Porong

Karya . Dikliping tanggal 21 Juli 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Solo Pos

“Ini bukan porong biasa, tapi porong multiguna. Selain bisa untuk tempat air minum juga bisa sebagai sarana meminta sesuatu.“ Seketika kuhentikan langkahku ketika mendengar kata-kata itu,  seperti kata-kata bombastis yang biasanya datang dari para penjual jamu.
Di pasar ini memang banyak penjual, dari penjual peniti sampai penjual sapi, yang sebagian besar telah kulihat stannya. Dan kata-kata tadi menarik perhatianku.  Penjual apakah itu? Kuamati apa yang mereka tawarkan.
“Pesan saya, bila porong ini sudah sampai di tangan Anda, jangan sekali-kali digunakan seenaknya. Jika anda nekat untuk tujuan sembarangan, Anda akan mengalami kejadian yang tak terduga dan sulit untuk mengontrolnya. Bisa-bisa akan menciptakan  malapetaka hebat yang sulit dihentikan.”
Orang-orang yang melihat pada berbisik, mempertanyakan bagaimana cara kerja porong itu hingga dapat menciptakan malapetaka. Entah tujuan apa mereka ingin tahu cara kerjanya barang itu, sekedar iseng atau memang punya keinginan membeli. Dan benakku masih sibuk heran mengapa ada penjual barang macam begitu, barang yang dapat menciptakan malapetaka.
Hal itu sama heranku ketika aku mendengar cerita Joko, teman dari Brebes, yang mengatakan bahwa di tempat asalnya ada penjual aneh, penjual mimpi. Dalam proses transaksi, seorang pembeli dapat dengan bebas memilih mimpi yang akan mereka alami. Misalnya ingin bermimpi bercinta dengan salah satu bintang film atau ingin bermimpi jadi seorang pejabat yang sukses dan kaya, semua itu bisa dengan mudah  terjadi dalam mimpi. Tentu saja jika proses transaksi itu telah menemui kesepakatan harga.
“Cara kerja porong ini akan saya katakan kepada yang benar-benar ingin membeli, dan ini sangat rahasia. Selain itu kami juga harus tahu apa tujuannya hingga ingin memiliki porong ini. Jadi singkatnya, belum tentu kami akan mengijinkan kalian membawa porong ini bila alasan kalian tidak cocok dengan pemikiran kami, sebab kami tidak ingin terjadi sesuatu bila kami sembarangan menjualnya.”  kata-kata penjual itu semakin membuat penasaran banyak orang.
Porong yang misterius. Aku sangat penasaran, dengan maksud apa pula barang yang katanya dapat menciptakan malapetaka hebat itu akan dijual, sementara kriteria pembelinya juga ditentukan oleh mereka sendiri. Ah, aku tidak ingin ambil pusing, dan berkehendak berlalu dari tempat itu. Tapi baru beberapa aku melangkah pergi,  kulihat datang seorang laki-laki setengah tua, berperawakan tinggi besar dengan suara bariton. Laki-laki itu, yang dalam perkenalannya mengaku bernama Drajat, ingin membeli porong aneh itu. Aku berhenti dan memperhatikannya. Setelah beberapa menit mereka ngobrol, Drajat diajak masuk ke dalam sebuah ruangan yang telah sengaja disediakan. Ruangan itu semacam bilik kecil selayaknya bilik-bilik untuk tempat pemungutan suara (TPS).
Karena di sebuah bilik, perbincangan mereka sulit kudengar hingga aku pura-pura belok untuk mendekat  ke area bilik itu. Sayang, tidak terdengar juga. Kuberanikan diri untuk mendekat lagi, dan samar-samar aku mendengar perbincangan itu.
“Jika kau sampai menuangkan air dari porong ini ke dalam gelas atau wadah lain tapi kamu tidak bermaksud meminumnya, airnya akan terus mancur. Kalau sudah begitu semuanya tergantung kamu. Hendaknya anda harus hati-hati dengan pikiran anda sendiri sebab jika pada saat itu anda memikirkan sebuah malapetaka, bisa jadi akan malapetaka itu akan jadi kenyataan.”
“Berarti saya bisa menciptakan sebuah bencana sesuai dengan keinginan saya?” Drajat  menegaskan.
“Bisa berarti bagitu.”
“Hebat sekali!  Oke, saya akan beli porong ini,” kata Drajat antusias.
“Tapi tunggu dulu, kami harus mengetahui  alasan apa Anda ingin memiliki porong ini? Dan kalau Anda sungguh-sungguh harus ada perjanjian sebelumnya dengan kami.”
“Apa perjanjiannya?”
“Perjanjian ini akan menyesuaikan dengan alasan Anda membeli porong ini, berarti perjanjian untuk tiap orang bisa berbeda-beda menurut alasan yang bersangkutan.”
Kemudian Drajat membisikkan sesuatu kepada penjual porong itu. “O.. Begitu rupanya. Bisa, bias,” sambil berkata begitu penjual porong itu mengambil satu lembar kertas yang sudah dipersiapkan. Mungkin hal itu sudah serangkaian prosedur  transaksi jual belinya. Beberapa saat kemudian penjual porong itu menyerahkan selembar kertas itu kepada Drajat. Drajat membacanya dengan seksama.
“Mahal sekali harganya? Saya juga masih harus menyerahkan imbalan bila tujuan saya tercapai?”  kata-kata Drajat kemudian.
“Itu tak seberapa bila dibandingkan dengan keuntungan yang akan anda peroleh,”  jawab penjual itu.
Meski sulit mencapai kesepakatan tapi pada akhirnya proses transaksi jual beli itu terjadi juga dan Drajat berhasil membawa pulang porong itu. Entah apa yang jadi alasan Drajat membeli porong itu, aku tidak jelas mengetahuinya sebab aku tidak mendengar ketika dia mengatakan alasannya. Rasa penasaranku tidak terjawab. Sebetulnya aku ingin mengikutinya, ingin tahu apa yang akan dilakukan Drajat dengan porong itu, tapi karena kedatanganku ke pasar ini disuruh istriku untuk membeli kran, guna mengganti kran ledeng di rumah kami yang sudah seminggu bocor, maka kuurungkan niatku untuk membuntutinya pulang.
***
Sebetulnya aku sudah lupa peristiwa di pasar tentang penjual porong beberapa waktu lalu tapi karena akhir-akhir ini banyak koran memberitakan sebuah peristiwa aneh, aku jadi penasaran. Berita aneh itu tentang bencana meluapnya air yang tidak jelas ujung pangkalnya. Air itu terus meninggi hingga luapannya menenggelamkan beberapa desa. Malapetaka apa ini? Selain itu masih ada banyak musibah yang seakan tak henti-hentinya melanda negri ini.
Aku jadi teringat kembali tentang porong misterius itu. Aku jadi punya pikiran kalau semua ini ada hubungannya dengan transaksi porong itu. Porong yang katanya dapat menciptakan sebuah bencana hebat dan sulit dihentikan. Sekilas aku jadi mengingat perbincangan Drajat dengan penjual porong. Baik penjual porong maupun Drajat tidak pernah membicarakan bagaimana caranya menghentikan malapetaka yang terjadi. Bahkan aku juga punya pikiran buruk bahwa sebetulnya Drajat sudah tahu caranya menghentikan bencana itu tetapi karena dia belum berhasil meraih tujuannya maka dia tidak mau menghentikannya.
Catatan:
Porong = nama sebuah alat untuk tempat air minum
Cerpen ini didedikasikan untuk para korban peristiwa Lumpur Lapindo Porong Sidoarjo
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yuditeha
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Solo Pos” pada 20 Juli 2014