Hantu Bernyanyi – Menjadi Lumba-lumba – Menjadi Hantu – Belajar Berenang

Karya . Dikliping tanggal 3 November 2013 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Hantu Bernyanyi

Ia menekan-nekan tuts keyboard mengetik kata piano lagi
dan lagi, juga titik dan koma, sambil dalam hati menyanyikan
lagu ciptaannya, yang di ingatannya tinggal beberapa larik:

           1. Berdering-dering Halo yang aku kirim sejak bertahun-
tahun lalu belum kau jawab hingga sekarang. Aku
tahu kau dengar.

          1. Kepalaku kampung, dipenuhi anak kecil yang
berlarian mengejar bayang-bayang mereka sendiri.
Aku melihat diriku.

Di layar komputer, ia lihat piano-piano seolah-olah
dikerubungi sekawanan semut. Jika ia pemabuk, pikirnya,
tanda-tanda baca itu menyerupai kunang-kunang.

Tak ada hujan. Jika hujan datang malam itu ia akan menjadi
penyebab.

*

Meski tidak mabuk, ia masuk kamar mandi. Ia siram
kepalanya. Ia kosongkan bak. Ia tetap tidak mampu
menghafal lagu ciptaannya sendiri.

Sisa-sisa air yang tertinggal ditelinganya seperti bisikan
kekasihnya yang pergi bertahun-tahun sebelumnya.

Setelah melepaskan handuk, ia tiba-tiba tidak bisa
membedakan antara kantuk dan angin. Ia berjalan ke tempat
tidur tanpa mengenakan apapun kecuali rambut yang tergerai
basah dan bekas luka.

Ia pejamkan semua mata lampu dan matanya. Ia lihat di
halaman bunga satu demi satu mekar bersama masa lampau.

Tak ada hujan. Jika hujan datang malam itu ia akan menjadi
penyabab.

*

Ia tidur seperti tanda kutip dan semua yang ia lihat dalam
mimpi adalah pahlawan. Baginya, yang layak jadi pahlawan
hanya bunga-bunga dan anak-anak. Tetapi, bukan itu
maksudnya, katanya ketika terjaga oleh suara sirine yang
semakin mendekat.

Baca juga:  theory of discoustic*: remix - mengantar ibu pulang

Ia bertanya-tanya, apakah harus terjaga hingga pagi agar
mampu kehilangan mimpi. Ia tak mau dikejar-kejar mimpi
masa kecilnya. Masa kecil amat rakus, mengubah manusia
menjadi undur-undur.

Tak ada hujan. Jika hujan datang malam itu ia akan menjadi
penyebab.

*

Ia lapar. Sangat lapar. Ia seolah punya kekuatan yang mampu
memakan malam dan seluruh isinya. Ia lihat, di jendela,
bulan sudah habis ditelan pelan-pelan oleh bayangan bumi. Ia
merasa lebih kuat dari sekedar bayangan bumi

di tengah laparnya yang belum melahap apapun, ia lihat
mobil jenazah berhenti dan menunggu di depan rumah
tetangga. Ia ketakutan dan beberapa bagian lagunya yang
hilang tiba-tiba pulang menemaninya.

Jika aku menyukainya, ia bernama kesepian. Jika aku
Membencinya, ia bernama kesepian.

Aku akan pergi, aku akan segera pergi. Begitu juga
Denganmu. Begitu juga mereka.

Ia bernyanyi dan bernyanyi sendiri hingga ia raib ditelan
suaranya sendiri.

Tak ada hujan. Jika hujan datang malam itu ia akan menjadi
penyebab.

*

Malam-malam berikutnya, penyanyi itu menghantui
rumahnya sendiri.

Menjadi Lumba-lumba

Aku pernah punya mimpi. Kau menulis angka-angka
penanda dibahuku, semacam tato permanen. Aku juga
menulis angka-angka serupa diperutmu, dan kau tertawa.
Ujung pisau yang aku gunakan menulis membuat rahimmu
geli. Kita telanjang, bergandengan tangan, berjalan dalam
dan tiba di tebing, lalu aku terjun ke sungai tapi kau
tidak.

Baca juga:  Langkah Waktu - Sepotong Doa yang Belum Tumpah - Sungai di Dadaku - Mengasah Usia - Sepucuk Kenang - Jenjam

Kelak, pada satu hari Sabtu, saat kau sibuk di kantor, aku
mencium pucuk hidung anak-anakmu di bibir kolam renang.

Menjadi Hantu

Aku ingin tidur seharian di sepatumu saat kau pergi ke kantor
menggunakan sepatu lain. Menunggumu di rumah tanpa
mengeluh.

Aku ingin jadi warna kesukaanmu, melingkari lehermu.
Berpura-pura sebagai selendang, karena seorang pria lain
tidak putus menginginkan dadamu.

Aku ingin mendengkur sebagai ular sawah atau angin di sudut
kamar, di tumpukan pakaian kotormu. Mereka hangat, dekat,
mendekap, dan masih beraroma kita.

Belajar Berenang

Kau nyala langit yang biru pada pangkal bulan April dan
awan yang menolak warna selain putih. Kau setapak
berundak-undak di belakang rumah dan bayangan pohon-
pohon yang menyembunyikan daun tua dan hewan melata.
Kau tebing dan suara angin yang memantul-mantul.

Kau nyali yang melepaskan pakaianku dengan malu-malu.
Kau langkah-langkah yang hendak dan tidak ke bibir jurang.
Kau tangkai pohon yang tidak kutahu namanya, tempat
tungkaiku gemetar sebelum terlambat memegang sesuatu.

Kau udara sesaat yang membuatku berdoa. Kau ketenangan
yang terbuka dan terluka menerima tubuhku yang telanjang
dan jatuh sebagai jala yang gagal mengembang. Kau ikan
warna-warni yang kaget dan sembunyi ke balik batu.

Baca juga:  Perihal Tokoh Utama Komik - Telanjang di Depan Cermin - Laut Berparuh Merah - Menjatuhkan Bintang-Bintang

Kau benda-benda pendiam di kedalaman. Kau air yang tiba-
tiba keruh dan kepanikan yang menyakiti dadaku. Kau nyawa
yang lepas seperti balon-balon kecil dari paru-paruku.

Kau jari-jari air yang mengangkatku pelan-pelan ke
permukaan. Kau kekuatan yang kutelan dan kuembuskan
berulang kali. Kau kapak yang membuat lenganku bergerak
menggapai-gapai.

Kau keriangan yang tidak capai bergolak dalam darahku. Kau
Keseimbangan yang berhati-hati dan tidak menginginkanku
berhenti. Kau matahari yang memerahkan punggungku.

Kau rumah yang membuatku lupa pulang. Kau petang
dan burung-burung yang mencari sarang. Kau senyum yang
kusembunyikan dari kemarahan ibu.

Kau kebahagiaan yang terlambat terpejam. Kau yang pertama
dan akan selalu basah dalam mimpiku. Kau yang terbangun
tengah malam dari mataku.

Kau sungai yang memanjang lalu melapang sebagai laut
karena khawatir aku jatuh sekali lagi. Kau masa kecil yang
sekarang kukenang dengan rasa bersalah dari dekat jendela
dadurat pesawat terbang.

M Aan Mansyur bekerja di Komunitas Ininnawa, di Makassar, Sulawesi Selatan. Buku puisinya antara lain Aku Hendak Pindah Rumah (2008) dan Tokoh-tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita (2012).

Rujukan:

[1] Disalin dari karya Aan Mansyur
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 3 November 2013