Menjelang Sapu – Mensyukuri Sapu – Sapu Lidi – Sapu

Karya . Dikliping tanggal 14 Desember 2014 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Menjelang Sapu

menjelang sapu menjelang lidi
bersama pelepah bersama angin
bergoyang mengikuti irama dzikir Tuhan
ada pula yang membaca ucapan salam
menjelang sapu
lidi-lidi mempersiapkan tali
persatuan penyatuan kekuatan
daun-daun lemah dilepasi
ujung-ujung lemas dipunggali
menjelang sapu
adakah dalam doamu
lantai tanpa sapu?
bersih telah

Mensyukuri Sapu

selamat malam sapu
meski sejenak kau temui nyenyak
aku bersyukur
kau tak pernah mimpi buruk dalam tidur
bahkan kau mengejek risauku
selamat malam sapu
meski malam
langit berpendaran bintang
bergantian dengan rembulan
selamat malam sapu
aku bersyukur
tak lagi tak lagi punya butuh rencana
menghitung satu-satu
bergantian sesuai urutan
karena memang tak ada yang perlu direncanakan
selamat malam sapu
lantai sebersih angan
selamat malam sapu
tak kota tak desa
meski malam, tak lagi gelap
tak ada lagi

Baca juga:  Tragedi di Bale Sigala-gala - Perang dan Dendam - Sayembara Perang Gandamana

Sapu (1)

tak lagi sekadar sampah yang mengotor lantaimu
apalagi debu. Tetapi bisa karena sapu
anak-anak sering dilarang bermain dengan sapu
tetapi dengan apa kau bersihkan lantaimu
asal selalu terjaga, tak melulu lena
setiap lantai bangga
sapu kotor — sendok
jangan salahkan piring atau masakan
yang akan mengalir ke darahmu

Sapu (2)

di tangan tukang sihir, di tangan tukang sihir
sapu terbang jadi tunggangan
seperti di film yang disukai anak-anak
seperti disukai selalu
kanak-kanak
kalau pesawat terbang
bukan apa-apa
yang wajar biar menjalar
dan tetap doa punya kekuatan
dan harapan
sungguh
bukan undian

Sapu (3)

Ibu,
membiasakan kami
menaruh sapu : harus selalu pada tempatnya
suatu hari sapu tak ada di tempatnya
Ibu gusar
ada yang dilanggar
sampai sekarang
sapu tak kembali
entah, siapa pencuri

Baca juga:  Kita Seakan Lelah - Barangkali Sudah Saatnya - Angin yang Mengelabui Luka - Catatan - Kami Tak Bisa Apa-apa

Sapu Lidi (1)

setuju atau tidak
memang sudah dinamai : sapu lidi
penyatuan kekuatan
tanpa tali, bukan sapu lidi
sekadar berserakan lidi
tak sama panjang lidi
yang pendek tak menyentuh tanah
tetapi berapa yang pendek
tunggu
akan kuhitung dulu
kalau pas langit banyak bintang

Sapu Lidi (2)

menurut cerita lama
sapu lidi banyak ditemui di pasar
(agaknya kau kurang percaya saja)
tetapi setelah kau tahu gusarmu membatu
agaknya gara-gara uangmu
sapu tak terbeli
lalu kau panggul sendiri
(dan itu semestinya terjadi)
Jepara, Juni 2014
Sunardi Ks, menulis puisi, cerpen, dan esai.
Buku kumpulan puisi tunggalnya berbahasa Jawa berjudul “Wegah Dadi Semar” (2012)
juga antologi-antologi bersama kawan-kawan.
Rujukan
[1] Disalin dari karya Sunardi Ks
[2] Tersiar di surat kabar “Kedaulatan rakyat” pada 14 Desember 2014