Septuginta – Imago Mundi

Karya . Dikliping tanggal 1 Desember 2014 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

SEPTUAGINTA

Seekor tikus hitam
menggondol sebuah kata
yang jatuh di lantai pesta.
Ia seret sekerat kemudian
dan dibawa ke sarangnya.
Ia telah lunaskan
yang tak terjemahkan.
Sebab seisi meja makan
telah penuh anggur dan mur.
Sebab kealpaan tinggal kealpaan
dan lekuk tubuh perempuan
tak lagi memikat para pemazmur.
Ia bawa serta ingatan
dan cara berbahasa kita.
Ia bangun sarangnya
di pojok gelap Sorga
yang tak tersentuh
lalu-lalang doa-doa.
2014

IMAGO MUNDI

Hanya biru laut. Hanya laut.
Siang malam kita teropong.
Hanya biru laut, hanya lembar tabut.
Bayang wajah yang terpotong.
Tiada bayang emas dan sutra.
Hanya hijau pesona selalu
berdenyut di kelopak mata.
Tapi aku tak cari pantai,
hidup sudah cukup landai.
Aku hanya menantang
Tuhan yang semayam
dalam gejolak gelombang
: cinta adalah firman yang
berangkat dari kutukan!
Hanya laut, kelebat kalut.
Kau masih tak tertempuh.
tak mungkin turunkan sauh.
Letih penjelajahan ini
akan berakhir di mana,
Jika tak tertambat
di tanjung nyawamu?
Hanya wajahmu, rupa waktu.
yang jika sirna dari makna,
yang jika susut dari maksud,
tetap ada di mana-mana.
2014
Adimas Immanuel lahir di Solo, 8 Juli 1991. Lulusan Fakultas Ekonomi, Universitas Diponegoro, Semarang. Kumpulan puisinya, Pelesir Mimpi (2013). Sekarang ia menetap di Jakarta.
Rujukan
[1] Disalin dari karya Adimas Immanuel
[2] Tersiar di surat kabar “Koran Tempo” pada 30 November 2014