Sampur

Karya . Dikliping tanggal 11 Mei 2014 dalam kategori Arsip Puisi, Jawa Pos

Sampur

malam telah purnama
jalanan remang
hanya bulan mengawasi langkah
sunyi
tak ada gending
suara kemarau merajai
melintasi waktu
aku tak memahami arti reinkarnasi
perjalanan ini sedikit menyesakkan
*** 
suara kaset memanggil
beberapa orang melangkah
seirama
lapangan asing di sebelah rumah miring
siapakah yang sedang menari
tawanya begitu membuat iri
laki-laki setengah mabuk
bermata tertutup
menarik sampur
ngutit bumi ngutit lintang 
menjelajah malam
***
para dhanyang tiba-tiba menarikku
mengantar ke gerbang desa
ratusan tahun berlalu 
tiba-tiba aku tahu arti reinkarnasi
***
kulit mengencang
mata liar dan bibir banal
aku jatuh cinta pada diri sendiri
tak salah bukan?
srensen mengubahku jadi putri
turun langsung dari langit
tanpa kereta kencana
tamu-tamu berdatangan
suaraku berhasil memanggil mereka
podo nonton
pudak sempal ring lelurung1
 di antara suara kethuk, kendang, gong
aku melihat sekeliling
aroma pandan
mistis memagari
deleg duwur deleg manthuk
juragan sapi tersenyum memikat
tangannya baru saja merogoh saku
gusti, aku takkan membagi tubuh
ini milikku
***
beberapa hari lalu ritual meras selesai kujalani
jenang merah, santan, dan tumpeng syarat mutlak
aku telah jadi gandrung
menari tanpa restu ibu
berkeliling kampung dan hutan-hutan
ditanggap pejabat sampai juragan
selesai ritual aku didatangi seseorang
kamar bau menyan
dia berkata
aku keturunannya
menari darahku
menyanyi kesukaanku
katanya
aku harus memakai celana besi
mengunci
dan memastikan jadi perawan
seumur hidup
***
beginilah caraku mencintai diri
omprog gemerlap hio
aromanya memabukkan
pemaju mendekat 
geleng kepala
senyumku bengis
mengiris malam
sampur diayun
pemain kluncing melempar lawakan
langkahnya mengikuti gerak
gedhog menawarkan aku
***
lelaki berkumis bertanya nama
tentu saja dia orang baru
gerakannya kaku memandang oncer
aku mendelik
meninggalkan pentas menunggu gending berikutnya
***
sampur dilempar
malam menjadi pagi
lapangan umpama embun segar
aroma bir aroma birahi
duduk khusyuk
memandang langit
ocehan para penggila
ruwat tubuh
rasa perawan masih lekat
sampur mengikat napas 
***
berjalan menunggu penjemputan
para dhanyang tiba-tiba menarikku
melesat 
meninggalkan pagi dan kepul muslihat 
Banyuwangi, 2012
Keterangan:

lirik “Podho Nonton” dinyanyikan saat pertunjukan gandrung dimulai

sampur          : selendang
ngutit bumi : menyenggol payudara
ngutit lintang : menyenggol kemaluan
dhanyang : roh yang menjaga dan mengawasi sekelompok masyarakat 
deleg duwur : gerakan kepala dan leher bagian atas ke arah kiri dan ke kanan
deleg manthuk : gerakan kepala mengangguk
omprog         : mahkota
kluncing          : triangle
gedhog          : orang yang bertugas membagi giliran menari bersama gandrung
oncer : potongan kain ditempatkan di sekeliling pinggang

Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada Sekar Arum (eMail: tulisansekar@gmail.com) atas kiriman karya puisi ini kepada klipingsastra. Salam Sastra
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dian Hartati (source: sudutbumi.wordpress.com)
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Riau Pos”