Mengunjungi Museum – Menyaksikan Pagi dari Beranda – Mengamati Lampu Jalan – Menyimak Musk di Kafe

Karya . Dikliping tanggal 15 Juni 2014 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Mengunjungi Museum

1.
Ada remaja abadi yang tidak kaukenal dalam diriku.
Selalu, di museum yang sama, ia seperti patung
belum dirampungkan pahat. Ia tak mampu
membedakan antara menghadapi lukisan dan berdiri
di puncak tebing. Ia menjatahkan diri ke semesta
benda-benda di bingkai ketika belum jadi bangkai
atau hantu.

Tempat tidur dan segala yang tertanggal di atasnya
masih pepohonan. Bekas luka dan kesendirian
perempuan itu masih kuda muda liar dan
senyuman. Dan lain-lain yang hanya terlihat jika
kausentuh. Waktu, umpama, sebelum terkutuk jadi
kalender atau jam dinding yang ketagihan
mengulang hidup dan tidak menyelesaikannya.

Dunia lama selalu baru terjadi di hadapannya. Ia
menjauhkan diri dari segala yang ada di luar pintu
museum. Ia merasa terjebak di antara doa dan
ciuman pertama. Jika ia menganggap lukisan
sebagai keindahan, semesta itu memudar. Ia tidak
ingin aman dan tercatat sebagai penghuni masa
lampau terlalu cepat.

Ia dan seorang gadis di sekolahnya pernah saling
jatuh mencintai. Semua pria dewasa, termasuk guru,
hanya orang bodoh di depan gadis itu. Ia ingin gadis
itu tumbuh lebih nyata dari kecantikannya. Ia ingin
menjadi sihir dan gadis itu percaya pada keajaiban.

2.
Ia ingin sihir tampak nyata dari lukisan atau
lebih hidup dari seluruh yang sibuk di luar museum.
Tapi ia tak ingin cinta jadi tangga yang mengangkat
merendahkan diri sendiri.

Baca juga:  Hari-Hari 1965-1967 - Kampung Hilang dari Peta - Mata Air - Sungai Gajah Uwong - Menyusuri Leluhur di Kampung

3.
Ia setuju, dan ia tak setuju. Ia melihat gadis itu tak
mampu menerima hidupnya sendiri sebagai
kesibukan yang lumrah dan boleh ditunda. Ia
mengejar dirinya sebagai karir, mengubah
kecantikannya jadi jam kerja.

Di museum, ia ingin mengembalikan bekas luka di
punggung perempuan itu jadi senyuman. Ia ingin
meniupkan apapun yang mampu mengubah ranjang,
selimut, dan pakaian perempuan itu jadi serat-serat
pohon. Ia ingin menjadi penyair atau, setidaknya,
kembali jadi seorang yang belum pernah bercita-cita
mengenal kuas dan warna. Ia ingin jadi pencuri
takdir sendiri, pulang ke sekolah yang tidak kenal
ujian dan acara penamatan.

4.
“Setiap orang adalah lukisan, jika tak membiarkan
diri terperangkap bingkai,” kata pelayan toko buku
itu pada hari terakhir bekerja, hari terakhir sebelum
jadi hantu lain di pikiran remaja abadi dalam diriku.

Menyaksikan Pagi dari Beranda

Langit menjatuhkan banyak kata sifat. Tidak satu pun
ingin kutangkap dan kuingat. Kubiarkan
mereka bermain seperti anak-anak kecil sebelum
mengenal sekolah. Mereka menyentuh pepohonan
dan membuatnya berwarna-warni. Mereka
memanjat dinding dan jendela bercahaya. Mereka
mencelupkan jemari di kopi dan mimpiku meluap
jadi mata air di halaman.

Orang-orang melintas membawa kendaraan.
Mereka menyalakan radio dan tidak mendengarkan
apa-apa. Mereka pergi ke kantor tanpa membawa
kata kerja. Mereka tergesa, tapi berharap tidak tiba
tepat waktu.

Jalanan keruh sekali setelah pukul tujuh pagi. Satu-
satunya jalan keluar adalah masuk. Tutup pintu.
Biarkan jalanan tumbuh dengan hal-hal palsu.

Baca juga:  Yang Terjaga Dalam Azar - Air di Waktu Subuh - Siang Pada Dhuhur - Matahari Maghrib - Dari Waktu Isya' - Kemarin Pada Hitungan Yang Sama

Aku ingin mandi dan tidur siang berlama-lama. Aku
mencintai kemalasanku dan ingin melakukannya
selalu. Pada malam hari, aku ingin bangun dan
mengenang orang-orang yang hilang.

Sudah tanggal berapa sekarang?

Mengamati Lampu Jalan

-Kepada Eka Wulandari

Mereka lebih teratur daripada hukum. Mereka lebih
kuat daripada perasaan orang-orang kota. Mereka
setia dan tidak pernah memilih kepada siapa mereka
ingin tersenyum. Mereka tidak ingin terlalu terang
agar kau tidak malu pada kelelahanmu pulang kerja
– atau demi menyembunyikan ciuman entah siapa.

Lampu jalan di dekat pohon yang baru ditebang itu
mencintai lampu jalan di depan rumahmu. Lampu
jalan memiliki kekasihnya masing-masing –
sebagaimana hati manusia.

Lampu jalan depan rumahmu mati – dan bukan
hanya dirimu yang sedih. Lampu jalan di dekat
pohon yang baru ditebang itu seperti ingin menelan
cahayanya sendiri.

Jika kesedihan lampu jalan itu sampai menyentuh
lampu jalan yang lain, mereka akan sepakat berhenti
menyala. Jalan-jalan kota gelap. Lampu-lampu yang
lain – lampu di kamarmu dan di kamarku – juga
merasakan kesedihannya dan ikut memadamkan
diri. Kota-kota akan gelap dan bahkan kejahatan
takut keluar rumah.

Bulan dan matahari akan ikut memejamkan cahaya.
Kau tak pernah tahu berapa orang yang mati.

Tapi lampu jalan di dekat pohon yang baru ditebang
itu merahasiakan perasaannya. Ia tetap
menunggumu di sana dengan cahaya yang sama.
Kau seperti biasa berjalan pulang kerja
melewatinya, juga melewati lampu jalan depan
rumahmu yang mati, sambil berpikir betapa
berbahayanya kesedihan.

Baca juga:  Sebelum Membaca - Sebelum Percaya - Sebelum Sendiri - Sebelum Bicara - Sebelum bertemu - Sebelum Pulang

Menyimak Musk di Kafe

Tidak ada yang istimewa dari kafe itu. Minumannya
biasa-biasa saja. Lampu-lampunya terlalu terang.
Dan para pengunjung ribut membicarakan negara
yang sedang tidur.

Panggung dan alat-alat musik di panggung kafe istirahat
setengah jam. Pukul 2 tiba dan seorang perempuan
menyanyikan lagu favoritmu. Aku menikmati tiga
hal dari lagu itu. Gempa waktu, rasa sakit, dan
sesuatu yang belum kutahu namanya.

Aku pulang dan jalan beraroma kampung
halaman terbakar. Aku berhenti setiap ada pohon
mengucapkan terima kasih sebelum tiba pada
jam-jam tidak bisa tidur di kamar.

Lagu itu belum berhenti. Rasa sakit tumbuh seperti
kalimat-kalimat indah di buku-buku puisi Sylvi
Plath. Aku mencintaimu dan mencitai
kehilanganku atasmu.

Di kafe itu, orang-orang berbahagia demi mengibur
kesedihan mereka. aku berbahagia karena selalu
bisa sedih pernah memiliki.

M Aan Mansyur bekerja di Komunitas Ininnawa, Makassar. Buku puisinya yang sudah terbit antara lain Aku Hendak Pindah Rumah (2008) dan Tokoh-tokoh yang Melawan Kita Dalam Satu Cerita (2012).

Rujukan:

[1] Disalin dari karya Aan Mansyur
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 15 Juni 2014