Paradise – Lost! – Violet Hill – Magic – A Sky Full of Stars – 42

Karya . Dikliping tanggal 29 Desember 2014 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Paradise

Ketika si pembawa cahaya terlempar
Dalam kelam, meski surga mungkin
Hanya sehasta jauhnya, 
Gadis kecil pemilik surga itu menggumam, 
“Biarkanlah sahabat-sahabatku datang
Menemuiku, mendengarkan cerita yang lama
Kusimpan sebagai bahan jamuan.”
Bayangkan saja para kerub dan seraf
Menggemakan kidung
Dalam bahasa yang kaupahami
Tapi tak ada lagi yang dikirim ke surga
Sejak saat itu,
Selain jiwa seekor keledai yang mati
Terjerembab dalam sebuah lubang
Sabat kedua belas
Tahun itu
(Naimata, 2014)

Lost!

Katakanlah kepada Abba
Sang putra yang ia utus ke tengah ladang gandum
Telah dipenggal kepalanya
Sang putri, dari masa lalu yang berseri-seri,
Akan dikenang selamanya
Sebagai makhluk yang lebih durja
Dari sepasang Ohola dan Oholiba.
Setelah malam ini, cuaca yang langu
Akan menguntitmu
Bagai mata tiga anjing penjaga 
Bagi borok badan Lazarus.
Berjagalah, Ibu, seperti nyala dian,
Seperti tuan pesta menantikan anggur terbaik
Dikeluarkan dari tempat penyimpanan.
Sampaikanlah juga kepada Abba yang selalu
Memilih bersemayam di singgasananya,
Mujizat atau tenung atau berkat atau kutuk
Yang dilimpahkannya kepada kami
Tak lebih hebat dari kesediaanmu
Memilih terjebak dalam permainan tak seimbang ini,
Dari hati tabahmu yang pasrah meski
Berkali-kali ditembusi pedang.
(Naimata, 2014)

Violet Hill

“Carpe diem quam minimum credula postero.”
(Quintus Horatius Flaccus, Ode LXII)
Setangkai entah ia lambaikan
Dari dalam lembah setelah
Semua yang tersisa dikumpulkannya.
Ia tersenyum
Mengingat sebaris aforisma
Dalam sebuah ode
Masa lalu.
Di bumi seperti di surga!
Hari yang cantik
Tak sempat ia petik
Dan sebuah dongeng lain tentang surga
Masih terbiar putih di atas meja.
Tapi tangkai terakhir yang memekarkan
Kelopak di tangannya
Tak akan lagi membutuhkan
Namun ketika bahtera urung dikirimkan,
Ketika tembok penahan pecah, ketika lidah-lidah
Air mulai menjilati lembah
(Naimata, 2014)

Magic

– pertengahan cerita
Ia memandang ke atas.
Menyusuri tanjakan ini, tak akan lebih
Sulit dari meniti seutas katadromus
Di tengah riuh penonton.
Di dalam lembah,
Telah ia habiskan sembilan hari,
Menjerang kopi Manggarai,
Menuntaskan Ecclesia Cathedralis, 
Mengirim beberapa pesan agar
Mahasiswa-mahasiswinya di kelas teologi
Mengambil tugas pengganti.
Pada hari kesepuluh ini,
Sebelum melipat tenda dan berkemas,
Ia ingin mengingat
Seorang perempuan berkulit kuning
Yang melompat dari trapis dan mendarat
Tepat di depan kursinya
Empat belas hari yang lalu, 
Menggali semua perkara dalam
Hatinya sebelum dipertemukan kembali
Dengan para seterusnya
Untuk menggenapi ramalan
(Naimata, 2014)

A Sky Full of Stars

Cahayanya yang ungu berpijar.
Atau katakanlah, ungu dari dirinya
Bukan miliknya, ungu
Yang sekadar terpantul
Ketika ia terlontar dari dalam terang
Di bawah kakimu.
Udara yang membungkus
Kulit pejalnya
Jelas membiusmu.
Dalam pejammu,
Segala yang menjelma
Tertangkap seutuhnya.
Jatuhkanlah hatimu
Ketika ia mulai menghablur.
Hanya dengan memecahkan diri,
Lebih kecil dari iota,
Ia dapat memenuhkanmu.
(Naimata, 2014)

42

– Death Note

Pada fragmen terakhir ini, 
Maut berperan sebagai seorang ibu.
Setelah ini, si pembawa maut akan menuliskan
Nama Tuan Yagami
Di lembar terakhir buku kematiannya
Sambil menikmati malam yang jatuh
Dari puncak menara.
“Kau adalah Kira.”
“Tapi aku Ryuk.”
“Kau adalah Tuhan.”
“Tapi aku fana.”
*
Si bocah sinis itu tenang
Menuding si pembawa pesan
Dengan boneka-boneka jarinya
Seakan ia berdiri di luar waktu,
Seakan ia tahu,
Keabadian adalah sejenis omong kosong
Lain tentang Tuhan.
(Naimata, 2014)
Mario F Lawi lahir di Kupang, Nusa Tenggara Timur, 18 Februari 1991. Ia bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Kumpulan puisinya yang terbaru adalah Ekaristi (2014). 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mario F Lawi 
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” pada 28 Desember 2014