Ziarah – Kepergian – Berbaring – Akulah Seorang Pendosa – Kaulah Sepi Itu

Karya . Dikliping tanggal 8 Februari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Abdul Salam HS

Ziarah

: Bapak
aku tak bisa menuliskan kepergianmu
sebab langit kepedihan terlanjur
membakar ranjang ingatan di dalam 
tubuhku sebelum aku siap menerima
cahaya di kedua belah mataku
hari ini, doa dari rentangan tanganku
telah meluncur menyentuh kabut
keheningan di atas pembaringan waktu
yang kau sebut sebagai kehariban
matahari paling murni, dan ombak
menyempurnakan kubur abadi
kulihat pada senja bertabur gerimis
tak ada burung yang melintas
tetapi bayang kepergianmu
terus menghinggapi
kuntum ingatanku
Serang, 2015

Kepergian

telah kuselami dasar sungai dari kedua matamu
terjal batu-batu dan riak ombak menyimpan
kenangan cinta yang menggumpal dan menusuk
-nusuk dada
di matamu, dulu pernah tumbuh pohon sewarna 
matahari dan impian esok pagi, lalu diam-diam
kita bermimpi menjadi seorang petani yang tabah
sambil berdoa hujan yang turun tak menjadi 
bencana melainkan tumbuh putik bunga-bunga
kini matamu yang menyipan serat cinta
tak lagi mengalir, hanya ada batu-batu luka
menyimpan impian lara dan embun papa
Serang, 2014

Berbaring

:Ulfa
berbaringlah pada bidang dadaku sebab angin
akan membawa hujan dan kabar lebih buruj
dari doa yang lupa kita ucapkan ketika matahari
menulis janji pada akar pepohonan dan rahim
bumi tempat muasal kita diciptakan
rentangkanlah tanganmu, usaplah garis 
ketakutanmu di kedua matamu, tatapalah matahari
yang temaram di atas bukit, lalu katakanlah kita 
adalah sepasang burung yang menolak
kealpaan takdir dan kutukan kota-kita
andai ketakutanmu masih melingkar di kedua
lenganmu sebelum hari memetang peluklah
tubuhku dan pejamkanlahkedua
matamu, pahamilah dunia yang kita
impikan hanyalah dongengan
dari kejadian pengkhianatan
Serang, 2015
*) Abdul Salam HS, lahir 16 Juni 1992. Sekarang sedang menempuh pendidikan di Untista (Universitas Sultan Agung Tirtajasa) jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Tergabung juga dalam komunitas Majelis Puisi Rumah Dunia asuhan Toto ST Radik.

Acep Utsman Arifin

Akulah Seorang Pendosa

Akulah seorang pendosa
Telah kubunuh sepi dengan tanganku
Sendiri: ini belati masih segar
Dengan darahnya yang lewat kerat
nadinya sendiri
Betapa lukanya kian nganga tersebab sebar karatnya
Hingga akan kunikmati segala murkamu sebagai kifarat
yang nikmat

Kaulah Sepi Itu

Kaulah sepi itu
Seperti seorang kekasih
Kau bergelayutan saja di pundakku
Dengan sesekali seringai dinginmu
Merambati tengkuk
Terus dan terus
Hingga aku bergidik
Ngeri
Kau bisa merupa apa saja:
Seorang penyihir beraroma minyak wangi warna-warni,
Ksatria berzirah sutera dengan pedang menyala,
Atau lelaki renta kokang senjata
Dan kau bisa datang tanpa nyanaa
Dan selalu hinggap
Kemudian bergelayutan saja
Di ringkih pundakku
Ya, 
Kaulah sepi itu
Betapa meski kuhindari
Sembunyi-sembunyi atau berhiruk
Di kegaduhan semesta
Tetap saja
Kau nampak sebagai isyarat usia

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Abdul Salam HS dan Acep Utsman Arifin
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” pada 8 Februari 2015

Baca juga:  Lembaran Kenangan - Membayangimu - Lambaian Jauh