Sungai – Iwan J Kurniawan

Karya . Dikliping tanggal 21 Desember 2014 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Sungai #1

Indonesia sore ini adalah anak-anak 
berseragam putih debu
duduk-duduk di jembatan 
sungai-sungai mengalir bawa aroma bebatuan 
penghuni tambang beri harapan pada 
pejabat, sementara rakyat hanya dapat  
harum kamboja.
Indonesia sore ini adalah hutan-hutan gundul 
sebelah, 
setelah wajah kapitalis menggerogoti 
gambut-gambut berjenggot.
seribu kelok aku lewati, 
larung taburan hujan; baru saja endap, 
campur aspal di borneo 
warung-warung sedikit remang jadi tempat 
mejeng para ajeng 
kami pun larut bersama secangkir kopi.
Indonesia sore ini adalah jutaan kanak-kanak 
nyanyi himne Padamu Negeri 
seberangi sungai demi pendidikan.
Hutan-hutan tandus beralih jadi sawah sawit 
antara martapura dan batulicin, 
pepohonan karet merunduk duka 
tangan-tangan elit lilit getah, 
akar-akar beringin kering ringsut.
Indonesia sore ini adalah jalan provinsi, 
mulus bercampur lubang 
rakyat sambut presiden bertudung caping 
sementara, ember buruh belum melumer.
PemaculKata, 2014 

Sungai #2

Di ruangan makan, wajah para koruptor 
terpajang di jantung tembok 
senyum sungging bagai kurawa yang menang 
perang 
aku menengok; mukamuka serakah telah 
kalahkan kantuk.
Di ruangan, asap rokok mengepul 
sisa pembakaran hutan sawit 
paras politikus dan mantan menteri tertawa: 
kini wajahwajah itu sudah mendekam dalam 
bui, setelah terjagal KPK.
Di ruangan: 
poster-poster selebritas jadi pajangan 
najamudin, sang pemilik pondok ikan bakar, 
ikut sama terpampang.
aku menolak untuk ikut berfoto 
tak sudi wajahku kelak jadi koruptor.
PemaculKata, 2014 

Sungai #3 

Perjalanan menyita waktu antara sejalur 
deretan pepohonan karet 
buruh bersolek; upah harian minim, jauh 
dari standar hidup mereka.
“aku terpaksa,“ ujar perempuan asal Flores.
di kampung, tak ada air. membuat ia mencari 
rezeki di hutan Borneo.
umur bukan masalah, 
asal, bisa mencukupi dua bayinya.
“aku terpaksa,“ timpal pekerja lain asal Nias.
sudah 6 tahun bekerja. upah buruh hanya 
bisa membeli sebidang tanah demi 
mendirikan pondok.“
di kampung masih lebih susah ketimbang di 
sini,“ jawab mereka berdua.
Hutan borneo simpan mistik.
para perantau taut rezeki 
para pribumi, hanya hapus jejak jarak 
sungai.
PemaculKata, 2014 

Sungai #4 

Angin menari di ujung gigigigi yang sedang 
rapatkan barisan.
satu gigi mulai berdansa saat lidah aku 
mainkan serupa mengulum gulagula 
sakit gigi hanya sebentar. terasa sejak pukul 
03 subuh hingga 03 sore.
plus 7 jam yang aku lupa karena asik 
main-main dengan lidah lainnya.
di warung waralaba tak ada obat sakit gigi.
apotek sudah tutup saat manusia gerobak 
lintasi jalan layang.
di rumah, satu gigi sakit sendiri.
padahal, sudah aku gergaji pasta, 
kumuran air sungai kemerah-merahan, vodka pun tak mempan.
Sakit gigi jadi sajak gigi 
gigil-gigil, geli syah! 
menggelitik telinga kiri dan otak kanan.
ada burung gagak patok bayangan sendiri.
PemaculKata, 2014 

Sungai #5 

: konon kepala buaya terpenggal di Timor Barat 
pada ini tanah, harum asam sudah habis, Ibu 
opa tak memamah sirih pinang 
oma tak mengunyah tempe tahu 
malah, mereka menyulum roti dan keju, beli di etalase toko.
pada ini peta, Ibu 
matahari terbit di selatan, terbenam di utara 
tapi di itu peta, fajar masih sama; 
timbul di timur, sampai luruh di wuwungan barat 
tanah perjanjian sudah terbelah 
dari Pasundan sampai Sumba 
pulau kelapa tak jadi rayuan lagi.
anakmu, capek, Ibu 
menghafal pancasila warisan Soekarno di ende dulu sila-sila seakan jadi silat lidah 
pada ini tanah, harum lada sudah sirna 
kemarau panjang meniupnya hingga ke negeri seberang 
beta merantau untuk bertemu arjuna agar Timor tak dipagut fretelin; 
biar Sonbai dan Pattimura, hidup lagi di ini jaman.
di sini, Ibu 
bulan merah rahim hangsukan birahi karangkarang jelma rangkas 
tapi bendera masih sama! 
merah putih, 
sama seperti ayah kibarkan di padang ilalang.
tak berbintang, ya! 
tak bersegi, ya! 
tak berigi, ya! 
pada ini sungai tak bermata, harum cendana hirap.
bonet dan bayonet 
likurai dan kurakura, apalagi! 
kau sudah tua, Ibu 
keriput, perak rambut 
setia menjaga tanah adat 
kau ubah; 
gunung jadi jagung, 
uak jadi arak 
sagu jadi terigu 
tapi, tak bisa menambah usia kita 
satu sumpah di sini, seribu bahasa di sana 
yang mengikat kita hanyalah 
gugusan sungai kering dan tanah gersang lalu, 
kepala buaya yang konon terpenggal di Timor Barat 
kelak tersambung lagi 
Ibu, 
Jokowi sekarang presiden kita 
bukan Taur Matan Ruak! 
PemaculKata, 2014 

Sungai #6 

: Malam Natal 
cakar aku cakrawalaMu 
meski lengan tak sampai 
lutut tak sentuh 
ada keinginan membatu 
cari jalan menuju junjunganMu 
esa.
PemaculKata, 2014 
Iwan J Kurniawan, sastrawan muda, tinggal di Jakarta. Bukunya Tapisan Jemari (2005) dan Rontaan Masehi (2013). Kini, sedang menyiapkan sebuah kumpulan cerita. 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Iwan J Kurniawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” pada 21 Desember 2014