Gol A Gong – Serang Banten

Karya . Dikliping tanggal 7 Desember 2014 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Kota Yang Ditinggalkan Penghuninya

: kepada para kiai di Banten
Selamat tinggal, aku tak akan kembali
kenangan indah padamu sudah kukunci di bagasi
album foto cinta di dalam dus kutandai pita hitam
kini terbentang kota baru di peta perjalanan
Hidup harus saling memberi kesempatan 
hidup tak bisa memaksa selalu di atas
lihat wajah pucat tubuh kurus berjejer di kotamu
mencari harapan baru penuh api kepadamu
Seiring waktu kau daun kering menjauh dari tanah
batu nisanmu tak bernama pusaramu berumput liar
*) Rumah Dunia, Serang 19 Maret 2013

SINGAPURA

Aku menjadi China
mengambang di Orchard Road
hati berlabelkan harga
Aku menjadi India
berpesta rempah
menari sorga
Akulah di Melayu
kau mencariku
di lubang-lubang
dingin
benderang
waktu memendek
tak tahu senja
tersesat
pulang
*) Geylang. 14 Nov 2013

Lembang

Duduk di teras Dulang Resort
Lembang menggigit
kulihat Bandung bergegas
mematikan lampu
berkejaran dengan lenguh sapi
kuncup bakung
segar tanah merah
bukit dan dinding beton
Kucari-cari petani
di ladang sayuran
pagi masih sendirian
Tiba-tiba langit di kiriku
menyala
tubuhku berupa bayangan 
di lantai kayu
membentur ke mushola
di atapnya tertulis
: Alun-alun Kutoharjo, Juni 1877
Aku tahu
berjuta orang sudah bersujud
di dalamnya
mengetuki pintu rumahmu
Aku masih duduk
di teras Dulang Resort
membaca-Mu lewat puisi
Bandung terhampar
dipayungi asap
berkilauan
Kau menyalakan lampu
Di belakangku
Tangkuban Perahu terbangun
*) Dulang Resort, Lembang, 1 Des 2013

JAKARTA

Aku mengerti penderitaanmu
Kepalamu dijadikan resort
Lehermu ditanam pabrik
Tanganmu dijejali motor
Perutmu berubah mall
Kemaluanmu ditimbun batu
Kedua kakimu disesaki mobil
Aku tahu ranjangmu timbunan sampah
seluruh tubuhmu gatal-gatal
itu sebabnya kau menyuruh kodok
bernyanyi lagu hujan
*) Rumah Dunia, Serang 22 Jan 2014

SUNGAI DAN LAUT

Jangan melawan air
jangan menghalangi lajunya
alirkan ke sungai 
tunggu mereka di muara
beri slaam pada laut
mintalah padanya
dengan rendah hati
agar ombak
tak mengirimkan lagi
sampah-sampah
ke rumah kita
*) Rumah Dunia, 23 Jan 2014

*) Gol A Gong, menulis puisi, cerita pendek, 120 novel,

esai, dan skenario TV. Pernah bekerja sebagai wartawan
dan creative di TV. Buku puisinya ‘Jejak Tiga’ (AzetA, Antoloji Puisi KSI 2000, Leksikon Sastra (Kori Layun Rampan), Kumcer TSI, Tanjung Pinang (2010), Dunia Ikan (2011, Gong Publishing), Membaca Diir (April 2013)
Air Mata Kopi ( Gramedia, 2014) dan Rerunntuhan Baluwarti (Gong Publishing, Juli 2013).
Mendirikan Komunitas Literasi Rumah Dunia (www.rumahdunia.com), sebuah pusat belajar jurnalistik, sastra film, teater dan seni lukis bagi anak-anak, pelajar, mahasiswa secara gratis tahun 1998 di Serang Banten.

Rujukan: 

[1] Disalin dari karya Gol A Gong
[2] Tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat”  pada 7 Desember 2014