frankfurt main 2015 – happy birthday tembok – istirahat di pinggir jalan – tidurlah, papaya, daun-daunmu

Karya . Dikliping tanggal 15 Februari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

frankfurt main 2015

setelah pembacaan puisi usai
harus memunguti lagi kata dan kata
terserak di kursi penonton
mikrofon mati, kamera mati
sebuah planet kekosongan
sebuah bungkusan asia tenggara
mengambang di atas sungai main
gerimis salju, potongan bulan
bau spaghetti carbonara, beku dan pecah
reportase sofa merah di rumah sastra
lipatan cahaya kantor-kantor bank
maafkan aku, kata
kata
telah menggunakanmu
tanpa tahu – maaf, siapa dirimu
maaf
maaf
happy birthday tembok
pagi tiba-tiba datang
melompat dari tempat tidur di dingin ini
malam tiba-tiba datang,
mengintip mata hitamku di dingin ini
generasi muda dari kamar chatting
melompati cahaya tanpa suhu di dingin ini
25 tahun sebuah bayangan, di mana tembok ini,
di mana balon-balon putih ini, cahaya bersilangan
di mana ini kawat berduri ini dalam pikiranmu,
pos jaga yang tertancap konser david bowie.
bayangan itu runtuh jadi mall
mobil-mobil mini dari korea
gorbachev kau ciptakan selimut untuk musuh
di dingin ini balon-balon putih melepaskan makna
di mana ini membelah template sebuah generasi
layar monitor: cahaya menatap cahaya

istirahat di pinggir jalan

aku ingin tersesat dalam sebuah renovasi waktu
untuk pulang jangan mati di sini. jangan mati di sini,
kata lelaki itu berulang. dia menatap mataku seperti 
kabel listrik yang putus, batas antara pertukaran
mata uang dan semacam racun etnologi dalam
tubuhku. bau bumbu masak dan sepeda berkarat
pada bahasanya. malam di atas sungai maas, bukan 
cahaya gothic yang mengalirkan mimpi untuk 
kegelapan di luar pesta. seekor camar mengambil
mataku untuk melihat buta, di antara 7 milyar
penduduk dunia: melahirkan untuk menguasai.
dan lelaki itu berlalu. garam berjatuhan dari
punggungnya, dari kruisstraat hingga rasa asin
pada tatapannya. kota dari tumpukan batu bata
di Maastricht, wayang kulit dalam kenangan
hindia belanda. Gelombang migrasi setelah …
klik
kau tahu … bukankah kau yang pertama kali 
menciptakan kata iblis untuk menawanku.
dan aku membernya cahaya untuk terlihat.
di sini.

tidurlah, papaya, daun-daunmu

sang penatap itu tak punya mata. tapi semua
tatapan berjalan ke arahnya. duduk, berbaring,
diam. berhenti untuk menatap. Tidak ada apa kabar.
tidak ada panggung untuk kata. tajam. bergetar.
nancap. udara. udara. mencari kata diam.
angin yang tidak terlihat mengambil selembar daun
dari tulisannya. aku ulangi:
untuk berdiri.

sebuah kata ganti yang hilang

dia berjalan seperti musim gugur dari putaran
protein terakhir. aku melihatnya, tetapi aku juga
bersamanya, tidak saling melihat. dia berjalan
terhuyung di bawah kata. lambat dan lebih lambat
lagi di depan lubang waktu. “jangan menatapku
seperti tanah air dalam bungkusan kosong.” seorang 
afrika muntah di depan pintu hotel, berpegangan 
pada angin pertama musim dingin. lensa kameraku
tenggelam dalam bau ganja. “kau dari pulau
dengan pantai air kelapa itu, jhony?” lelaki itu sudah
tidak lagi memiliki bayangan. di belokan ke kanan,
kanal pertama setelah stasiun kereta Amsterdam,
sebuah paspor telah mengganti kata pulang dengan 
sunyi. dua lubang heroin di tangannya:
bertamu ke dalam diri sendiri?
belokan ke kiri setelah sekian kanan dan setelah
kees de jongenbrug, aku menatap patung multatuli.
di jantungnya, masih tersimpan banten yang robek.

garis lurus dalam patahnya

bau gluhwein. tersamar. ranting cahaya antara mantel dan
bangunan malam, di fasanenstrasse. sarung tangan,
rajutan dingin. dua penyair afrika selatan – hitam – putih – 
berdebat tentang identitas dalam bahasa inggris.
kakkakkakkakkakkak. baju pengantin ibunya terbelah
dalam dua salon etnologi. (tag). memindahkan awalan di
antara sana walau sini. aku mencium bau mata-air di 
sebuah garis yang jauh ——- di sini. cahaya mencari bola
lampu yang pecah ——- di sini. salju pertama turun 
dalam lompatan terjauh sebuah kata untuk jatuh. seorang
penyair beligia berbahasa prancis, bercerita tentang timor
timur. melupakan garis patah —— di sana. (tag). lukisan
rené Magritte membuka jendela, meminjam mata burung
hantu ke luar jendela: sebuah bangunan gothic terbakar. di
dalam jendela: sebuah bangunan gothic terbakar. di 
dalam jendela: bulan mencari astronot ——–
kakkakkakkakkakkak. hangat. Gluhwein. aku masuki garis
itu. dan bukan tanganku yang memegang pensilnya.

daerah perbatasan koper dan tutupnya

tidak ada rencana

sudah makan tentang ingatan, antara
lapar dan lupa mengenai tentang. mata 
air di bawah selimut tentang bukan
mengalir. film pertama tentang koper 
yang kehilangan tutupnya. tidak dapat
hotel soal film kedua untuk bermalam
setelah tentang. kamera berputar di 
bawah listrik kenangan. lampunya: jangan
ambil sinarnya. sungai dicangkokkan
dalam mesin bahasa. siklus aku bersama
bukan tentang aku. buku jatuh. udara 
dalam kata. soal film tentang kamera.
mata tertinggal, tidak bisa melihat soal
tentang.

ada rencana

menghapus jalan yang kemarin.
menghapus tulisan yang kemarin. Apakah
kau masih ingat saat kau dilahirkan.
menghapus gelap pada warna hitam.
menghapus kata  hapus. semua
penghapus berjalan besama setiap perpisahan
bertatapan dengan kata tentang. saling
melihat: hapus dan tentang. saling 
menembus: hapus dan tentang. saling
bukan siapasiapa lagi: hapus dan tentang.

pemadam api setelah kebakaran

neon menggeser mataku. memanjat
cahaya. membungkus metrum dan rima
ke dalam slide. aku tengkurap untuk
menulis. puisi disemen dengan puing-
puing linguistic. menyingkirkan semua 
imbuhan yang melilit lidah. memotong
tanganku agar peluru tidak menembaki
telapak tanganku sendiri. kata-kata 
menggigit gigi gerahamku. kuat. nyaring.
seperti menyiksa mikrobiologi dalam
liurku. jangan tembaki tangisan itu
dengan kamera. pesawat telah hilang dari
radar. langit tetap tak tersentuh. kata 
yang kehabisan udara di luar atmosfir.
suara camar ikut berdering dalam telefon
– dari dasar laut: tembus, ke dalam mobil 
ambulan yang membawa animasi laporan
keuangan. ototnya meregang. kelopak
matanya seperti bau wayang kulit
terbakar. ada butiran beras tertancap di 
lidah, tidak menangis, dia telanjang,
memotret daging dalam durasi film tak 
berakhir. dan berderinglah apa yang 
kamu lakukan. kue tar telah datang untuk 
ulang tahunmu. pemadam kebakaran 
telah datang. menghentikan api dalam 
makna. 
jangan pindahkan
dia sensitif
nanti tanganmu infeksi.
jangan.
ia pindah dan bukan jangan.
belum.
jangan pindahkan yang sensitif ini.
jangan telah.
dan jangan pindahkan yang infeksi ini.
nanti … bukan jangan lagi.
setelah jangan.
dan tidak nanti lagi. 

Afrizal Malna lahir di Jakarta, 7 Juni 1957. Buku puisinya antara lain Museum Penghancur Dokumen (2013). Saat ini ia tengah mengikuti sebuah program residensi di Berlin, Jerman. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Afrizal Malna
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” pada 15 Februari 2015