Dalam Hujan – Setelah Sampai Muara – Puisi Tandingan – Hutan Rasa – Zikir Daun

Karya . Dikliping tanggal 8 Februari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Dalam Hujan

Apakah kita sudah menikmati hujan?
Aku rasa ini hujan diturunkan atas namamu
Telah lama kita membayang berlari-lari dalam hujan
Kau memintaku menadahnya dnegan tangan
Kemudian kau minum dengan cinta
Kau memelukku atas namanya
Aku pun menciummu seperti ciuman hujan pada tanah
Lembut sekali pipimu yang basah itu
Tanah-tanah telah basah, hati kita pun basah
Bebunga tumbuh rekah harumnya lahir dalam bahasa
Kau yang mengucapkan padaku
Bahwa bunga-bunga itu akan tiba masa gugurnya
Tapi tidak dirimu
Aku hanya mengangguk mengikuti langkahmu melawan hujan
Kalau hujan ini usai
Kita ke arah barat atau timur mencari hujan lain
Itu katamu, sebelum langit redup bersama matamu
Kau telah emnikmati hujan, di sini
Bersamaku
Yogyakarta, 2014

Setelah Sampai Muara

Genap tiga tahun kita berjalan di atas samudera ini, kita telah
banyak menyelam ke dasarnya, mereguk asin air laut, telpempar
ke batu karang, tapi kau menguatkanku untuk sampai ke muara.
Tidak ada alasan untuk kembali ke darat atau mati terapung di
atas laut. Semua karena kamu, karena hatimu yang tak pernah 
aku lupa kata-katanya.
Dari dulu, sebelum dirimu datang menawarkan angur pada dingin malam, 
aku selalu kesasar, aku selalu kembali ke darat dengan tubuh luka-luka.
Aku sekarat. Hingga berkali-kali aku mendayung ke samudera bunga-bunga ,
belum sampai mendayung ke samudera bunga-bunga pun layu. Aku seorang diri, tiada snaggup melawan gelombang, teriakku. Tapi apa peduli
Mereka kian layu. dan aku pun pupus.
Mungkin kita memang tak pernah diciptakan untuk sendiri.

Puisi Tandingan

Yang lahir dari kata
Dan sama-sama berdaulat 
Berebut tempat keramat
Kita melihatnya dalam puisi
Yang lahir di kata
Meminta jabat yang erat
Takut hidupnya sekarat
Padahal hakikatnya telah sepi
Lalu apa yang akan lahir dari kata
Setelah bijak dan adil tak searah
Di sini atau pun di sana
Hanya politika yang membingungkan
Puisi berdaulat atas nama rakyat
Puisi berdaulat di atas rakyat

Hutan Rasa

Jika bukan karena engkau yang
menyiram bunga seroja di nirwana. Maria 
telah aku tiadakan dukanaku dalam arus darah
yang meresap ke perdu-perdu kalbu
biarlah ia berdenting seperti gelas jatuh ke lantai
saat malam menutup segala cahaya
biarlah sunyi pecah oleh bunyi yang dibuatnya sendiri
sementara kita sibuk melayani berahi di ranjang rahasia
maria-maria kemarihlah! mari kita lihat jejak
sungai di hutan rasaku yang kelam
akan kuperlihatkan padamu gemericik air menyembur
dari palung samudera
yang menyimpan seribu beloan dari percik-percik kata
yang tak terucapkan
ia mencari temapt paling aman setelah dijerat para nelayan
aku tak tahu bagaimana menggandeng tanganmu
yang selembut sutra itu
padahal pandnag telah suram dan kamu akan meminta pulang
hingga aku lupa mengantarmu ke seberang
musabab pikirku tak selesai menerawang tubuhmu yang remang
aku minta kau gantikan bayang-bayangku yang lunglai
agar matahari hilang panasnya seperti rembulan
2013

Zikir Daun

Telah kutanyakan zikir Tuhan pada daun yang jatuh tak sampai
dari rantingnya yang kerontang, hari kadung senja dan daunpun
jatuh sebelum menjawab
juga kutanyakan pada yang berserakan di bawah perdu pepohonan
desir angin di sore yang jingga membuat mereka gemerisik 
seakan berbisik-bisik tentang jawab yang kuminta
ah, tak ada yang kutangkap dari seru suaranya yang kacau
kecuali riuh angin yang membuat mereka berceracau
seorang lelaki berjalan tak meninggalkan jejak
dari pundaknya ia taburkan aroma kering daun di jalanan
kemudian ia pungut dari yang berserakan
aku terdiam, hanya angan beterbangan
adakah ini keindahan yang kita rasakan
musabab cintaku padamu
hanya tersangkut di antara ranting dan daunan
sebagai zikir dan pujian
Den Muhammad Rasyidi: mahasiswa Filsafat Ushuluddin UIN Suka Yogya,
aktif di Lingkaran Metalogi
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Den Muhammad Rasyidi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 8 Februari 2015