Perihal Tokoh Utama Komik – Telanjang di Depan Cermin – Laut Berparuh Merah – Menjatuhkan Bintang-Bintang

Karya . Dikliping tanggal 19 Mei 2013 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Perihal Tokoh Utama Komik

Ia berdiri. Luhur dan hening. Rapuh dalam ikatan yang
rawan putus. Diselubungi jaring laba-laba dan kebisingan
dari kepalanya. Matanya terpejam bagi puing-puing, juga
bencana yang masih rencana.

Sepasang tangannya terentang. Lapang bagi penerimaan.
Seperti sayuran terpotong-potong. Mencintai pisau dan api
dapur. Kepalanya menampung penyakit. Sebagian berperang
melawan seluruhnya.

Bibirnya dijahit. Perutnya penuh kebakaran dan kelaparan.
Kemauannya lunak bagi kebingungan dan keras kepala.

Tubuhnya dicabik-cabik waktu. Berisi sesuatu yang
mengizinkan tubuh lain tumbuh ditubuhnya. Paru-parunya
sering kering. Hatinya kuning. Jantungnya memompa
kehidupan yang ragu-ragu.

Bahunya lebih kuat dari batu gunung. Pembuluh darah
menuangkan udara ke dalam suaranya. Menghamburkan
kekuatan untuk setiap ons takdirnya. Ia hidup. Dihiasi
pakaian berbagai warna. Ia bicara menggunakan bahasa roh.
Tidak masuk akal, namun penuh tetapi. Ia kadang meratapi
bebannya. Ia menggantungkan diri di kontrak besar yang
tidak pernah ditandatangani.

Hatinya selalu berduka dengan harapan suatu hari ia utuh
kembali. Awan akan hilang. Api yang membakarnya dari
dalam akan dingin. Lengannya terpasang lagi – dan tumbuh
jadi kebun baru. Kepalanya menjadi seluruh. Hatinya merah.

Ia cantik. Pemurah dan tidak pemarah. Tak tertandingi
senyumnya. Ia akan menggodamu dengan cerita yang tidak
ada ujungnya. Dongeng dan musik ajaib. Ia waktu. ia seorang
ibu. Ia mengandung dewa-dewa. Ia rahim ribuan
penyembahan dan tarian.

Namanya sama dengan nama negaramu. Sepasang lengannya
terentang. Mencintai pisau dan api dapur.

2013

Telanjang di Depan Cermin

Aku berdiri di depan cermin. Telanjang dan mencari
intim dari seluruh yang tiba-tiba asing dan liar.

Baca juga:  Sebelum Membaca - Sebelum Percaya - Sebelum Sendiri - Sebelum Bicara - Sebelum bertemu - Sebelum Pulang

Rambutku hujan, atau komet di langit malam. Rahang
persegiku mahir menakut-nakuti tangan pencari yang lemah
lembut. Mereka akan melihat benteng kokoh, bukan benteng
pemalu. Bibirku langit dan kakinya pada pukul 6 sore. Atau
teluk yang ditakdirkan tidak dipeluk sempurna.

Lekuk teluk bibirku mencibir dua danau di atasnya. Tetangga
yang tak pernah saling mengunjungi. Sepasang kesepian.

Masa depan mataku adalah kemarahan. Juga kelemahan
tempat cinta terjatuh. Suatu hari kelak kau akan mengatakan
hal indah mengenai mataku. Mataku kegelapan yang
mengenakan bintang-bintang tidak mati. Gelap seperti dasar
lautan. Seperti pertanyaan yang menolak semua jawaban.

Mataku menyembunyikan rahasia, termasuk dari dirinya
sendiri.

Aku mencengkeram wajahku. Menyarankannya pantang
menyerah. Hidungku jalan sempit dan datar. Aku mewarisi
keterbatasan. Modal baik bagi petualangan.

Aku menelusuri garis leher hingga pinggang. Tebing gunung.
Para pendaki belum pernah ke sana. Lenganmu masa
Depannya. Juga payudaramu. Kau akan kelelahan menanjak
ke puncak. Di bahuku akan dibangun perusahaan dan rumah
tempat seorang perempuan pelancong akan mampir. Juga
tempat kita berbulan madu selamanya.

Meski sudah kuat, tubuhku masih ingat aroma rahim ibunya.
Segera akan datang kau menawarkan rahim berparfum merek
lain. Jahat –  dan murah senyum.

Tungkai kakiku sepasang pohon. Berdiri di kiri dan kanan
jalan bersemak. Ia akan mengembalikanmu pada rahim ibu.

Aku remaja tiga belas tahun. Berdiri telanjang di depan
cermin. Tubuhku negeri asing. Masih menunggu
masa datang kau.

Baca juga:  Di Mana Alamat Rindu

2012


Laut Berparuh Merah

Akan kuhentikan tahun-tahun diamku demi mengatakan kau
cantik. Setelah itu, aku bunuh diri. Atau memintamu menjadi
seekor gagak yang mematuk mataku. Aku ingin melihat
perihal terakhir sebagai merah paruhmu.

Halaman dan rumahmu penuh langit jatuh. Permukaannya
menyentuh dan menjadi kalung bagi leher kotamu. Laut
merebut kau. Matamu berteman dengan ikan dan terancam
mata pancing.

Laut adalah langit, namun sedikit lebih basah. Keduanya
cemburu pada matamu.

Waktu jadi siang yang padam berminggu-minggu.
Menggenang seperti kenangan yang ditinggalkan jalan
pulang.

Bencana melandai dan jadi tongkat yang menggandeng
Tanganku ke pantai. Dengan gemetar rindu, aku sentuh
alismu. Sesuatu yang asin dan asing menjawabku. Butir-butir
garam yang terbuat dari masa lalu kita. Aku tak bisa
merasakan angin lagi sebagai lagu. Ia menyebut terlalu
banyak nama.

Bekas lukaku hidup seperti sisa air yang terperangkap di
telinga usai mandi. Seperti gigi bungsu. Susah payah tumbuh
dan merobek gusiku.

Kau kini laut berparuh merah. Tulang rusukku debu. Cinta
jadi lumpur, jika aku menyentuhmu. Aku menyimpan napas
terakhir dalam botol. Aku meletakkannya di rambut-rambut
halus tubuh berombakmu.

Kelak jika kau bangkit, lolos dari laut. Aku akan menyusun
debu-debuku kembali sebagai kita. Sebagian kuciptakan jadi
kata-kata yang cuma mencintai mulutmu dan telingaku.

2012

Menjatuhkan Bintang-Bintang

Aku akan menggulung langit malam seperti karpet Turki dan
menjualnya kepada penawar tertinggi. Akan aku lepaskan
binatang buas dari diriku. Ia pernah tidur berabad-abad di
rumah ibadah. Selalu lolos dari perangkap cahaya.

Baca juga:  Pada Suatu Ketika, Dirimu Adalah Jarak - Rencana Kecil

Aku belajar dengan cara mengabaikan. Tetapi, sekarang,  aku
ingin berhenti sejenak. Mengingat nama mereka yang
ditelan di pasir hisap pikiranku tahun lalu. Ada hutan hitam di
kepalaku. Waktuku penuh tengkorak. Kakiku tangga.
Memanjat dan menjatuhkan diri sendiri. Kepalaku pernah
lebih ringan dan bulu burung gelatik. Menggelitik seperti
riak-riak halus di perut perahu yang berbaring di perut telaga.
Menggoyang langitku.

Begini ramalan cuaca pekan ini: Besok: Lebih cerah dari
senyum bayi. Lusa: Langit remaja jatuh cinta. Ceria dan
mengumpulkan hujan. Kamis: Penuh awan berbentuk tanda
baca. Jumat: Curah dari awan mirip kebun binatang. Sabtu:
Api dan apapun yang menyerupai itu. Minggu: Tidak ada
cuaca.

Hati-hati. Angka bunuh diri langit bisa tiba-tiba meningkat.
Begitu juga dengan kelembaban dan keasinannya. Tetapi aku
akan berjalan-jalan di cakrawala ketika matahari mendarat
di topiku.

Aku akan menggulung langit malam seperti karpet. Sebagai
bintang-bintang, kau akan berjatuhan. Di cahaya sekarat
senyum terakhirmu ada sesuatu yang nampak serasi.

Mengerikan dan menantang. Aku untuk pertama kali
kaupahami.

2012

M Aan Mansyur tinggak di Makassar, Sulawesi Selatan. Buku puisinya yang terbaru adalah Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita (2012)

Rujukan:

[1] Disalin dari karya Aan Mansyur
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 19 Mei 2013