Profesor yang Menuliskan Kematiannya

Karya . Dikliping tanggal 11 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos
DARI sebuah lorong rumah sakit, seorang lelaki berjalan dengan tergesa-gesa. Meskipun yang sebenarnya adalah langkah yang lamban dan terengah-engah. Ia harus segera pergi dari tempat itu setelah beberapa menit sebelumnya ia bertemu Dokter Kum. Lelaki itu sampai juga di parkiran dan membuka kunci mobil. Ia duduk dan menghela napas panjang. Seharusnya ia tidak menyalahkan Dokter Kum atas apa yang dikatakannya beberapa menit setelah ia bertanya banyak hal. Tapi kecemasan lelaki itu menyergap kakinya untuk segera pergi dan kini ia menyesal telah mengetahui tentang apa yang menimpanya belakangan.
Lelaki itu berwajah tua dengan rambut hitam pekat. Ia rajin menyemir rambut ubannya ketika matahari belum muncul dan ketika suara pengantar koran melengking di luar pagar. Lelaki itu tentu saja memiliki keluarga. Istrinya memiliki usaha di bidang perhiasan dan masih aktif dengan berbagai komunitas dan kegiatan. Anak tertuanya berada di luar negeri dan bekerja di perusahaan asing. Anak bungsunya juga sudah menikah dan menjadi ibu sekaligus pemilik majalah remaja. Lelaki itu tentu saja sudah tua. Ia menamatkan sekolahnya bertahun-tahun lamanya hingga kini ia dipercaya mengajar kesusastraan selama belasan tahun di sebuah universitas terkemuka. Lelaki itu bernama Profesor Har.
Ilustrasi oleh Bagus

Mengenai apa yang dikatakan Dokter Kum, Profesor Har terlambat untuk mengetahui sebuah penyakit yang ada dalam tubuhnya. Mulanya professor Har terjatuh saat berada di depan kelas dan mengajar mata kuliah perbandingan bahasa. Profesor Har dilarikan ke rumah sakit oleh para mahasiswa. Maka setelah didiagnosa seminggu, Dokter Kum menyatakan Profesor Har terkena ataxia yang menyerang otak kecilnya. Sontak saja ini membuat Profesor Har cemas luar biasa. Bagaimana ia bisa menjelaskan pada istri dan kedua anaknya perihal hasil yang dikatakan dokter. Meskipun sang istri juga akan tahu dari hasil faks yang dikirimkan langsung oleh Dokter Kum. Profesor tidak bisa membayangkan wajah sedih dari sang istri. 

Segera dihidupkannya mesin mobil dan pulang ke rumah saat istrinya sedang keluar. Ia hanya berharap menuntaskan kegelisahan hati dan bersikap seperti hari-hari sebelumnya. Tanpa kesakitan dan tanpa kesedihan. Bukankah semuanya selama ini tampak membahagiakan. Sebagai seorang profesor, hal baik sudah ia rengkuh selama puluhan tahun. Ia hanya butuh sedikit istirahat, begitu pikirnya.
Ketika memarkir mobil, ia ingat apa yag dikatakan Dokter Kum. Penyakit Ataxia menyerang otak kecil dan tulang belakang sehingga bisa mengakibatkan gangguan motorik. Ia bisa saja tiba-tiba kram dan tidak berdaya melakukan apa-apa. Tetapi ia tetap memiliki kemampuan berpikir seperti biasa. Profesor Har sedih dan menyepi di dalam ruang perpustakaan miliknya.
Dikuncinya pintu dan bersandar di atas sofa abu-abu kesukaannya. Ia menerawang ke luar jendela dan mulai membayangkan kehidupan yang perlahan-lahan menyakiti dirinya. Ia tidak ingin mati sia-sia, meskipun sadar bahwa pada umur yang sedemikian maut bisa saja datang. Namun hal yang menyakitkan adalah tahu bahwa perlahan akan lemah dan tak berdaya serta memerlukan bantuan orang lain. Profesor Har tidak bisa membayangkan ia harus duduk di kursi roda atau terbaring di atas ranjang dan tidak bisa mengajar kembali. Ia kemudian terbatuk-batuk. 
Diambilnya buku catatan dari atas meja dan membuka halaman demi halaman di dalamnya. Ia merasa ingin menuliskan sesuatu, maka ia mengambil pena dan menulis kata-kata itu.
“Seseorang akan mati dengan atau tanpa ia persiapkan apa-apa. Ia akan mati setelah melalui banyak hal. Saya, profesor Hardito. Tidak menyangka akan menanti kematian dengan penyakit ini, penyakit langka yang disebut Dokter Kum berulang-ulang hingga saya tidak bisa mengatakan keinginan lain selain bebas dari perasaan takut ini.” Profesor Har terdiam. Ia mendengar bunyi mesin mobil yang memasuki pagar. Itu pasti istri tercintanya. Ia menaruh kembali buku catatan ke atas meja dan bergegas melihat istrinya.
Istrinya masuk dan melihat ia pulang lebih cepat. Maka profesor Har langsung menjelaskan bahwa ia kelelahan dan butuh istirahat. Sang istri dengan mimik muka sedih memegang pundak Profesor Har dan menuntunnya ke kamar. Sang istri menatap matanya dalam-dalam.
“Aku tahu kita telah menjalani kehidupan ini berpuluh tahun. Bagaimana aku bisa melupakan sedikit saja perubahan apa yang tengah kau hadapi. Apa kau tidak menyemir rambutmu lagi hanya karena masalah ini? Aku bergegas agar kau tidak sendirian. Jika kau menghadapi ketakutan akan hal ini, aku akan lebih mencemaskanmu. Sekarang, lihatlah apa yang aku bawa. Kau tidak tahu kalau aku sudah memikirkan semuanya.”
Profesor Har menunduk. Melihat kuku-kukunya yang tampak memanjang. Ia ingat kalau seharusnya ia juga mencukur jambang dan menaruh pisau cukur dengan teliti. Tetapi suara sang istri membuat Profesor Har menoleh.
“Dokter Kum memberitahuku. Itu sangat membantu kita untuk saling menguatkan bukan? Kau tidak sendirian. Aku pikir anak-anak kita juga akan pulang dan berbuat hal-hal yang semestinya meraka lakukan.
“Jangan!” Profesor Har memotong ucapan. Ia kemudian mendesah dan berjalan ke tepi jendela.
“Mereka bersusah payah mendapatkan impian mereka. Aku tidak ingin merepotkan siapa-siapa termasuk dirimu. Aku ingin tidur agar aku bisa mengajar besok pagi.
Sang istri diam saja dan menaruh bungkusan di atas meja. Profesor Har kemudian berbaring di atas tempat tidur dan memejamkan mata. Apa yang tampak dari sang istri berusaha ia abaikan. Profesor Har ingat catatan di dalam perpustakaannya. Tetapi sang istri mencoba mengajaknya bicara.
“Masih sore dan kita belum menonton televisi berdua. Kau tahu kalau kita suka bicara tentang kematian dalam sebuah film. Orang-orang menganggap kehidupan akan selalu ia rengkuh dan berusaha melupakan kehidupan setelahnya. Hanya sedikit saja pengorbanan jika kita berupaya untuk menghadapinya. Aku suka membayangkan kita juga akan bertemu setelah kematian memisahkan. Kita akan baik-baik saja kini dan nanti. Tidak ada yang perlu kau takutkan, Har. Kita sudah punya anak dan cucu.”
Profesor Har duduk dan bersandar. Ia ingin membicarakan satu hal pada istrinya. 
“Aku tidak sepenuhnya merasa ketakutan setelah kau mengatakan hal demikian. Tetapi aku tetap saja memiliki kecemasan itu dan berusaha duduk di antara dirimu dan anak-anak. Mahasiswa dan para sahabat lainnya. Aku ingin menyampaikan lebih banyak hal yang ingin kukatakan. Aku hanya tidak tahu harus bagaimana jika Ataxia ini membuatku seperti orang bodoh dan menghakimi dirimu untuk terus-terusan membantuku. Meski kita bisa saja menyewa perawat. Apakah kau akan membiarkan aku berada dalam situasi buruk ini. Tentu saja tidak, bukan?”
Sang istri tersenyum. “Begini saja. Dokter Kum tentu seorang dokter hebat yang puluhan tahun juga mengurus orang-orang sepertimu. Kita bisa memintanya membuat hal-hal menakjubkan untuk kau lakukan. Bukankah ini seperti hal yang mendebarkan jika bisa membuatmu merasa lebih baik.”
Profesor Har menyentuh muka dengan telapak tangannya. Ia tidak bisa menyembunyikan kesedihan dan memandang sang istri yang terus menyemangatinya. Ia lupa bahwa dalam empat puluh tahun pernikahan mereka, sedikit saja sang istri tidak pernah meninggalkannya. Ia kemudian menangis. Menangis sekeras-kerasnya.
“Kalau begitu temani aku makan,” ujar Profesor Har sambil menyibak selimut di kakinya. Ia berdiri di samping sang istri. Keduanya tersenyum dan melangkah keluar dengan perasaan yang mengambang.
***
Sejumlah orang tentu saja sudah berada di depan rumah Profesor Har sejak dini hari. Ketika pagi pintu terbuka. Ada lolongan anjing di halaman belakang dan hawa dingin yang terasa menusuk kulit. Anak perempuan Profesor Har dihubungi dan tiba di sana, serta menemukan keadaan itu, ia meminta orang-orang agar meninggalkan tempat itu dan berusaha mengabaikan kejadian yang mengganggu perhatian mereka. Anak perempuan itu menarik catatan dari bawah lipatan baju sang ayah.
Bangunkan aku jika kematian juga belum menghampiriku.
Anak perempuannya menggoyangkan tubuh sang ayah setelah anjing-anjing dalam kandang berhenti menggonggong. Profesor Har bangun dan terkejut. Ia bertanya ke mana sang istri yang setia menemaninya.
Anak perempuan itu mendesah. Kematian sang istri sejak tiga tahun lalu membuat sang ayah dilanda depresi sangat berat. Ia mengajar sesuka hati dan seringkali duduk diam menunggu sang istri hanya untuk menceritakan perihal diagnosa Dokter Kum yang telah lampau. Bahwa perihal kematian, Profesor Har lupa ada kuasa Tuhan di sebaliknya. Profesor tidak beranjak dari tempatnya, ia hanya ingin menulis, menuliskan kematian yang ia inginkan. ***
Pekanbaru, September 2014
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Cikie Wahab
[2] Tersiar di surat kabar “Jawa Pos” pada 11 Januari 2015