Mata Pensil – Mata Belah – Mata Jalan – Doa Pagi yang Setia Dieja Ibu – Sajak Perempuan

Karya , . Dikliping tanggal 31 Desember 2014 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat
Puisi dan Sajak oleh NA Marimde

Mata Pensil

: AGJ
Ia ingin menaruh kebun dalam ceritanya.
Kebun yang lunak di bibir cangkul dan bebiji, Kebun untuk
menggemukkan akar jadi rempah dan menanjakkan tangkai
bagi bunga. Dan kebun, ketika burung menuruni angkasa dari 
ulat pengunggis buah yang rusak.
Ia bubuhkan aneka warna pada helai-helai tanaman
yang menggoyang hati pemamah dan petani, karena saling
memikul nasib. Nasib yang tanpa lelah dibalik dan disemai,
Nasib tentang bagaimana menghadapi hari-
hari untuk berhemat:
Ketika nanti ia berusia 7 tahun, dan tagihan terus
bertambah dalam usia ibunya. Seperti esok, tangga yang
mesti dicapai, hingga batas pun tampak. Batas antara
hidup diambang dan dikenang.
Tapi ia ingin di kamar saja, menggambar wajah ibu.
Wajah yang tahu memilih gembira atau sedih di depannya.
Meski mulut yang rajin mengomeli ia yang jika nakal serupa
Makhluk pengerat, juga manja ialah seekor pengeong yang
tak bosan menganjurkan leher.
Dan ia pun tak bosan melintaskan gurat-gurat kuning, hijau
dan ungu pada ceritanya, perihal kebun yang dibentangkan mimpi
di tangan ibunya yang selalu terbuka ke suatu arah. Arah 
yang digambarkan ia sebagai rumah.
2014

Mata Belah

Di luar hujan merekatkan gigil.
Di dalam lampu diredupkan. Malam membuat kami
kedap dan sesekali mulut mendesis di bangku seperti ular
bergelung saat mata besar itu memancarkan cahaya
dari sebuah bentangan. Ia menatapku dalam wajah-
wajah yang tanpa leluasa di tubuh kami, terperangkap
sedingin mati; terbuka dan dirajut lagi
dalam bayangan sebelum dan setelahnya,
tanpa kembali  mencapai apa-apa.
Di depanku, batu-batu didirikan semuat paru-paru
Di belakang, luka sadap mengenakan punggung sebagai 
letaknya. Agar aku meresapi tubuh seperti kesunyian
dalam jeritku sendiri. Sunyiku adalah daging mentah.
Jeritku pekat darah paling merah. Dendam kami menjelma 
makhluk-makhluk perangkak, menyerbu dan mengepung hatimu
dengan ribuan serangga karena keras kepalamu
tali di leher kami.
Tapi rahang gelap itu lebih dulu mengambil adat dan 
Cintamu, sebelum kauhalau kami agar tak terjangkit maut
yang tak pula melipat nyalimu hendak menghapus matahari
dalam diri kami. dan kau yang diusung duka atas ringkik kuda
dan pedang berlinang, sedang seorang tua di sebelahku berangan:
sejarah adalah laut terbelah.
2014

Mata Jalan

Ayahku sudah mencapai peta yang jauh dan luas.
Peta yang setiap tiba umurku di depan pintu, ayah akan
terbatuk. Barangkali terkejut karena mata yang dulu 
menerangi langkahnya, menyusup redup. Mata yang hapal 
jalan lurus dan liku di wajah Ibuku. Mata yang menelusuri
lembah dan hutan seperti seekor kijang sediakala.
Ibuku adalah sebentang daratan kecil yang dihuni
seorang gembala bagi domba-domba di hatinya. Domba yang
rapuh terhadap pengorbanan dan tersesat akan kesepian.
Sebab mata terbit dari perasaan sekaligus temaram. Mata
yang berjejak bahagia pada gunung dan bergugus sedih
dalam gemawan, yang kelak tumpah sebagai musim.
Dan aku menemukan jalan berlalu dan kini. Jalan yang 
mendatangi aku seperti mata sepi duduk-duduk di depan
rumah
sambil memegang sebuah peta dan sepatu yang berbercak 
lumpur. Sekedar rihatkah atau hendak masuk
abadi dalam diriku?
2014
***
Puisi dan Sajak oleh Sandza

Doa Pagi yang Setia Dieja Ibu

I
Jadilah sehangat matahari yang tersenyum di tubuh pagi,
Nak, dia tak butuh balas jasa atas raganya yang selalu kau 
kunyah untuk membakar bara semangat mengarungi 
lelakon hidup, membantumu menyibak onak bebal yang
menghalangi perjuanganmu kelak, jika kau bergelar
manusia berlabel sukses, rendah hati lah, tetap persuakan
ujung dagu dengan dada.
II
Jadilah sesejuk embun yang bertengger di pucuk ilalang,
Nak, dia tak akan pernah mengutuk takdir karena berusia se-
batas pagi, memandikan tanah gersang kemarin agar tak
ada debu yang mematrikan sakit di organ ragamu, kelak, ji
ka di suatu detak perjalanan kamu berpadu dengan nasib 
tak sekawan, ikhlaslah, tetap cicipi hijau dalam menikmati 
seikat hidup.
III
Jadilah sesetia ayam jantan yang berkokok di ujung dini
hari, Nak, dia selalu memproduksi suaranya, merayu men-
tari agar cepat tersenyum menyambut tubuhmu setelah 
lelahmu terhapus mimpi dunia maya, kelak, jika kau su-
dah bersanding dengan tulang rusuk kirimu, setia lah,
tetap kecup keningnya walau lipatan keriput sudah memu
darkan pesona ranumnya.
Garut, Desember 2013

Penggalan Pesan Ibu yang Akan Melepas Lajang Anak Lelakinya

/Pesan Pembuka/
Nak, tinggal hitungan gulir jarum di tubuh jam, akan
ada selekuk raga mendampingi jejak laku lampahmu
perlakukan ia selembut ulat melahirkan sutra, ia ter-
cipta dari tulang rusukmu yang bukan untuk dilu-
ruskan dengan lengkingan nada tinggi, kelak, kata
rute jejak hidupmu tersesat di selarik masalah, ia
akan merubah wujudnya menjadi peta; menjadi
petunjuk jalan pulang dan keselamatan, hatinya akan 
berpagut mesra dengan kepalamu yang kerap panas
memikirkan nasib esok hari, maka, hiaslah ia dengan
gaun kasih sayang.
/Pesan Inti/
Nak, selepas belasan sabit di raga rembulan berubah
wujud menjadi purnama, kau akan mengerti arti men-
jadi tulang punggung keluarga. bulir keringatmu tak 
lagi dilahap sendiri. rumah beserta seluruh
penghuninya menggantungkan keberlangsungan usia
di pundakmu. pulanglah di angka waktu semestinya,
kau tahu, gemerlap goda iblis akan terus menerjang
keteguhanmu. ranumranum pesona akan terus 
ditaburkannya agar lidahmu kelak mengecap bau ner-
aka, namun, ingatlah di ranah keluarga, Tuan sudah
meniupkan aroma surga.
/Pesan Penutup/
Nak, kata kalender berganti angka dan Tuan meng-
gandakan statusmu menjadi ayah, akan ada
tawatawa kecil menghiasi dinding rumahmu, ia akan
melanjutkan episode silsilahmu, citra apa yang akan 
ia umumkan kepada dunia, tergantung apa yang kau
tanamkan di kepalanya. suguhkan secawan madu
agar kelak ia dikenang manis kala senja berpagut di
pundak usiamu. suntikan rumus ketegasan agar tak
ada bantah yang menuai luka sanubarimu, namun,
jangan kau ciptakan belenggu untuk menyempitkan 
petualangan hidupnya.

Garut, Oktober 2013

Sajak Perempuan

: Ibu
Aroma tubuhmu mengeluarkan wangi kesetiaan seru-
pa rembulan yang tak jemu membulatkan diri menjadi
purnama kala almanak jatuh di angka belasan. kau 
mencumbu seksama rumah mungil kita. lekuk demi
lekuk, dinding demi dinding, lantai demi lantai, dari
wajah pagi dipanggang mentari, lantas disapu petang,
hingga dini hari menjelma dalam syahdu alunan
jangkrik. dari masa kanak ku yang banyak pinta dan
remaja penuh gejolak, hingga kepala dewasa tumbuh
di ragaku. rambut putih dan ringkih diri menjadi bukti
bahwa kau sebenar-benarnya perempuan setia.

Garut 2013

Rujukan:
[1] Disalin dari karya NA Marimde dan Sandza
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” pada 28 Desember 2014

Baca juga:  Negeri Berhidung Panjang - Ada yang Begitu Pasrah - Surat untuk Paman - Lima Setengah Tahun