Pranata – Dana Umum – Perempuan Berpayung Hujan – Kaki-kaki Maribaya

Karya . Dikliping tanggal 22 Juni 2014 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Riau Pos

Pranata

[dukamu, p——–]

tentu saja aku ingin mencintaimu
tapi, bersama redup matahari
aku melangkah mundur
menjauh dari hatimu
berjalan seorang diri bersama rahim yang terisi
ia tidak pernah memiliki kesalahan
tiba-tiba, aku merasa tertipu
tabiatmu yang ambigu
selalu membuat resah
puisi-puisi yang tersaji setiap pagi
hanya membawa luka
pohon-pohon di halaman
telah menghilangkan bayangan
dan bulan ada di atasnya
mencermati melalui sulur-sulur 
semuanya fatamorgana
aku memilih sepi
menghunus kata-kata 
agar rahimku selamat
dalam kesendirian
aku membayangkan kamu
kita pernah satu tubuh
dalam lingkaran api
keringat menggantikan airmata
dan suaramu begitu ingin kuhindari
kamu muncul
bersama bunga-bunga di tangan
sementara aku, 
mengelus perut yang semakin menggembung
sambil melingkari kalender 
bersuara takut-takut
aku tak berani memandang apapun
tanganmu yang kekar itu telah melukai jiwa
sayang, kamu tidak pernah mengerti
atau pura-pura tak merasakan
tentu saja aku ingin mencintaimu
sebab kita akan menjadi satu nama
melewati lorong gelap
memperbaiki segala kesalahan
menumbuhkan jiwa agar tak kerdil
SudutBumi, 2014

Dana Umum

merasa hidup dalam monopoli
memilih bayar pajak atau mundur selangkah dan masuk penjara 
sementara mereka memakan uang rakyat dengan lahap
tak peduli banjir merendam rumah-rumah sampai atap
hidup dalam monopoli
berkeliling negara hanya dengan mengaduk dadu
membangun rumah dan hotel 
menyewakan beragam fasilitas
dan jangan lupa membayar tagihan air dan listrik
di dalam monopoli
aku menjadi penguasa
bebas memasukkan orang ke dalam penjara
menimbun uang bahkan mampu membeli pegawai bank
sekali-kali mencari kesempatan
mundur selangkah atau masuk penjara
hei, akulah pengusaha yang pailit
tapi, masih ingin memingit
harta dan kuasa
tak peduli berkongsi tidak khawatir dengan segala peraturan
akulah penguasa
sesuka hati melempar dadu
memutus jaringan telepon karena lupa membayar cicilan
katanya orang bijak bayar pajak
tapi, mengapa mereka memakan derita rakyat
mereka galak dan suka kelakar
dan kami lelah meratap
SudutBumi, 2014

Perempuan Berpayung Hujan

#satu
di gerbang ia datang
menyapa dan mengajak menepi
aku sedang tidak berduka, hujan
hatiku berbunga sebab berhasil melipat langit
lihat matahari begitu cerah
kamu datang dan memaksa pagi jadi murung
#dua
setiap berjalan ke rumah itu
diam-diam ia mengikuti
langit warna pastel dan hujan kenangan
menghitamkan mata
aku si pemungut kata-kata
mengarsipkan puisi dalam
kitab paling pualam
#tiga
di bawah temaram lampu jalanan
mozaik warna rindu mengelu
aku mengundangnya
agar doa sampai ke langit
dan semesta mengabulkan pinta
SudutBumi, 2014

Kaki-kaki Maribaya

ini hutan lumut
dingin dan tikungan menjadi tipuan
tidak ada kekasih
angin telah menjadikannya tinggal nama
cemara berjajar 
buah-buahnya menjadi alat pelempar
bernama cinta
suara air terjun hilang
setapak penghubung tak ada
sebab hujan setiap pejalan mati rasa
akar-akar menjadi langit
kaliandra memagut kepak burung 
atau sebaliknya
rapatkan jaket dan sweter
agar suara langit yang meraung dapat diredam
ia memanggil namaku yang hampir tersesat
kaki-kaki maribaya
menjelma raksasa terpasung
tanjakan melumpuhkan daya
melepas rasa khawatir
ada teriakan
terpantul di antara warung-warung
pertigaan dan rumpun bambu
aku hendak pulang
tapi, pagar besi menyuburkan pendatang
muslihat di tepi hutan
di bawah kucuran matahari
sebenarnya tak ada petualang
hanya suara-suara para khianat
SudutBumi, 2014

Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada Sekar Arum (eMail: tulisansekar@gmail.com) atas kiriman karya puisi ini kepada klipingsastra. Salam Sastra
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dian Hartati
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Riau Pos”