia tertawa cekikikan ditahan, mungkin malu dengan kata-katanya.
”Enak saja kamu, Mah! Cari sendiri di sana di pasar!“ jawab Malina.  (bersambung)-c


Rachem Siyaeza: lahir di Pajagungan, 2 September 1988, sebuah kampung kecil di ujung timur Pulau Madura, Kuliah di  Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga tahun 2007 dan lulus 2015. Beberapa tulisannya termaktub dalam bunga rampai kumpulan ceriat pendek Jalan Menikung ke Bukit Timah (2009), Tiga Peluru (Kummpulan Cerpen Pilihan Minggu Pagi Yogyakarta 2010, editor Latief Noor Rochmand) Riwayat Langgar (2011), Love Autumn (2012). Bermukim di Yogyakarta. 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rachem Siyaeza
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi 4 September 2016
Beri Nilai-Bintang!