Ketika maling caluring memaling – Pengakuan nyai demang – Cak markeso

Karya . Dikliping tanggal 11 Januari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

ketika maling caluring memaling

pada upaya yang kesekian
ia seperti mendengar nyai itu berkata
segala yang gagal membuatmu menyerah
akan menjadikanmu lebih tabah
pada upaya yang kesekian
gerit jendela seret tak beroli itu hanya senyap
ia seakan melihat asmara
menyungkupkan jarit gelap tak berbatik
dan ia tahu
tak bakal ada jerit
sampai esok
sewaktu si demang menyadari dadanya berlubang
dan jantungnya tinggal kantung yang begitu luang

pengakuan nyai demang

(untuk ken adhisti sekali lagi)
hatiku kupu-kupu, caluring
dan segala padamu
adalah songkroh penyebak
atau tongkat berperekat sawang laba-laba kuning
telah kau maling, caluring, hatiku
sejak hari kita pertama bertukar kerling
dan di kamar si demang
tubuhku tinggal kepompong kosong
bakal penyebab demam si demang
lalu bersama atau tidak, caluring
dalam cinta yang begini
apalah lagi artinya

cak markeso

aku penyair bimbang, cak
bimbing aku
aku tak kuat berjalan dengan memanggul
perut lapar, dalam kertasku, kata-kata
tak ada yang abadi
maka tunjukkan cak, duniamu itu,
semesta ludruk ontang-antingmu itu, kaki yang tak
lelah menghela langkah, dan bagaimana
apa yang kauucap di depan tukang becak penggemar
atau pinggir kali dengan sedikit pendengar
terus terngiang hingga kini, tak
lungkrah-lungkrah, tak payah-payah
aku pencinta bimbang, cak
bimbing aku
dan pergi meninggalkan bahasa
yang sementara, bahasa yang terlalu 
sering diulang orang hingga cepat usang
maka ujari aku bagaimana cara menemukan
supartiku, seperti kau menemukan supartimu
setelah dua kisah cinta murungmu yang
selalu berumur setahun
aku tualang bimbang, cak
bimbing aku
tidak ada puisi dalam khazanah 
masa kecilku, seperti tak ada parikan
dalam keluarga besarmu
tapi kautemukan jula-julimu sendiri, hei
putra kiai, dan kau tempuh pikiranmu sendiri
dan bertahan kau di sana, berdiri gagah
sebagai tualang sejati dalam ludruk garingan
lalu kacamata riben itu, cak
apakah sekedar penutup mata julingmu
atau kau jadikan tameng
agar suatu bagian dari dirimu
tidak dimasuki apa-apa yang mengajakmu menyerah?

Dadang Ari Murtono lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Puisinya antara lain termuat dalam antologi Pasar yang Terjadi pada Malam Hari (2008).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Cyprianus Bitin Berek
[2] Tersiar di surat kabar “Kompas” pada 11 Januari 2015