Playon – Ngupil – Tuding – Cacingan – Lompat Tali – Telepon Kaleng

Karya . Dikliping tanggal 4 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

Playon 

garis awal, garis pintu, satu kaki di depan, saut kaki di belakang, kepala lurus, angin bersidorong.
yang lalu lintaslah, yang lintas lalulah, garis jalan, garis belokan, satu kaki membumi, satu kaki
mengawang, kepala lurus, angin bersidorong, yang lalu lintaslah, yang lintas lalulah, garis akhir,
garis pintu, satu kaki di dalam, satu di luar, kepala lurus, angin bersidorong, yang lalu lintaslah,
yang lintas lalulah. debu dan keringat lengket, pikiran sekosong ceret, garis hablur terseret,
angin bersidorong. yang lalu lintaslah, yang lintas lalulah.
(Sidoarjo-Surabaya, 2015)

Ngupil

yang berlubang selalu nantang sogokan, tak peduli iseng, gemas, atau keranjingan. serupa
arekeolog muda penuh gairah aku disengat goda, ditantang tualang. dinding-dinding berlendir
dan licin. debu dan angin. memecut nyali ciut. cakar kekar, singkal dempal, titis sigap beradu
tepat. segala yang kasar dan geronjal: biji-biji waktu, tergerus, mulus? ah, selalu ada tipak dari telapak. lalu debu berkerumun dan menimbun. membentuk celah dan ruang luang. serupa sejarawan anyaran aku menurutnya, memeriksanya, tilas yang pulas bangun dan menunjukkan
ekor merahnya dimana napas terus bekerja.
(Sidoarjo-Surabaya, 2015)

Tuding

dengan bilah rautan bambu kueja huruf-hurufmu, bacaan yang harus dimulai dengan basuhan.
ta’ dommah, ha’ fathah, nun sukun. dan bilah bambu itu memanjang jadi galah. pahalau sekaligus
pelecut. debu berhamburan. menyiasati nafas dan panadangan, apa-siapa di depan dan di 
belakang. aku berputar agar mereka berkawan, di samping kiri dan kanan yang aku temukan
malah pusaran. bersumbu di bilah bambu yang terpegang. debu berhamburan. ta’ dommah,
ha’ fathah, nun sukun. aku dengar huruf-hurufmutereja dalam aum dan hardikan dengan bilah rautan 
bambu yang memburu bak peluru, bak pentungan.
(Sidoarjo-Surabaya, 2015)

Cacingan

hatimu adalah titian di tengah taman, kaki bonggol adeniumku melompatinya dengan keriangan
pencari kupu-kupu, tak ada bangku dalam kamus perburuanku. terlalu sia-sia membiarkan
segalanya berlalu begitu saja. tangkap, bekap, dan hisap.
hatimu adalah kuil dimana kini aku bermukim. pengetahuanku benalu. memerahi langit-langit
kulit, menyebuli dinding-dinding lambung, mencowongkan penglihatan. aku tak tumbuh dari 
mengapa atau bagaimana. aku tak hendak jadi sejarah. aku alih rupa bayangan, gigi-gigi debu.
(Sidoarjo-Surabaya, 2015)

Lompat Tali

sejak kecil ia telah belajar bermain lompat tali. sedengkul, sepinggang, sepundak, hingga
sekilan di atas kepala. ia jadug. bahkan melepas kaki dari lilitan. tapi hidup (yang kata orang panggung sandiwara) tak sepenuhnya menerima hanya  kejadugan. mainkan mainan, teriak 
orang-orang. siasat yang ia pahami sebagai semangat bermain tanpa kesalahan dan pelanggaran
harus juga dimainkan.
(Sidoarjo-Surabaya, 2015)

Telepon Kaleng

nomor-nomor serupa keningmu, pipimu, dagumu, bagian-bagian lain dari tubuhmu. lewat 
gelombang kata yang digelindingkan angin melintasi tali-tali kukirimkan seuntai mawar dan 
kangen yang dalam. kau entah di sudut mana. aku di sini melipat jarak dengan mulut dan 
telinga dalam kaleng
(Sidoarjo-Surabaya, 2015)
F. Aziz Manna kelahiran Sidoarjo, Jawa Timur, 8 Desember 1978. Buku puisinya antara lain, Tanggulendut (2013) serta Siti Surabaya (2014)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya F. Aziz Manna
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” Minggu 4 Oktober 2015
Beri Nilai-Bintang!