Pemulung – Hantu – Romantika – Ketelanjangan – Sembahyang Malam

Karya . Dikliping tanggal 4 Januari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Pemulung 

Aku berkhayal jadi pemulung 
Mengais sampah kehidupan 
Di balik kotoran menggunung 
Berkas-berkas proyek proposal kutemukan 
Isinya seperti rumus-rumus ganjil aljabar 
Tiga kali seratus juta sama dengan satu miliar 
Aku berkhayal jadi pemulung 
Mengais sampah kehidupan 
Di balik kotoran menggunung 
Kutemukan denah proyek pembangunan 
Dengan label `Kawasan Perdagangan’ 
Lokasinya di persawahan dan hutan-hutan 
Aku berkhayal jadi pemulung 
Mengais sampah kehidupan 
Di balik kotoran menggunung 
Ada peta Indonesia kutemukan 
bersama gambar garuda pancasila 
Yang telah diremas-remas entah siapa 
Aku berkhayal jadi pemulung 
Mengais sampah kehidupan 
Di balik kotoran menggunung 
Kutemukan Tuhan 
Lalu aku menyembahnya 
Dan ia pun menggandengku ke surga.
Griya Pena Kudus, 2014 

Hantu 

Ada polisi menjadi hantu 
Ada tentara menjadi hantu 
Ada bapak ibu menjadi hantu 
Ada dokter menjadi hantu 
Apakah Tuhan akan menjadi hantu?
Sembako menjadi hantu 
Cuaca menjadi hantu 
Tanah air menjadi hantu 
Masa depan menjadi hantu 
Apakah agama akan menjadi hantu?
Ada pelajar menjadi hantu 
Ada mahasiswa menjadi hantu 
Ada guru menjadi hantu 
Ada buruh menjadi hantu 
Apakah negeri ini akan menjadi negeri hantu?
Pemilihan umum menjadi hantu 
Pemilihan presiden menjadi hantu 
Pemilihan kepala daerah menjadi hantu 
Pemilihan ratu ayu menjadi hantu 
Apa siapa lagi yang akan menjadi hantu?
Griya Pena Kudus, 2014 

Ombak 

Laut tanpa ombak betapa sepinya 
Dan ombak di hatiku gemuruh selalu 
Menyapamu 
Ombak di kotamu bukan ombak lautku Ikan-ikan berenang dengan sirip hangus 
Habis terbakar keserakahanmu.
Griya Pena Kudus, 2014 

Romantika 

Aku datang dengan bunga 
Tapi kau sambut dengan batu 
Siapa yang menangis di sana?
Suaranya seperti anak-anakmu 
Kenapa matamu menyala 
Adakah hatimu sedang membara 
Pagi ini masih ada rembulan 
Warnanya perak seperti ikan arwana 
Berenang di langit bersisik mega 
Entah semalam ada apa 
Aku akan menyanyikan cinta 
Meski suaraku kehabisan nada 
Diiringi gesekan ranting bambu 
Di belakang rumahku 
Coba dengarkan nyanyianku 
Dari pelosok-pelosok desa 
Bersama rakyat yang membisu 
Sudah lama dirundung duka 
Jangan harap rakyatmu bernyanyi 
Bersama raungan gergaji 
Di hutan-hutan itu 
Griya Pena Kudus, 2014 

Ketelanjangan 

busana yang kita pakai 
tak cuma untuk menutupi badan 
tapi juga untuk sebuah pengakuan 
: kita ingin menjadi manusia 
dan sekarang 
banyak orang ingin telanjang 
busana pun diperpendek dan ditipiskan 
dengan alasan keindahan 
memang, ketelanjangan bisa berarti keindahan 
mata kita sangat gemar memandangnya 
tapi nafsu kita bisa dibakarnya 
bersama kemanusiaan.
Griya Pena Kudus, 2014 

Sembahyang Malam 

Tuhan, aku tak bisa tidur 
karena amat rindu kepadamu 
maka terimalah puja-pujiku 
ketika orang-orang sedang mendengkur.
Griya Pena Kudus, 2014 

Usia 

usiamu akan membuatmu jadi tua 
dan memaksamu meninggalkan dunia 
usiamu juga akan menghukummu 
dan menghapus kecantikanmu 
dan merontokkan gigi-gigimu 
dan melumatkan keperkasaanmu 
usiamu akan menggugatmu 
karena waktu kau habiskan 
untuk mengumbar nafsu 
dan melupakan Tuhan.
Griya Pena Kudus, 2014 

Waktu 

waktulah yang selalu menang 
jenderal-jenderal besar pun dikalahkan 
apalagi rakyat jelata 
waktu selalu menjadi guru 
dengan sabar mengajar kita 
mengenal sejarah dunia 
tapi kita sering terlalu dungu 
waktu akan selalu adil 
membagi kekuasaan 
bagi setiap generasi 
dan jika ada yang serakah 
suka memperlama kekuasaannya 
pasti akan dipermalukan.
Griya Pena Kudus, 2014 

Bermain Api 

bermain api 
sungguh menakutkan 
banyak desa terbakar 
banyak kota membara 
bermain api 
alangkah mudah 
ketika dada-dada meradang 
wajah-wajah kehilangan senyuman 
kebencian menjadi bahasa pergaulan 
sekarang 
banyak orang bermain api 
hari esok jadi mencemaskan 
wajah negeri ini jadi kusam.
Griya Pena Kudus, 2014 
Maria M Bhoernomo, penyair, lahir di Kudus, 23 Oktober 1962. Ia menulis puisi, prosa, dan esai yang dipublikasikan di berbagai media massa.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Maria M Bhoernomo
[2] Tersiar di surat kabar “Media Indonesia” pada 4 Januari 2015