Pohon Kersen

Karya . Dikliping tanggal 22 September 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

KENANGAN bisa menjelma seperti gelombang laut. Diraupnya engkau, menggulung-gulung, setelah usai, dia pergi. Kadang terlebih dahulu menghempaskanmu. Bisa jadi pula engkau tenggelam.

SAAT Paleha membuka album foto lama, itu akan menjelma getar lalu menjadi riak ombak, kemudian perlahan membesar semakin besar dan menjadi gelombang. Gelombang kenangan.
Pernah pula Paleha menatap pohon kersen yang rindang menghijau. Sebentar lagi, pohon kersen itu juga menjelma gelombang.
Pohon kersen menghijau itu tumbuh lebat di lahan yang berfungsi sebagai tempat parkir sepeda motor di mal besar di kawasan kota bagian utara. Paleha mengaku tidak terlalu suka dengan mal. Mungkin karena saat itu uang jajannya yang terbatas dan begitu banyak yang ingin dia beli jika ke mal, bisa jadi.
Saat Paleha berpindah kota dan bekerja, dia menghadapi jam kerja yang padat. Dia butuh hiburan. Jadilah alasannya untuk mengunjungi mal hampir di setiap akhir pekan. Lagi pula, kota besar ini tidak menawarkan banyak wisata out door yang menarik. Coba ke Kota Tua. misalnya, bikin keringetan. Mal selalu dengan pendingin ruangannya, sejuk, pikirnya.
Sabtu siang itu, setelah emmarkir sepeda motor, membuka jaket, Paleha tak segera meninggalkan parkiran dan menuju ke arah pintu masuk yang terletak di bagian belakang mal besar itu. Tadinya, dia melangkah, tapi kemudian tertahan oleh pemandangan buah-buah kersen yang merah menggantung, begitu ranum. Mungkin di sini orang-orang tidak memakan buah kersen, pikirnya. Jika tidak, tak mungkin buah-buah itu bertahan tanpa dipetik. Ini kota paling padat.
Pada amsa kecil Paleha, buah-buah kersen yang mulai memerah jadi rebutan bersama teman-temannya, apalagi yang merah ranum. Untuk pohon yang lebih tinggi, kakak lelakinya, Bara, menolongnya memetik buah kersen.
***
MASA kecil, masa lalu, adalah potongan-potongan ingatan bagi Paleha. Di suatu desa yang cukup jauh dari kota, Paleha bertumbuh. Di sana masa kecil dan masa lalu itu. Paleha masih ingat bagaimana memukaunya film “MacGyver” meskipun bukan kategori film anak-anak. Sebulan sekali, ia bersama Tiya –kakak perempuannya– akan berangkat ke ibu kota kecamatan untuk membeli tabloid Hoplaa dan Fantasi dengan harga setengah dari harganya karena telah habis masa edisinya. Ternyata, teman sekelas dan sebayanya malah banyak yang tidak tahu film “MacGyver” dna tabloid untuk anak-anak itu.
Jika akan berangkat saat matahari sudah tinggi, Paleha dan Tiya akan berteduh di rindang pohon kersen halaman rumah, menunggu angkutan umum menuju ibu kota kecamatan. Angkutan umum itu akan lewat di depan rumah mereka.
Sore itu, Paleha berkunjung ke pusat perbelanjaan, seperti biasa di akhir pekan. Samar-samar, Paleha mendengar “Aubrey”, itu adalah lagu kesukaan kakaknya, Bara. Bara memutar lagu itu hampir setiap pagi. Saat itu, Paleha masih duduk di sekolah dasar dan Bara baru lulus kuliah. Tiga belas tahun jarak usia Paleha dan kakak pertamanya, Bara, dan enam tahun dengan Tiya, kakak keduanya. Paleha menyukai lagu yang bukan lagu anak-anak itu.Paleha mengingat masa kanak-kanaknya. Itu lagi-lagi menjelma gelombang.
Pada pagi hari, saat Bara memutar lagu lawas, Paleha bersiap-siap ke sekolah. Paleha tak punya banyak seragam. Setelah dipakai, akan langsung dicuci pada hari itu juga, itu pun kalau sempat. JIk baju seragam yang dicuci dan mengering tak sempat disetrika pada hari sebelumnya, Tiya atau ibunya menolongnya menyetrika seragamnya pagi-pagi sebelum berangkat ke sekolah.
Masih lekat dalam ingatannya setrika merek “Crown” dengan gagang kayu berwarna hijau, setrika listrik dengan bobot yang cukup berat. Setrika itu adalah setrika listrik dengan sambungan listrik yang disediakan pada bagian belakang. akan tetapi sejauh ingatan Paleha, setrika itu dipanaskan tidak dengan menyambungkan ke listrik, tetapi dengan memanaskannya di kompor elpiji milik ibunya.
Pikirnya, kabel setrika itu mungkin telah rusak. Durasi yang musti diperhitungkan dan mesti sangat hati-hati saat menggosokkannya ke pakaian. Tiya sudah hafal betul. Saat Paleha pulang beberapa hari sebelum hari raya, dia masih menemukan setrika gagang hijau itu, sedikit berkarat dan tak terpakai lagi.
***
POHON kersen –dalam ingatan masa kecil Paleha– bertumbuh di halaman rumah, halaman rumah tetangga, dan juga di halaman sekolah. Pohon kersen di halaman parkir pusat perbelanjaan di kota tempat tinggalnya kini acapkali mengingatkannya pada masa yang lalu, silih berganti. Juga pada pohon kersen yang telah tumbang di halaman rumah, pohon kersen yang telah ditebang karena pelebaran jalan di kampungnya. Pohon kersen di halaman rumah tetangga juga telah tumbang untuk pembangunan minimarket. Bahkan Paleha tak tahu pindah ke mana tetangganya itu kini. Pohon kersen juga mengingatkannya kepada Bara, kakaknya.
Suatu sore, sesekali matahari tampak, bersinar keemasan, kemudian awan menutupnya lagi. Paleha kecil memetik buah-buah kersen. Setelah mendapatkan buah-buah kersen merah dan ranum, Paleha menunggu di depan televisi, menanti serial “MacGyver” yang sangat emngagumkan bagi Paleha. Sore, buah kersen meranum, dan serial “MacGyver.”
Sore itu, saat matahari cerah keemasan, berita itu pun datang. Yang ada kemudian hanyalah isak. Paleha kecil dapat emnangkap berita duka saat mulutnya masih sementara melumat butir-butir pohon kersen. Di depan televisi yang menyiarkan serial “MacGyver,” Paleha menelan buah kersen yang rasanya tiba-tiba jadi hambar.
Dia masih penasaran dengan film “MacGyver” yang telah setengah jalan itu, tetapi sesuatu yang lebih besar menariknya. Berita tiba-tiba itu dan semua berubah jadi isak dan seperti mencekam Paleha yang masih kecil.
Setelah itu, Paleha tak akan pernah bertemu kakaknya, Bara. Dalam kabar, Bara menjadi salah satu korban. Mereka penambang yang tertimbun di perut bumi, di tanah kelahiran, di tanah air, tanah tumpah darah –seperti lirik lagu-lagu nasional– di suatu lokasi pertambangan yang dikelola oleh perusahaan asing.
Sore itu, matahari cerah keemasan, seperti ingin menutup hari itu dengan sinar keemasannya yang paling murni, seperti penghabisan, seperti perpisahan.
Setelah kejadian itu, Paleha lupa, kapan persisnya terakhir kali makan buah kersen. ***
(Makassar – Bogor, 2014)

Arida Erwianti, ibu rumah tangga, tinggal di Rawamangun, Jakarta Timur.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arida Erwianti
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 20 September 2015