Lapar Itu Sepi – Hujan Akhir Tahun – Aku Terima Kabar – Nyanyian Angkringan

Karya . Dikliping tanggal 28 Desember 2014 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Lapar Itu Sepi

Sepi yang menyelami nyeri
di langit senja berawan
keresahan mencari kata baru untuk menjadi jalan
Asap, deru knalpot dan krikil rel gemetaran
sayang, ia bukan minuman penyangga lapar
Keringat mengelu dalam kaki
seluruh sudut jalanan memberontak mengajak perang 
laksana denting pedang di ruang badai
Angin, air mata dan sumber kesejukan menghantui
perawan-perawan bergoyang kemabukan
ketakutan, berlalu sebagai patahan sayap-sayap
Anak dalam gendongan terlihat melekat
di kening perempuan yang mengenang penguasa
Ini tanah air pengecut
dari bulu halus para tikus
merobek matahari bersama kelaparan
Tenggorokanku seakan menjadi ruang angin kematian
sebelum kupanggil kata puisi di mana tempat
kunikmati rasa yang berwarna masa
Tidak ada salahnya kau bermain di jiwaku
dan kuizinkan juga kau menangis bersamaku
untuk melangkahkan.

Baca juga:  Plesetan Pantun Minggu ke-1 Agustus 2015
Yogya, 2014

Hujan Akhir Tahun

Merayap ke perkampungan membawa cerita duka
Sejuta tanda tanya, kepung jalanan kota
Lukiskan pesan pada dinding gedung perkantoran
Agar semua paham tentang aroma yang tak nyaman
Melukai waktu yang terus berjalan
Tentang sungai yang tak pernah bertanya

Aku Terima Kabar

Aku terima kabar dari tetangga
Di perkampungan desa
Ada banyak kata yang dijanjikan 
Rerumputan terasa sesak membaca namanya
Mabuk oleh gambar yang bergelantungan
Pada akhirnya kata-kata itu
Meski aku tagih tiada henti
Aku terima kabar
Awal hujan
Sebagai modal buat hanyutkan utang
Tidak jauh beda, layaknya bisikan setan

Nyanyian Angkringan

Di dalamnya telah tersaji setumpuk bungkus nasi
Peralatan buat meracik kopi
Asap yang setia menyelami dingin angin malam
Terkadang bergetar menyanyikan kerinduan
Hingga suara mesin pabrik memecah
Menjilati.
Padahal jarang badai dingin malam menegurnya
Pada tubuh dan sepasang matanya yang binar
Mengandung asap, kabut yang sendu

Tak Perlu Menangis

Sebab matahari setia terbit
sebagai tempat kita menatap semesta 
dan aku juga tak ingin pagi yang berawan ini menjadi hujan
biar air matamu tidak mengadu ke mana-mana
dari lukamu tidak diartikan sebagai luka dan lara
melainkan kelembutan dan kesejukan yang tertuang
di ke dalaman jiwa penyair.

Tentang Debu

Di ruang berselimut udara itu, terlihat
Titik-titik kerikil menjelma angin
Laksana gelombang yang runtuh
Menjadi hantu di musim yang baru
DI wajah-wajah kota.
Inikah sebuah awal cerita masa
Pada napas waktu yang tersisa
Sebelum akhirnya binasa

Purnama Akhir Tahun

Berhenti menempel pada bebatuan yang berlumut
Suasana cahaya negeri mendadak gaib
Ingin rasa aku menusuknya.

Kabar Hujan

Merayap keperkampungan  membawa cerita duka 
Sejuta tanda tanya
Lukiskan pesan pada dinding gedung perkantoran
Agar semua paham tentang aroma yang tak nyaman
Selama ini melukai waktu
Tentang sungai yang tak pernah bertanya.
Hariyono Nur Kholis: lahir di Sumenep, 21 Agustus 1992.
Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aktif di Komunitas Rudal.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Haryono Nur Kholis
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 28 Desember 2014