Suatu Pagi di Peshawar – Banjarnegara – Maritim

Karya . Dikliping tanggal 4 Januari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Suatu Pagi di Peshawar

Di bangku sekolah, di auditorium itu
kami tak sedang menunggu
Jadwal kematian kami sendiri, bukan
Katakan, katakan Gurdhi. Kami sedang belajar
bagaimana cara menolong manusia yang sedang
terluka,
ketika petaka itu datang,
ketika hari menyudutkan para tentara
kami tak tahu apa-apa, tentang gemuruh dunia
tentang permusuhan yang sedang terjadi 
hujan peluru di bangku-bangku,
di tubuh-tubuh kami adalah tanda petaka yang tak
terbaca
kami yakin, kami tak tahu apa-apa
bagaimana cara melumpuhkan musuh
bagaimana menaklukkan dunia
yang kami tahu, kami sedang belajar
menjadi manusia.

Banjarnegara

Apa yang bisa dicatat dari waktu
kematian datang bagai matahari yang datang
segala yang tak terpikirkan
tiba-tiba hadir tak bisa dihalangi
duka-duka tumbuh, serata tanah longsor
mengalahkan mimpi-mimpi tentang dunia ini
lebih dalam, lebih hitam dari gelap mata
yang buta ketika jatuh cinta
di mana-mana ada keluh yang tumpah
desah yang rapuh, air mata yang ruah
meratapi kehilangan,
kepergian yang tak diinginkan 
hujan yang tak selesai 
bagai alir sungai yang keruh di kediaman itu
sedang orang-orang yang iba
mencatat angka kematian
di bawah gembur tanah, di bawah rumah-rumah
yang tenggelam di reruntuhan bukit Jemblung,
si Sampang, di Karangkobar itu.
kematian datang lebih awal dari desember
penghabisan

Maritim

Bendera dari kapal itu diturunkan 
kapal-kapal ditenggelamkan
tak ada lagi yang tersisa
“Kita punya undang-undang” katanya.
Siapa pencuri, tak di luar, tak di dalam
segala yang membangkang
mestilah dijinakkan,
dimusnahkan bagai kutukan
Tak ada toleransi bagi pencuri
untuk disuap atau dipulangkan
dengan beberapa ton ikan
yang dihilangkan dari air, dari laut
di Sumatera itu
Kita punya wilayah,
kita punya kitab khutbah yang tak boleh
dilenyapkan dari ingatan
Sebab itulah,
kapal-kapal ditenggelamkan
hukum ditegakkan
Agar tak ada lagi, yang meremehkan 
yang menggelapkan ikan-ikan.
Kegagahan kita,
adalah kembali ke masa lalu
pada kerajaan itu.
di mana laut, di mana air yang dalam itu
adalah tempat memulangkan ingatan
memulangkan pengharapan, akan kejayaan,
di tangan moyang yang cemerlang.
Kutub, 2014
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Saifa Abidillah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 4 Januari 2014