Perempuan yang Mencongkel Matanya di Rel Kereta – Di Kamar Laut – Pekol

Karya . Dikliping tanggal 18 Januari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Perempuan yang Mencongkel Matanya di Rel Kereta

Bukan luka yang aku takuti
Melainkan harapan yang terlanjut basi
Di rumahku sendiri
Yogya, 2015

Di Kamar Laut

Mataku sungguh perih
Saat ombak mencoba menerkamku
Meski tak berduri runcing
Tapi hatiku jadi tercuri
Sementara ikan-ikan terus mencumbuku
Lalu menarik tanganku
Menggigit rasaku
Tubuhku terhempas jauh gelombang rasa
Aku seperti mati di kamarku sendiri
Tubuhku tercincang wkatu
Mulutku ngingau karena cuaca gelap
Sementara wkatu begitu cepat
Mencipta harap
Apalagi yang kau butuh
Segala yang aku punya kini
Tenggelam dalam lautan
Hanya tinggal sepotong hati
YangTuhan kasih

Pekol

Kita serupa kunang-kunang di malam hari
Mendiami sepi di punggungmu
Tubuhku rapuh dan dahiku banjir harapan
Lalu seorang anak kecil berlompatan ke
semak-semak belukar
Kupu-kupu terbang membawa
warna kehidupan
Di sinilah, awal mula aku mengukir
tubuhmu
Sepanjang wkatu di matamu
Lalu mulailah aku menanam rindu
Di kedua kakimu yang lengkung
Memetik doa dari kebekuan batu

Barangkali

Barangkali kita tak perlu menyesali 
Sebab wkatu tak pernah kembali
Kenangan hanyalah kado dari ingatan
Terkubur sepanjang harap
Anak panah yang berangkat dengan gagah
Membidik mangsanya dengan tajam
Barangkali, begitulah hidup dalam
kurungan rindu
Berlalu lalu jadi abu masa lalu

Bebek

Seeperti anak kecil yang digendong ibunya
Mengajariku tentang ketenangan dalam
sebuah dekapan
Sementara di matamu, aku berlayar
bersama rindu
Mengembara sabar dari keutuhan waktu
Entah…
Pada usia berapakah kutemukan kematangan
rindu di hatimu
Di usiamu yang bertambah 
Kakimu semakin liar melangkah
Terbang dan berlari ke ladang tetangga
Menjadi kerjaan iseng-iseng saja
Kala matahari membuka pintu dunia pagi
Aku menaruh harap di setiap pagi
Kuelus rindu dalam tubuhmu
Kuselipkan doa dalam jejak kakimu
Maka pulanglah bila waktunya pulang
Biar gelisah pun tidak menjadi tamu setia
Pulanglah tanpa harus gelisah
Sebagaimana seorang ibu menyambut
anaknya penuh bahagia

Lalu

Kau akan menyuruhku membakar sepi dari tahun ke tahun dengan rindu
Sementara di kejauhan sana
Kau seperti bianglala kehujanan
Daun-daun gugur dari matamu
Sebagaimana hari terkubur dalam waktu
Adakah yang lebih berharga dari 
sebuah rindu?
Lalu kau malah menyuruhku mencangkul
kenangan itu
Dengan lidah yang mulai keriput
Lalu bakar mataku dengan bibirmu
yang manis
Mawardi Stiawan, lahir di Sumenep,
mahasiswa Unitri Malang.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mawardi Stiawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” Pada 18 Januari 2015