Prasasti

Karya . Dikliping tanggal 24 Februari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
DI kedua matanya tergambar ketakjuban sekaligus rasa heran saat melihat keadaan sekeliling. Dengan ingatan yang samar-samar, ia merasa tersesat di tempat asing. Orang-orangnya, lekuk jalannya, gedung-gedungnya, suasananya, udaranya…
“Ini Jalan Medan Merdea,” jawab seorang ibu-bu yang menatap sekujur tubuhnya dengan heran.
Benarkah itu? pikirnya. Kedua matanya pun mencari-cari rumah walikota yang dulu sangat dikenalnya. Hanya ingin memastikan. Siapa tahu ia bertemu dengan seseorang yang dikenalnya atau mengenalnya. Namun begitu ia mendapatkan jawaban dari seorang pemuda bahwa walikota sekarang bernama Fulan, berlerutlah dahi. Dan ketika ia bertanya tentang tahun, “Sinting!” jawaban pemuda itu dan malah lalu beranjak pergi.
Kemudian, ada sebuah komentar dari seorang gadis (yang memakai celana jins sobek di lutut) yang semakin membuatnya merasa aneh, “Mas ini dari kelompok teater mana? Itu tubuhnya pakai lumpur atau oli?”
***
Ilustrasi oleh Joko Santoso

Setelah meregangkan tubuh sejenak lantaran pegal-pegal setelah puluhan tahun hanya diam dan diam, Sukarno melangkah dengan penuh percaya diri. Meskipun bising di telinganya masih terasa mengganggu, belum lagi ditambah dengan jawaban-jawaban aneh yang ia terima, pertanyaan-pertanyaan yang masih bermunculan dalam dada ingin segera menemukan jawaban lainnya.

Ia melihat bus bertuliskan City Tour yang diserbu orang-orang. Mulanya ia hanya hendak bertanya, memangnya mereka hendak berwisata ke mana? Bukankah ini ada di dalam kota? Akhirnya ia ikut masuk ke dalam bus dengan alasan hanya ingin lebih tahu. Beberapa muda-mudi terlihat telah duduk manis di dalam sana. Sayangnya kemudian ia malah kecewa.
“Masa kaliak tidka tahu aku?” herannya. “Pakah benar orang-orang sudah melupakan aku?” gerutunya setelah emmancing-mancing ingatan dua orang gadis yang duduk di ssalah satu deretan kursi bus. Sepasang gadis kurus dan gemuk itu pun saling pandang kemudian. Merasa aneh. Lalu cuek dan kembali kepada kudapan mereka.
Juga seorang pemuda yang duduk sendirian di kursi dekat pintu. Lalu seorang lelaki berkacamata yang memakai baju batik, dan seorang ibu muda yang mengajak serta bocah lelakinya. Mereka sama memperlihatkan wajah yang bertanya-tanya dan benar-benar tak tahu. Bahkan seorang pemuda kurus yang ia jejeri pun malah berkomentar, “Itu tubuhnya pakai oli atau apa, Mas?”
Saking jengkelnya dengan kondisi yang demikian itu, Sukarno mendatangi lelaki bertopi yang sedari tadi terus saja berbicara dengan mikrofon di belakang sopir.
“Silakan saja kalau ingin beraksi sekarang. Tapi jangan sampai menimbulkan ketidaknyamanan ya?” ujar lelaki bertopi yang kemudian melanjutkan omongan panjangnya dengan mikrofon. Seperti orang sok tahu. Membuat Sukarno ingin menempeleng kepalanya saja, lantaran ia kembali dibuatnya bingun. Aksi, aksi apa? Menghibur, menghibur bagaimana?
Sukarno ingin istirahat sejenak dari kebingungannya dan coba memahami keadaan. Ia pun memutar kembali kronologi kejadian yang telah dilaluinya seharian tadi.
Dimulai dari bising yang tiba-tiba menyeruak di telinga. Ia terbangun. Ia melihat Hatta yang masih pulas di sampingnya. Ia sempat membangunkan lelaki pendek berkepala botak itu, tapi sia-sia. Ia sempat memaksa. Namun kelihatannya Hatta lebih senang tidur lama-lama. Ia pun memutuskan bangun dan jalan-jalan sendirian. Lalu beginilah yang terjadi. Semua orang selalu menyambutnya dengan perasaan asing. 
“Gedung itu awalnya dibangun sebagai rumah walikota sekaligus kantor pemerintahan,” ujar Sukarno spontan saat lelaki bertopi kembali terdengar jelas di telinganya. Beberapa orang langsung menoleh termasuk lelaki bertopi. Namun Sukarno justru merasa tak ada apa-apa, lantaran ia masih tenggelam dalam ingatan tentang tempat yang tengah dilalui bus itu.
Kejadian itu kembali terulang saat bus telah sampai di Jalan MH. Thamrin. Ketika lelaki bertopi tadi menjelaskan bahwa Thamrin pernah emnjadi anggota Gemeenteraad (Dewan Kota Batavia) serta dilanjutkan sebagai anggota Volksraad (Dewan rakyat), Sukarno pun spontan menyahut, “Dialah yang menggagas perbaikan sanitasi dan saluran air di kota ini.” Orang-orang dalam bus pun kembali menoleh ke arah Sukarno.
“Hai Thamrin! Sebagian dari mereka masih mengingat siapa dirimu! Tapi entah bagaimana bisa mereka justru melupakan aku?!” Teriak Sukarno dari dalam bus.
Thamrin yang mendengar teriakan itu langsung menoleh dan mengangguk di tempat.
“Hei, Mas. Tolong jangan emngganggu ketertiban dalam bus,” sopir bus menoleh dan menegur Sukarno.
“Aku benar-benar heran, bagaimana bisa dengan mudahnya kalian melupakan aku? sahut Sukarno.
“Ton, turunkan saja dia. Bikin bising saja,” sang sopir melanjutkan ucapannya.
Lelaki bertopi yang ternyata bernama Ton, menatap lekat Sukarno sebelum kemudian beranjak menggiring Sukarno turun dari bus. Semua orang diam saja melihat pengusiran itu. Membuat Sukarno menatap kecewa tatkala bus warna kuning-ungu itu perlahan meninggalkannya seorang diri. Sukarno mengusap dahi lantaran kudara Jakarta yang begitu terik. Namun tak ada keringat di wajahnya.
Di Jalan Thamrin Sukarno berjalan tegas ke arah Thamrin yang masih membeku di tempat. Hatinya sempat terpapar ketakjuban melihat kondisisekitar yang sudah dipenuhi aneka gedung perkantoran. Apa kabarnya Gambir, Kebon Sirih, Kebon Melati, Gondangdia dan Menteng?
“Hei, ayo bangun! Jangan hanya mengangguk-angguk di sana. Orang-orang sudah melupakan kita!” Sukarno berteriak memanggil Thamrin.
“Bagaimana orang-orang bisa ingat kalau kau terus saja diam tidur di sini?!” kejengkelan Sukarno semakin bertambah karena Thamrin sekarang justru tak acuh terhadapnya. “Ayo bangun!”
Namun bentakan itu hanya membuat orang-orang sekitar menoleh heran atau senyum-senyum melihat Sukarno.
“Kalau pemimpinnya saja hobi tidur, bagaimana rakyatnya bisa terus ingat dengan tujuan utama kita?!” Sukarno terus saja menggerutu melihat Thamrin yang keras kepala. Berjam-jam. Hingga kemudian ia melihat sosok Arjuna Wijaya yang tampak berpose heroik.
“Memangnya siapa yang menyuruhmu sampai seperti itu? Kau pendatang baru kan? Sukarno ganti mengomel setelah sampai di hadapan Arjuna Wijaya. “Bah, apa ini?!” Sukarno langsung membetot sebuah prasasti yang menempel di sana. Membuat beberapa orang sekitar yang melihatnya menatap cemas.
“Kuhantarkan kau melanjutkan perjuangan dan pembangunan yang tidak mengenal akhir!” Sukarno membaca keras-keras prasasti itu. Membuat beberapa orang gegas menjauh lantaran khawatir.
Sukarno sempat tercenung sejenak setelah membaca teks prasasti itu. Hingga kemudian tercetus sebuah ide yang membuat kedua matanya berapi-api penuh smeangat.
“Bangun! Ayo bangun! Kalau dalam waktu enam jam kau tak juga bangun dan masih juga bercokol di tempat ini, awas kau ya!” ancam Sukarno yang merasa Arjuna Wijaya sempat melirik sekilas ke arahnya.
“Ingat, cepatlah bangun. Dan ingatkan orang-orang tentang apa yang seharusnya mereka ingat tentang kita, mengerti? Aku akan pergi sejenak uuntuk membangunkan yang lain. Bagaimana bangsa ini bisa maju kalau pemimpinnya hobi tidur?” ujar Sukarno dan lalu melangkah pergi.
***
Sukarno merasa kembali pulang ke rumah  saat memasuki Jalan Kemerdekaan. Di tangan kirinya tergenggam sebuah koran yang baru saja ia remas hingga tak berbentuk. Sementara tangan kanannya masih menggenggam lempengan prasasti milik Arjuna Wijaya.
“Edan! Benar-benar edan! Dapat peringkat kok paling terkorup. Mau dibawa ke mana mukaku ini?” gerutunya tak henti-henti.
“Hatta, Hatta, ayo bangun! Apa kau masih akan menolak bangun setelah membaca ini?!” sambil mengacungkan koran di tangan kiri.
Namun ketika hanya tinggal beberapa meter ke tempat Hatta masih terlelap, beberapa orang berseragam tiba-tiba saja datang menghadang langkah Sukarno. Ada yang meletup-letup dalam dada tatkala melihat beberapa orang berseragam itu mengarahkan senjata kepadanya.
“Gila! Bagaimana bisa kalian mengkhianati pemimpin sendiri?” [] -g
Kalinyamatan – Jepara, 2014

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adi Zamzam
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” pada 22 Februari 2015