Pohon Kakek

Karya . Dikliping tanggal 4 Agustus 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas
SEJAK seminggu kakek terbaring lemas di ranjang. Dia selalu merintih sembari memegang dadanya.

“Tidak apa-apa, nanti juga sembuh,” katanya.Seminggu ini kami begitu cemas merawat kakek. Terlebih ibuku, setiap pagi ia pergi ke hutan kecil di belakang rumah. Mencari daun semak untuk ditumbuk dan ditabur di atas dada kakek sebagai obat luar. Kadang ibu menyeduhkan kakek teh dari daun sirsak. 
”Ini rahasia dari nenek, akan meredam racun getah tembakau,” kata ibuku.
Berbagai cara telah ditempuh ibu untuk menyelamatkan satu-satunya orangtuanya yang tersisa. Rasa gamang pada kehilangan. Aku paham mata ibu, sorot kecemasan bakal kehilangan kakek. Matanya begitu sayu, tak bergairah. Ah, semoga tak lekas, semoga tak bergegas.

***

Hari ini hujan mulai deras. Aku duduk di tubir jenjang. Memandang sebuah pohon yang tegak, menjulang dan rindang seperti sebuah payung yang besar. Kutaksir usianya sudah seratus lebih. Tak ada yang tahu jelas waktu penanamannya. Pohon itu ditanam di hari kelahiran kakek. Kebiasaan orang-orang di desa kami memang seperti itu. Setiap orang yang lahir akan ditandai dengan menanam sebuah pohon di pekarangan rumah. Ah, tidak hanya di hari kelahiran. Banyak tumbuh pohon di pekarangan rumah kami. Setiap pohon memiliki riwayatnya sendiri. Setiap pohon memiliki hak penanda tersendiri.

Pohon besar itu kunamai pohon kakek. Pohon yang paling rindang di halaman. Pohon yang ketika malam seolah melambai memanggil sejuk angin timur, biar lelap kami tertidur. Entah sebab apa. Serangga-serangga begitu betah membangun rumah di pohon itu. Serangga yang dulunya migrasi dari pohon lain. Kini telah membangun mukim baru yang tenteram. Serangga-serangga itu memamah sari remah kulit kayu. Hanya itu yang mereka isap selama ini. Burung-burung hinggap menebar suara riang. Begitu yang kuperhatikan. Sungguh hanya riang, tak sekali pun pernah kulihat ada bencana kecil di pohon itu. Pohon itu seperti kakek yang selalu riang walau usia mengisap seperti serangga yang menggerayang.

***

Biasanya setiap sore, aku dan kakek mengobrol di tubir ini. Aku sering memandang matanya yang teduh. Mata yang seolah bercerita dengan riang. Mata yang membuat aku percaya bahwa dia seorang kakek yang tabah. Aku belum pernah melihat lelaki tua yang penuh cinta dan gairah. Kulit tuanya yang keriput menjadi segar meliuk ketika ia menggerakkan badannya. Suaranya yang berat seperti magnet yang menarik genderang telingaku, begitu lirih. Kakek cerdas dan luar biasa bila ia bercerita, lebih ekspresif, dan aku dibuat terpukau. Sorot matanya tajam, gerak tubuhnya seperti seorang aktor andal. Seolah tak satu pun ketuaan tertoreh di setiap hempasan napasnya.

Baca juga:  Peci Ayah

banyak bercerita tentang hidupnya dan pohon itu. Katanya, dalam lubang bawah pohon itu dimasukkan ari-ari kakek.
”Pohon itu adalah kakak saya,” katanya.
Aku tak bertanya perihal pernyataan kakek. Karena jelas pohon itu ”lahir” lebih dahulu sebelum kakek lahir. Hanya ia dipindahkan ke lubang itu pada saat kakek lahir. Lalu sejak itu mereka tumbuh bersama hingga sekarang ini.
Suatu sore, kakek pernah bertuah: kita dilahirkan dan berpindah-pindah dari satu badan ke badan yang lain, tanpa jaminan tentang jenis badan mana yang akan kita terima pada penjelmaan kita yang akan datang. Pohon pun demikian, menerima badan berulang kali. Pohon kecil meninggalkan badannya dan menerima badan pohon yang lebih besar. Pohon yang besar meninggalkan badannya untuk menerima badan yang sudah tua. Karena itu, sewajarnya kita mengerti pohon meninggalkan badannya yang sudah tua, dia akan terpaksa menerima badan lain lagi. Sekali lagi dia akan menerima badan sebagai bayi. Aku terpukau.
”Kek….” Aku menepuk bahunya.
”Iya….”
”Apa perbedaan manusia dengan pohon?”
”Perbedaan antara kita dan pohon ialah pohon tidak terhingga, sedangkan kita yang berbatas. Kita mesti mencari cinta kasih yang kekal, tanpa hukum-hukum material yang menyebabkannya terputus. Kita harus dapat melampaui keadaan putus tersebut.” Jawaban kakek begitu lugas.
Setelah selesai bercerita, kakek biasanya menyalakan rokok. Rokok yang dibuatnya sendiri dari lintingan kulit jagung setengah kering dan tembakaunya dicampur dengan bunga kopi. Aromanya wangi. Dari balik asap rokok kulihat pohon-pohon berjejer seperti di balik kabut hujan. Kami selalu seperti itu, selalu mengumbar tanya pada segala yang ada di sekitar. Walau di halaman cuma ada berbatang-batang pohon. Bagi kami, tanya tak bakal habis meski digali dari sebatang pohon.

Baca juga:  Sesuatu yang Hilang dan Kita Tahu Itu Apa
***

Aku masih duduk di tubir jenjang dengan segelas teh dari daun alpukat. Hujan telah lebat, selebat kecemasanku kepada kakek. Sebab tak biasanya kakek sakit hingga seminggu. Sebelumnya, sehari atau paling lambat tiga hari, kakek sudah sembuh. Hal itu menjadi biasa karena kakek perokok berat. Aku pikir itulah musabab kakek sering merasa sakit di dadanya. Paru-parunya telah diserang getah tembakau, belum lagi campuran tembakaunya adalah bunga kopi, tentu menambah banyak kadar nikotin.

Kami merawat kakek seadanya. Tidak mengajaknya ke puskesmas karena jaraknya kurang lebih lima kilometer dari sini. Tak ada kendaraan, hanya berjalan kakilah satu-satunya yang dapat kami lakukan untuk mencapai puskesmas itu. Tapi hal itu tidak memungkinkan. Jangankan untuk berjalan sejauh itu, untuk bangun dari ranjang saja kakek sudah tak mampu. Kami tak punya pilihan, selain merawat kakek dengan cara sendiri.

***
Aku mencoba menghilangkan kecemasan perihal sakitnya kakek. Aku menggali-gali kenangan yang sempat ditanam dalam hidupku. Sewaktu kecil, kakek gemar mengajakku ke hutan jauh di belakang rumah.

Subuh kami berangkat menembus gelap. Dingin dan remang seperti dibunuh gema suara binatang hutan. Sambung-menyambung, timpal-menimpal. Benar-benar lengking yang lantang. Begitulah cara hutan menyambut pagi. Kabut tebal masih menyingkap. Kami berjalan menyisir semak. Sekali waktu kakek membungkukkan badan, dengan parang di tangan ia retas semak kecil untuk membangun jalan baru. Kami terus berjalan menyisir tanpa bicara sepatah kata. 
Hingga lama. Kabut mulai menipis. Tubuhku mematung. Di kejauhan, sebuah pohon besar mengikhlaskan diri. Burung pelatuk menabuh tubuhnya. Pelatuk jengger merah, dengan paruhnya yang bontok. Suaranya mirip kerdam, sekali waktu mirip suara kentungan kayu. 
”Cepat, kita masih jauh,” kakek menghampiri dan menyeret tanganku.
Kami kian bergegas menebas udara dingin. Kaki tua kakek tanpa sandal, sudah hafal membaca arah. Sudah terbiasa ditimpali duri semak. Sudah terbiasa terluka. Kakek sering membiarkan rasa nyeri isapan lintah hutan menggerogoti kakinya, seolah itu terapi pelemasan otot.
Jalanan sedikit mendaki, kami ranggas. Sepanjang jalan kami masih tanpa kata. Mataku sigap pada perangkap jerat yang kakek pasang beberapa hari lalu. Nampak semuanya kosong melompong. Tak satu pun hewan liar masuk dalam perangkap.
Karena sudah semua kami awasi dan kosong, kami memutuskan 
beristirahat di pangkal pohon yang besar. Pohon yang di ranting-rantingnya tumbuh akar lebat menghujam tanah seperti hujan. Tiba-tiba kakek menghempaskan parang ke arah akar yang bergelayut serupa hujan itu. Akar mengucurkan air. Deras. Aku yang masih kecil terkagum-kagum.
”Akar menyimpan air lebih baik dari tanah. Ia memiliki daya saring yang bagus. Minumlah.” Kakek menyodorkan akar yang telah dipotong itu ke wajahku. Aku meminum airnya. Sangat segar.
Siang itu kami kembali ke rumah tanpa satu pun hewan buruan. Di tengah jalan kakek menyempatkan diri untuk memanjat pohon pinang merah yang buahnya merekah. Kakek begitu cekatan. Oleh-oleh untuk nenek, katanya. Kenangan bersama kakek saat itu seperti cairan penenang yang disuntikkan ke dalam tubuhku. 

***

Hujan semakin lebat. Kali ini bertambah angin. Kencang berpusar di pohon kakek, lalu melaju menerpa kesedihanku, retak jadi puing. Pohon besar itu rubuh. Hujan deras telah melemahkan pelukan tanah, tak kuat lagi menopang beban pohon besar itu. Seperti usia kakek yang sudah tua dan rapuh, tak kuat lagi memanggul keinginannya untuk hidup. Tapi aku paham. Pohon itu tidak pernah mati. Dia hanya tumbang lalu nampak seperti mati.t

Tiba-tiba ibu berteriak dari dalam. Kubayangkan napas kakek tersengal. Dan di tempat lain, seseorang telah menggali lubang. Bersiap menanam air-ari dan sebatang pohon.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya I Putu Agus Phebi Rosadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” pada 3 Aguatua 2014