Petanggang – Bukit Soreang – Bandung – Jakarta – Tol – Selat Sunda

Karya . Dikliping tanggal 21 Desember 2014 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Koran Merapi

Petanggang

Cuma kemilau 
terang bulan di danau
: angin tersekat
jajaran pohon
kerontang, dan gundulkan
tanah-kuburan
halimun dingin,
setapak dan jalanan
: pintu dikunci
-kampung kelabu
malam buram, bersekat
kepompong bungkam
*)halimun = kabut

Bukit Soreang

tebing, jembatan
kelokan sungai, serta
kuburan kampung
lubuk antara,
dua julangan, hunjaman
batas alamiah
tempat menyawang
luang di puncak bukit
-dan panorama
tempat bersantai
usai lelah menyusur
jejak leluhur,
atau tak perlu?
akhir kembara: makam
tidak dikenal

Bandung

sawah tersungkur
: julangan kukuh, struktur,
jalanan beton
makin melebar
-tapi terasa sempit-
: mobil merayap
udara pengap,.
kota, setiap akhir
pekan, serentak:
ditinggal libur
di gunung, di udara
bersih dan sejuk
melintas batas
memasuki kenangan.
mutlak sendiri

Jakarta

semakin dekat
ke pesisir, semakin
rapat bangunan
danau ditimbun,
tapi pantai diolor,
–air sumur surut
saat penghujan
tiba, kota tenggelam
terhempas banjir
kenapa masih
betah? bertahan. yakin
akan sentausa?
meski dengan
merampok dan korupsi?
lupa silsilah
wasiat awal
tetua–hidup dan mati
dengan bertani
*)diolor, dari (tanah) oloran = tanah endapan/delta di muara sungai.

Tol

sampai berapa
kecepatan mobilmu?
kalau terlampau
lamban, disilakan
ke museum, ke jalanan
siput di udik
kampung, leladang
becek dikepung sampah
–tanah marjinal
: kami membentang
tidak boleh terganggu,
penguasa raya
yang membelesur
–tidak bersalah kalau
menabrak orang
sampai matipun–
di jalanan berbeyar
khusus supercar

Selat Sunda

menumpang ferry
ke bakauheni. saat
menyulut rokok
sambil menunggu 
kopi dingin. gelombang
dan angin kencang
pekikan camar
lompatan ikan terbang,
dan tanya besar
: akankah sampai
di seberang? hembusan 
nafas yang sangsai
asap krakatau,
sel magma bawah laut
: gempa, letusan
serta tsunami
kapankah akan bangkit?
saat lintaskah?
2014

Rujukan:
[1] Dislain dari karya Beni Setia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Merapi” pada 21 Desember 2014