Di Hari Eksekusi Itu – Pada Sebuah Kafe – Beri Saja Judul Sajak Ini Meditasi

Karya . Dikliping tanggal 18 Januari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

Di Hari Eksekusi Itu

Jenderal
Badrul Mustafa

Mengangkat
sebelah tangan

Sebelum
senapan pertama
Ditembakkan
ke kepalanya,
“Tidakkah
salah satu dari kalian
Menanyakan
kepadaku perihal
Permintaan
terakhir?”
Katanya.

Badrul
Mustafa menunggu

Dan
tak seorangpun mau bertanya.
Ia
tetap ucapkan

Permintaan
terakhir,
“Tolong
padamkan dulu
Bara
asmara dalam dadaku,”
Katanya.
“Menangis
mayat dalam kubur

Bukan
karena tubuh yang hancur
Melainkan
asmara dalam dada
Masih
terus membara,”
Badrul
melanjutkan.
Para
eksekutor itu tak mengerti,

Tapi
mereka bisa merasakan

Jenderal
Badrul Mustafa begitu gemetar.
Namun
Sang Jenderal jadi gemetar,

Bukan
karena puluhan senapan
Yang
diarahkan ke kepalanya,
Melainkan,
berhadapan

Dengan
orang-orang
Seperti
merekalah
Yaitu
golongan orang-orang
Yang
tak kunjung mengerti
Bahwa
asmara
Adalah
kobaran api
Di
dasar laut
Dan
tak bisa dipadamkan
Begitu
saja,
Yang
membuat orang seperti Jenderal Badrul Mustafa
Jadi
gentar:
Tanpa
diancam dengan puluhan senapan,

Jenderal
Badrul pasti akan berusaha melarikan diri,
Dan tanpa ditembak sekalipun

Ia
pasti akan mati terkapar sendiri.
(Padang,
2014)

Pada Sebuah Kafe

Seekor
lalat hijau

Hinggap
di tepi cangkir kopi Badrul Mustafa,
Sebelum keluar

Dari
kafe itu
Sambil
bersiul-siul,
Ia patahkan setangkai bunga di atas meja kasir

Dan
meminta seorang pelayan meletakkannya
Dengan
hati-hati di tepi cangkir kopinya
Yang
bergambar Che Guevara itu.

Seorang
Badrul Mustafa tidak mungkin mengganggu

Seekor
lalat
Yang
sedang berziarah.
(Padang,
2014)

Beri Saja Judul Sajak Ini Meditasi

Di permukaan telaga
Udara
dingin dan angin yang bergerak pelan
Menampakkan
wujudnya kepada Badrul Mustafa.

Badrul
Mustafa memperhatikan
Udara
dingin itu—
Seorang penggembala domba
Yang
sudah sangat renta: Berzaman-zaman,
Ia
seret domba-domba, mengelilingi dunia,
Mencari
Padang Rumput yang Dijanjikan.
Badrul Mustafa menatap
Angin
yang bergerak pelan itu—

Seorang
serdadu
Baca juga:  Ain Meni
Yang
sudah begitu ringkih: Berabad-abad,
Ia
sorongkan senapan, memutari bumi,
Mengarak
orang-orang
Menuju
Penjara yang Kudus.
Badrul terus memandang pada telaga,
Meski
mereka tak ada lagi ada.
Ia kini sendirian dan goyah,
Seperti
sebuah pedang
Yang
ditancapkan dengan tergesa-gesa.
“Tidakkah
kalian lelah?”
Badrul
Mustafa berusaha memanggil mereka.
Ia rasakan udara semakin dingin
dan
angin terus bergerak pelan.
Betapa ia ingin sekali
Bercakap-cakap
dengan mereka.
Karena judul sajak ini meditasi
Maka
Badrul Mustafa
Kembali memejamkam mata.
(Limau
Manih, 2014)

Jenggot Haji Agus Salim

Haji Agus Salim berdiri
Di
depan Pintu Surga;
Jenggotnya
menjuntai-juntai ke bumi.
Badrul Mustafa melompat-lompat,
Berusaha
menggapai jenggot Haji Agus Salim,
Beratus-ratus
tahun lamanya.
“Tak
ada Tangga ke Surga,
Jenggot
Haji Agus Salim pun jadi,”
Katanya.
Tangan Badrul Mustafa meraih
Ujung
jenggot Haji Agus Salim.
Ia bersorak kegirangan,
Berabad-abad
lamanya.
Baca juga:  Plesetan Pantun Minggu ke-4 Juni 2016
Diajaknya karib kerabatnya
Memanjat
jenggot itu.
“Berakit-rakit
ke hulu,
Berenang-renang
ke tepian,
Masuk
Surga dahulu,
Ke
Mekah kemudian,”
Katanya.
Badrul Mustafa
Dan
karib kerabat
Ditambah
lagi sanak saudaranya,
Berjamaah
memanjat jenggot Haji Agus Salim.
Mereka bergelantungan,
Tak henti bersorak
Berayun-ayun
ke sana ke mari—
Dari suatu zaman ke zaman lain.
(Limau
Manis, 2014)

Badrul Mustafa Tak Akan Pernah Mati

Meski kau umpamakan dirinya
Dengan
sebatang pisang
Lalu
kauibaratkan dirimu
Sebagai
Padri yang berkuda dan berpedang panjang
Lalu kau menebasnya berkali-kali,
Maka
ketahuilah,
Ia tak akan mati.
Sebab ia adalah Badrul Mustafa.
Ketika tangan kirimu hanya membawa kuda pincang
Dan
tangan kananmu
Cuma
memegang sebuah pedang panjang,
Tak
semerta-merta kaubisa mengibaratkan Badrul Mustafa
Dengan
sebatang pisang,
Sebab batang pisang belaka
Tak
cukup untuk menangkap
Seorang
Badrul Mustafa seutuhnya:
Hanya
asmara dalam dirinya,
Yang
sanggup diumpamakan dengan batang pisang—
Sekali
ditumbuhkan
Pantang
segera dimatikan.
Maka, apapun nanti yang ada padamu
Dan
siapapun ibarat dirimu,
Kau
mesti menumbangnya
Sebagai
seorang Badrul Mustafa.
Sungguh, tak salah bila kaucari,
Kaupikir
setiap hari,
Baca juga:  Bersampan dengan Pecahan Kapal - Berjoged di Atas Titian Lapuk
Dan
kauperhatikan ke mana dirinya pergi,
Sampai
kautemukan
Ibarat
apa kau akan berlaku padanya.
Misalkan, ketika pada suatu hari yang entah bila
Kautemukan
dirinya sebagai serdadu bertampang garang
Yang
sedang berada dalam barisan panjang,
Dengan
langkah tegap menuju medan perang,
Maka kau bisa mengibaratkan dirimu
Sebagai
sebutir kerikil
Di
dalam sepatunya.
Atau pada suatu bila yang entah hari,
Kautemukan
dirinya
Sedang
memberikan petugah di hadapan para jamaah,
Maka jangan sungkan, apalagi takut salah
Bila
kau ingin sekali mengibaratkan dirimu
Sebagai
kotoran kuda berlapis keju
Yang
keluar dari mulutnya.

(Kandangpadati,
2014)
Heru
Joni Putra
lahir
pada 13 Oktober 1990 di Payakumbuh, Sumatera Barat. Sekarang ia
belajar di Jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas
Andalas, dan bergiat di Komunitas Kandangpadati, Padang.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Heru Joni Putra
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” pada 18 Januari 2015