Pengakuan Raje Kecik – Menyimak – Saling Membaca

Karya . Dikliping tanggal 28 Desember 2014 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

Pengakuan Raje Kecik

telah
kulepaskan johor dan singapura
dalam
kasih yang sehasta dari kematian
tapi
tak belanda tak inggeris
tak
akan lagi memiliki diri
ketika
di sini telah kuhanyutkan daulat
dari
depunta hyang sampai parameswara
dijulang mahmud dengan segenap rasa
berpusat
di siak mengabadikan impian
bersama
sumatera bersumpah setia
juga
sambas di pinggir Kalimantan
dipertemukan
janji sekali jadi
tentu
tak dapat terlupakan ayahku
yang
terbujur hancur dalam kisah kabur
tapi
apa salah saudara-maraku yang lain
hingga
ditebas dalam bingung
mendahulukan
ajal dari takdirnya
sehingga
aku pun harus mengendap
ketika
menziarahi pusara ayah
bertambah
yatim dari yatim
ketika
bersama bunda cik pon
untung
digantung tidak bertali
begitulah
akhirnya di pagaruyung
cerita
bersambung meneruskan silang
ke
jambi ke palembang datang mengenang
di
muara takus bayang-membayang
ketika
martabat dijodohkan waktu
hanya
terlambat dua kaki dari doa
kepada
harapan mendahului langkah
tertancap
hasrat di barat bengkalis
pulau
yang senantiasa menangis
direndam
geram berlapis-lapis
tak
kuabaikan bendahara
yang
terbunuh dalam kuasa
tapi
kupersunting bungsunya kamariah
menjadi
ratu di hatiku satu
meski
saudara kandungnya
sulaiman
dan tengku tengah
tak
putus-putus membuat ulah
tapi
ke bintan aku bukan mengalah
bukan
mengelak dari ceroboh johor
bukan
air tumpas dalam tempayan
bukan
bersilang suara dengan jiwa
pun
tak cukup berat untuk ditimbang
secupak
tak kujadikan segantang
cuma
di tanah kelahiran hang tuah itu
di
tanah demang lebar daun berseru
dilaungkan
kembali tun abdul jamil berpadu
aku
berpikir kerja dan jaya akan sehala
seperti
dayung dengan piyau
laksana
kebat dengan ikat
sehasrat
sebati tak berperi-peri
adakah
lagi maaf mendapat tempat
setelah
khianat menjadi alat
sulaiman
dan tengku tengah bersubahat
jahat
menjilat bugis dan belanda dan inggeris
hingga
untuk sebuah lambaian pun
aku
terhumban
sampai
isteriku kamariah ditawan perasaan
sebab
memang tak putus air dicendang
tak
pisah kiambang bertaup
ke
mudik haruslah menghilir
galah
bersauh pada air
bangau
terbang kembali ke kubangan
betapapun
selat melaka menjadi saksi
bahwa
aku menolak perangai
kepada
penjajah yang bermain pandai
telunjuk
lurus kelengking berkait
raje
kecik panggilanku
sultan
abdul jalil rahmadsyah gelar diberi
tak
akan pernah kalah oleh ulah
tak
akan sumbang karena tingkah
maka
kupersembahkan siak seluruh
menjadi
sandaran ratusan juta manusia
karena
pada akhirnya aku harus pergi
meski
berjarak setipis kulit
dari
tempat yang bernama datang

Menyimak

dua
helai suara
yang
engkau titipkan pada malam
telah
kujalin bersama siang
menjadi
sekawanan harapan
yang
begitu cepat menua
melintasi
hari-hari penuh teka-teki
sambil
mengutip setiap tanda tanya
pada
semua yang tampak
mungkin
juga pada gerak
yang
didahului laku berkehendak
hingga
tak sampai di jawab
tak
tiba di sebab
sementara
telingaku
tak
begitu saja menyerah
pada
ketiadaan yang tidak berbagi
seketika
mata pun menyembar bunyi
mengurai
cahaya ke dalam nada
kemudian
dengan sekelebat takzim
mengirimkannya
kepada hati
halus
disebabkan kewaspadaan
tersaring
keinginan untuk dicermati
hingga
jadilah dengan dan lihat
yang
ditambah jiwa siap bermadah
sebagai
suatu kesimpulan
mengakhiri
beragam-ragam perbedaan
segar
bagai puteri remaja
selanjutnya
ingatlah
sesungguhnya
bagian engkau dan aku
adalah
kita
tak
dilupakan komat-kamit mulut
yang
senantiasa ada
walau
makna telah menjadikannya diam
terpekur
dalam berbagai sangka
Baca juga:  Sajak buat Bapak - Datanglah Kau Padaku - Sajak-Sajak tentang Keinginan
sepintas
tereja sebagai gelora
rasa
yang begitu pencemburu
bahkan
kepada bayang-bayang
sebelum
bertemu antara tahu dengan paham
dalam
ingatan hendak bersemayam

Saling Membaca

aku
hendak membaca apa yang kubaca
tapi
yang kubaca
telah
lebih dahulu membaca
apa
yang hendak kubaca
lalu
kami saling membaca
terhadap
membaca dan membaca
hingga
membaca
membacakan
apa yang dibaca
yang
dibaca membacakan membaca
dibaca
membacakan yang dibaca
yang
dibaca dibaca yang membacakan
yang
membacakan dibaca dibaca
membacakan
membacakan dibaca
dibaca
membacakan membacakan
membacakan
dibaca membacakan
hingga
tak terbaca-baca
terbaca-baca
tak
tak
terbaca-baca
terbaca-baca
tak
sudahlah
aku
pun kemudian hendak membaca
apa
yang tak kubaca
tapi
yang tak kubaca
tak
mau aku baca
mau
tak baca aku
baca
tak mau aku
aku
mau tak baca
mau
baca tak aku
baca
aku tak mau
aku
baca tak mau
baca
mau aku tak
aku
baca mau tak
mau
aku baca tak
tak
aku baca mau
tak
baca aku mau
tak
mau aku baca
aduhai
aku
tak hendak lagi
membaca
apa yang aku baca
aku
tak hendak lagi
membaca
apa yang tak aku baca
maka
aku membaca aku saja
baru
hendak
Catatan:
Raje
Kecik
adalah ahli waris Kerajaan Johor-Riau (termasuk Singapura),
memerintah selama 1717-1722 sejak ia berusia 17 tahun. Ia kemudian
mendirikan Kerajaan Siak, Riau, pada 1722. Ia selalu dinisbatkan
sebagai penyambung zuriat Kemaharajaan Sriwijaya yang kembali ke
Sumatera.
Taufik
Ikram Jamil
menetap
di Pekanbaru, Riau. Buku-buku puisinya adalah tersebab
haku melayu
(1995) dan tersebab
aku melayu (2010).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Taufik Ikram Jamil
[2] Pernah tersiar di surat kabar ” Koran Tempo” pada 28 Desember 2014