Amarah – Lewong

Karya . Dikliping tanggal 7 Desember 2014 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

Amarah

Bahasamu menaklik kiri kanan, bahasaku
mengendap menyelinap. Perihal berkendara
kuda hijau, inilah aku yang patut kau ujar
mahacergas. Kesiurku gejolak singkat yang

meneku. Lembar pengetahuanku sebenarnya
kalibut sesat pengungkit angkara. Perhatikan,
tak harus aku menyibak pelbagai pustakamu.
Tiupanku khatam ngupasi sanubari dalammu.

Jurus singkatmu mutlak tak sepadan di hadapan
goda yang kulepas dalam deras desirmu. Syaraf
degupmu tentu gampang saja kukelokkan
lagi kuserimpung. Dalam hitung sekejapan,

gamang gerakmu, nanar segala tatapan. Yang
kauhafal taklah lebih niat meringkus dan
menghantar si penghalang pulang. Demi yang
tak sabar, demi meraih menantang, demi gulita

Baca juga:  Juru Silat Lidah - Juru Ulek

pandangan, kupepat benar lafal istighfar dan laku
sabar yang semayam. Dengar bujang, memucuklah
geloramu pada dendam berapi-api. Harus gemar
syahwat melibasmu bangkit dan menerkam.

(2014)

Lewong

-munajat untuk yasmin


Yang kau tunggu menubuh dan bersarang
di halaman belakang. Jangan kau bersiap
dengan ancangan tendang. Tak harus kau
kelar mendaras isi kamus beragam kamus.

Yang kau perlu hanya menyambut dan
mengujar di hadapnya, berkah terbuntut
benderang lagi keramat yang diidam orang
malang. Harap yang kau simpan, lepaslah.
Ratap yang kau pendam, kupaklah.

Bukankah kau kaum pengiba yang ditinggal
kawin si penunggu di meja seberang. Penekuk
sepertimu takluk juga dengan rupa sempurna.
Ia kembang mengundang kumbang. Hati mana
tak tertawa bila peras tertampang mutlak
menyekap pandang bujang sekampung halaman.

Baca juga:  Kata Sebuah Sikat Kloset - Baris Temparamen I - Bertemu Asrizal Nur - Baris Temparamen II

Sayang benar, kau sekadar jagoan tanggung
yang beringsut dalam perangai sabar. Tiada kau
Memeram ilmu memetik kembang. Pun tak
bernyali kau berikat dalam ikhtiar kawin lari.
Tiga langkahmu ke kanan terantuk juragan berlahan
sebukit logam berlian. Ke kiri kau dihalang
muslihat datuk yang berhikmat jampi dan sawuran.

Agar tak khilaf lagak lagammu, ini siasat halal
saja. Pencerita itu pun berkata yang berpulang
sungguh sedekat-dekat kerabat. Semoga ini jawab
atas munajat bermalam-malam.

Baca juga:  Tukang Cukur - Juru Jampi - Meneladani Juru Urat

Semogalah yang melintas ke bawah menghantar
wabah. Matilah duda yang bersanding dengannya.
Terhalanglah semua pengintip langkah gemulainya.
Semoga dikabutkan segenap kalibut, mata yang
tak kedip saat tampangnya menguar segala binar.

(2014)

Dody Kristianto lahir di Surabaya, 3 April 1986.

Saat ini tinggal di Serang, Banten.

Rujukan
[1] Disalin dari karya Dody Kristianto
[2] Tersiar di surat kabar “Koran Tempo” pada 7 Desember 2014