Hantu Lidah Biru – Mata Mita – Kuda Jepun Putih Madu – Hijrah Jaelani – Jaelani Menemui Padri Kobani

Karya . Dikliping tanggal 8 Februari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

Hantu Lidah Biru 

beginilah Jaelani berkisah:
bapakku hantu lidah biru yang lihai menyaru
dikenakannya jubah orang dulu, dirasukinya mulut
para penipu. hidupnya sepenuhnya tidak nyata.
ia ada antara dongeng dan kabar burung, barangsiapa
melihatnya menuntun jerapah bakal segera mendapat
berkah. seperti berkah Nabi dari bani yang bersembunyi
di lembah-lembah. derajatnya setinggi kubah rumah
janjinya sepasti putaran matahari.
lantaran itu kujadikan diriku ahli syair
agar dapat kusambung syiar darinya untuk kalian
aku semata bulan yang memantulkan. meski dapat
kalian saksikan aku lebih tampan dari dadari yang
diam-diam kalian pelihara dalam sangkar pagi
tuang lagi piala ini dengan madu pahit Sumbawa
setiap kali menghirup aromanya bapakku bertambah muda
padaku kalian dapat saksikan sebagian dirinya
dan sebagilan lagi diri kalian sendiri
(Bakarti, 2014)

Mata Mita

mata Mita bukan mata kita, mata pekerja yang tak percaya pada kata
jaelani berfatwa seakan ia Tuan Guru, (ia memang Tuan Guru)
tapi kami mengamini Jaelani
supaya mata Mita sempat melihat betapa kami memang
tamu yang sopan dan selamanya akan mencintainya dengan kemiskinan
mata Mita teduh belimbing wuluh, hangat tungku kayu
tapi Jaelani berfatwa, mata Mita mata pemilih, mata yang jerih
bila tak berpunya harta, dipilihnya bujang semenanjung Korea
dicemoohnya baju kumal, celana bertambal, dan sepasang sandal
lain sebelah yang tertukar di masjid
mata Mita makin jauh dan kami seperti melihat mimpi
yang malas kami ingat kembali, tapi Jaelani terus berfatwa
barangsiapa berniat mendekat hendaknya terlibat dalam rencana
mengintip gajah di kabupaten, mengutip upah paneh
demi mata Mita kami percaya bahwa Tuan Guru selalu baik
meski nanti mata Mita jadi mata istri yang tak boleh kami lirik
(Bakarti, 2014)

Kuda Jepun Putih Madu

Jaelani membeli Kuda Jepun dengan cicilan 36 kali
dibayar dari upah merawat kitab dan merayu orang
agar gemar mengaji. Kuda Jepun Jaelani putih seperti
madu pahit dari Sumbawa.
Jaelani pernah ke Sumbawa dan kehabisan bekal
Begitu sampai di pasar bagal, ditulisnya syair tentang
Syiar kebaikan dan hikmah berbuat kebajikan.
ke Jambi, ke hulu Batanghari Jaelani mulai mencari
cara paling tepat untuk meninggikan derajat
hingga di Sunda Kelapa matanya kian terbuka
benaknya yang semula hampa penuh oleh rencana
Jaelani percaya wali akan bertemu wali, di sanalah
ia lalu semadi sepanjang hari.
“manakali ada kuda, akan mudah bagiku menjemput guru”
Memang ada seekor kuda, Kuda Jepun merah jambu
tapi itu milik Mita, kerani yang bermimpi menyeberangi 
semenanjung Korea, kuda tak mungkin dipinjam
sebab demi mendengar siul majikan, ia jadi liar dan susah dikekang.
hutang bukan perkara besar, lantaran sekarang
Jaelani bergelar Tuan Guru, melintas pulau dengan Kuda Jepun putih madu.
(Bakarti, 2014)

Hijrah Jaelani

dengan Kuda Jepun putih madu Jaelani hijrah
ke arah tumbuhnya buah, di sana akan dibangun 
pondok untuk pada anbiya sekaligus para saingan
yang mahir merangkai syair
Jaelani bergelar Tuan Guru setelah ditulisnya tafsir
atau pisau, gelang langit dan ulat yang menjelma lalat
keempatnya adalah rahmat yang menaikkan derajat
tapi Jaelani paham setiap yang naik punya kesempatan
untuk naik lagi, maka disiapkanya sebuah kitab bagi
siapa saja yang mencari tutunan di luar apa-apa
yang sudah dianjurkan orang-orang dulu
kitab tanpa musabab, di dalamnya kalian akan saksikan
laut dangkal dinihari,
dan bila kalian memejamkan mata, kalian akan merasa
berada di punggung gajah atau di panggung
dengan latar berubah-ubah
begitulah cara Jaelani hijrah, sesungguhnya hanya
para anbiya yang mengerti hijrah Jaelani sedekat 
kuku dengan buku jari.
(Bakarti, 2014)

Jaelani Menemui Padri Kobani

Jaelani menemui Padri Kobani pada sebuah buku
yang dikirim seorang Bun dari Sunda Klapa
persis pada bagian ketika Padri Kobani akan bunuh diri
Jaelani memintanya bertamu sebentar
Padri Kobani sedang menyamar jadi penyanyi
ia terlalu bahagia sehingga dadanya terasa hampa
jaelani menyukai cara hidup Padri Kobani
kejora yang menolak padam meski datang
giliran tenggelam, maka diucapkannya bagian
yang kelak hilang, perkara kebahagiaan dan 
kematian yang bersaudara kembar
sebelum Padri Kobani kembali ke dalam buku
dan melanjutkan rencana bunuh diri
Jaelani menggambar wajahnya di dinding rumah
Rambutnya pirang surai kuda
dagunya bercambang seperti dinding gudang tua
Jaelani melihat lidah api di wajah
yang ia gambar
lalu ia rasakan dirinya meleleh bagaikan
lilin orang saleh
(Bakarti, 2014)

Jaelani Takut Mati

pada halaman kesekian buku ajar yang telah dilarang
kalian akan dengar sebuah pengakuan: Jaelani takut mati
bang Jaelani mati adalah kebahagiaan yang harus
dihindari, dengan cara yang lebih tersembunyi, kalian bisa
bilang, sesungguhnya Jaelani takut pada kebahagiaan
setiap berbahagia, nasib sial dirancang di depan kita,
kata Jaelani pada suatu hari di depan Padri Kobani
dengan akal yang tak boleh terlalu sehat
kami bisa sepakat. karena itu setiap berbahagia
kami lihat kuku kami supaya ingat pada mati
kunang-kunang memang datang dari kuku orang mati
tapi kuku orang hidup adalah petilasan maut
kami pun takut mati, atau tepatnya takut bahagia
bagi kami kebahagiaan adalah kutukan bagi siapa saja
yang lupa dan tidak percaya pada hokum timbal-balik
tetapi bagian ini tak akan kalian temukan lagi
lantaran pada suatu pagi, Padri Kobani yang telah berjanji
untuk bunuh diri membakarnya sembari berujar,
lebih baik terbakar habis, daripada padam perlahan-lahan
(Bakarti, 2014)

Kiki Sulistyo lahir di Kota Ampenan, Lombok 16 Januari 1978. Buku puisinya, Hikayat Lintah (2014). Giat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kiki Sulistyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” pada 8 Februari 2015