Pintu Waktuku – Penat Menggenap – Mengemas Segala Cemas – Rubuh Dalam Peluh – Mantera Bidadari

Karya . Dikliping tanggal 24 Februari 2014 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Pintu Waktuku

pintu mana yang hendak kautuju
sedangkan kelak
akan kaulihat
benda-benda serupa pintu
sementara tubuhmu sudah tak kuat
menyangga beban sekarung kunci
yang semuanya telah patah
dan kau, hanya akan berdiri
di batas pintu waktu
yang terbangun dari cerita-cerita purba

Penat Menggenap 

seperti suara dalam air rinduku
jadi santapan ikan-ikan
menggelembung lalu mengapung
menguap tanpa alamat
o, penat yang menggenap
biarkan aku lelap
memeluk gelap

Mengemas Segala Cemas

rindu menggenang di taman kota
gerimis meluruhkan baris puisi
yang kutulis di trotoar jalan
ah, sebaiknya aku bergegas
mengemas segala cemas
agar cinta tak tergilas

Rubuh Dalam Peluh

bagi: dharmadi

tersungkur pada subuh
yang bergema memecah pagi beku
rubuh dalam peluh kepada sang teduh
semoga hati ini tetap utuh

Mantera Bidadari

: wa ode wulan ratna

di negeri bidadari
denting malam dan temaram cahaya
mengiring perarakan
bidadari memasuki kastil tua di punggung bukit
lagu-lagu purba mengalun sepanjang jalan
tarian meliuk menuju meja altar
ketua bidadari mengangkat cawan
“aku ingin lelaki!”
mantera bidadari
menguapkan sesaji bagi dewa-dewi
dupa menyala
hasrat membara
aku ingin lelaki!
aku ingin lelaki!
Joshua Igho, penyair dan pegiat musikalisasi puisi, bergiat di Akademi Kebudayaan Tegal. Buku puisinya Nyanyian Kemarau (Smartpro, 1999). 


Terimakasih kami haturkan kepada penulis yang telah berkenan mengirimkan karyanya untuk kami dokumentasikan di sini. Salam Sastra

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joshua Igho
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 24 Februari 2014