Puisi Tanpa Judul – M Enthieh Mudakir

Karya . Dikliping tanggal 4 Januari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
jangan panggil aku haji, panggil saja nama kecilku.
12/2014
sesirip kasih ada di sini
sesirip yang lain terbang
ia lupa pulang
berkisah di ranjang
bersayapkan guling
12/2014
kenyataan berlubang 
digerus uang belanja
harga pun berlarian
meramu zaman
menjamu satu
tumbuh bercabang
sedu dahaga, lupa
menjinakkan luka
12/2014
di beranda pikir ada surasa 
gelembung cinta dan air mata
beku di kediaman rupa
mati muda lebih berarti dari pada
tambah tua menuang dosa
12/2014
sampai ku tak ingat posisi didrajat lintang katulistiwa
sebelum akhirnya hilang bersandiwara
itukah wajah yang tiap detik bahkan sebelum ditemukan
nama
sendiri tak berjangkau
lupakan ingat
ingat lupakan
siapa dia
wajah mirip tapi tak sama
12/2014
menjurangkan 
duga sangka
(pk. 00 2014-2015)
melepaskan detik pertama
tantangan kecerdasan
lumer
di ketiak dunia
12/14/
hai… jiwa jiwa leleh
puisi hadir unutk dunia
siapa mau ikut!
12/14
jangan kau mengerti soal batu
karena batu adalah batu
bergembiralah selalu dengan musikmu
12/2014
aku di sini sepi
sepi di mana…?
aku cari ke sudutmu
seperti apakah wajahmu
kenapa ada sebagian takut kepadamu
siapa sebenarnya dirimu
menjadikan teman sepi tidaklah mudah
menjauhkan sepi juga tak gampang
semacam ruh dan badan
merantai nafas yang aneh dari pasangan 
aku di sini sepi
sepi di mana…?
tunggu di tahun 2015
sepi menggandeng gaduh!
12/2014
sendiri itu sepi
ragam maknawi
menyerupa jejak kaki
di jendela yang terbuka
menatap lengkung tinggi
udara merumus riak kali
di suatu desa asri 
kota sejak berstatus anak tiri
sejak ditinggal urbanisasi
karena kini
tumbuh beton berpondasi
penghuninya tak berhati lagi
12/2014
aku ingin berlibur di dunia ini dengan segala aspek lahir
dan bathin. tak ada hal yang ditakutkan juga dibanggakan. 
irama itu membawaku hingga kelak ke alam lain.
bila Ia menghendaki kepada diri yang dikehendaki-Nya.
dijauhkan dari gelap gulita.
12/2014
setiap ciptaan Tuhan pasti pernah merasakan luka, tinggal bagaimana mengatasinya. Tuhan juga tidak “melulu” memberi kesulitan hambanya di atas kemampuan “empunya tubuh” pun kebahagiaan, Tuhan selalu membuat keseimbangan antara yang dan ying. ada awan ada mendung, semua terangkum oleh ayat-ayat Alquran. meski Tuhan bersemedi di “entah” tetap dia menyaksikan. kehadiran kita cuma sebatas mengerjakan yang belum dikerjakan. menjauhkan bagi yang dilarang oleh-Nya. kelihatannya sederhana untuk diucapkan akan tetapi tingkat kesulitan melaksanakan kata-kata tidak semudah membalikkan telapak tangan. rindu kepada-Nya tidak pernah lepas sebagaimana roda. kita tak tersadari di dalam gasing itu.
*) M Enthieh Mudakir, penyair lahir di tegal Jawa Tengah. Etosnya kepenyairan sederhana; bicara sedikit banyak bekerja cerdas! Kepenyairan merupakan pekerjaan yang pertama, lainnya sekadar refreshing.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya M Enthieh Mudakir
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” pada 4 Januari 2015