Pistol Air – Air Mata yang Hilang – Tabrakan – Ada yang Mati di Keningmu – Seorang Luka

Karya . Dikliping tanggal 8 Maret 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Pistol Air 

Kau hadir setiap Sabtu. Selalu tak lupa menembak
mataku yang kelelahan mengunjungi tidur siang.
Kau guyur dengan pistolmu yang matang. Sebagai air
yang sudah melupakan jika dirinya basah. Kau ingat,
sorenya kau menawariku seorang perempuan yang
sangat bangga menyirami perasaannya sendiri. Kata
perempuan itu, dunia berasal dari napas tembakau:
kehidupan yang tak tahan menjadi boneka. Ia juga
sempat bercerita, jika malam-malam pada Sabtu
kerap sering mencurigai pagi terlalu terburu mencari
peribadatan baru. Hingga akhirnya kau memilih
ditembaki banyak pistol, yang tak lagi berisi air.

Bilik Revolusi, Januari 2015 

Air Mata yang Hilang 

Ceritakan kepadaku, bagaimana air mata hilang
selepas hujan mengguyur pipimu yang berwarna
keemasan. Di situ, banyak ditemui duka-duka yang
merindukan bapaknya. Sontak kau menangis. Kau
tak cukup perasaan, karena mulut di hatimu kini
sudah terlalu dipenuhi daging-daging yang mengental
akibat kekurangan bahan bakar. Hingga akhirnya
kau muncul sebagai bayangan. Air mata tetap hilang,
dan kau hanya menjadi beban yang panjang. Semakin
kehilangan banyak tangan.

Bilik Revolusi, Januari 2015 

Tabrakan 

Ada yang bertabrakan di lenganmu, Kawan. Mereka
anak-anak kecil yang sering berdoa di bawah hujan.
Ada yang bertamasya di dadamu, Kawan. Mereka
remaja-remaja yang rajin membaca kematian di
tengadah tangan. Ada yang berdansa di telingamu,
Kawan. Mereka para dewasa ahli bernyanyi di ruang
sembunyi-sembunyi. Ada yang bertepuk tangan di
keningmu, Kawan. Mereka para pengasah pedang,
mengintai luka-lukamu di kening yang berlubang.
Hingga akhirnya banyak yang belum kau ketahui
tentang tubuhmu yang bersembunyi, Kawan. Di
dalamnya banyak ditemukan tubuh-tubuh yang
mencurigaimu diam-diam. Di balik jendela kamar-
kamarnya, mereka berjamaah mengintai takdir yang
lupa direncanakan. Tabrakan terjadi di mana-mana.
Di kakimu, di jantungmu, bahkan di urat lehermu.

Bilik Revolusi, Januari 2015 

Ada yang Mati di Keningmu 

Ada yang tiba-tiba mati di keningmu, Kawan. Ia pohon
berwarna emas yang pernah dilahirkan dari lengan
yang panjang. Akarnya menjalar sebagai takdir yang
dipertemukan sehari setelah jadwal kematian. Kau
tahu, batangnya menyerupai bayi yang kehilangan
hidung. Rantingnya melambangkan jari-jari tangan
penari yang khusyuk mendoakan nasib penonton.
Dan di sekelilingnya, pemakaman-pemakaman telah
menunda prosesi kematiannya. Lalu orang-orang
mendirikan tenda di keningmu. Sebagai diri yang
pura-pura berdoa.

Bilik Revolusi, Januari 2015

Seorang Luka 

Ada yang belum sempurna di balik luka-lukamu.
Mereka nampak paling malas menemukan dadamu.
Kau harus tahu, siapa laki-laki yang selama ini
mendoakanmu sebagai daun. Dialah yang menamai
dirinya sebagai luka. Seorang luka yang memiliki
Teman bernama luka pula. Mereka adalah luka-luka
yang katanya selalu tumbuh setiap hendak tidur.
Merekalah luka-luka yang selalu bersetia terhadap
ramalan menuju takdir menjelang mimpimu sebelum
terluka. Ketika kau bangun, ada luka yang menjawab
dirinya sebagai siluman. Hingga akhirnya kau tak
tahu apa-apa. Semua luka menjadi binasa di luar
kepada.

Bilik Revolusi, Januari 2015 

Setia Naka Andrian, penyair, lahir di Kendal, 4 Februari 1989. Pegiat Komunitas Lembah Kelelawar, Rumah Diksi, Jarak Dekat, Teater Gema, dan Teater Nawiji. Kini, mengajar di Universitas Semarang (USM) dan SMK Yayasan Pharmasi Semarang.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Setia Naka Andrian
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” pada 8 Maret 2015