Hikayat Jamarun – Di Situ Panjalu – Di Dada

Karya , . Dikliping tanggal 8 Februari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Mugya Syahreza Santosa

Hikayat Jamarun

(seribu burung akan mengepung langit yang tiba-tiba mendung
dan paruh mereka sibuk menyasar biji matamu)
angin tak pernah berubah menjadi sari padi
hingga terasa sengat ruap pandan wangi.
dan musim belum menampakkan panen cengkih
apalagi memanen kopi untuk ditumbuk dan dibagi.
jadi apalah arti serbuan aroma dari tubuh bangkainya
yang tak pernah terasa seharum ini,
selain dari tubuh para nabi dan mereka para terkasih.
tetapi janji dengan telak ia tepati,
tak bisa mengelak apalagi meyakini
mereka yang bermata fana terbelalak
dan mereka yang bermulut dusta
sekadar bisa menganga.
coba kau cium lagi
dengan hidung belakamu,
dan sesaplah sepuasnya.
sungai bisu yang melarikan tubuh
prasangka yang menenggelamkannya.
oh gema rimba yang memantulkan
rasa laparnya,
enggan juga jarak memendek dalam jauh.
harusnya mulut ikan yang tersesat di mata kail itu
bukan tuduh yang terhunus begitu ampuh,
sedang tak ia kenali bayang wajahnya sendiri.
“aku sebatas mencari alas untuk perih
Lambungku, demi memerah waktu
Sekadar memanjangkan usiaku.”
tapi tak ada yang percaya pada rasa lapar
sebab tubuh lunglai dalam pangkuannya
tak bisa membenarkan kesaksiannya.
setiap pandang yang menyapu wajahnya
terasa membasahi dengan dengki.
setiap kali jantungnya berdegup
para punggawa siap menyusupinya duri.
“bawa ia ke hadapan kanjeng dalem
biar neraka mudah diterima baginya!”
ia merasa langit sepenuhnya pongah
tegak dan tak bisa lagi ia menganggit doa
sepatah kata sekalipun
pasir dan darah bercampur di mulutnya
hampir saja gigi dan lidah tak dirasai lagi.
gemetar tubuh berangsur menyergap 
begitu saja,
saat punggawa dengan mudahnya
menggusur tubuhnya ke jalanan bersemak
tak bergalur.
tanah terasa mengambang dalam tatapannya
pohon-pohon goyah,
bumi kembali bukan pijakan ramah baginya.
depan singgasana yang bunga mawarnya 
dari emas dan tembaga,
ia begitu percaya kanjeng dalem
akan mengenangkan padanya
bagaimana memperlakukan petani
seperti para pelayan
seorang dewi kelembutan.
tapi lelaki yang angkuh, sorotan mata merah
dan mulut mehan tetesan bisa
tak pernah menganggapnya berharga.
“ini kotaku tak bisa kau berbuat dosa tanpa penghakimanku.”
kanjeng dalem dengan tubuh bersih
nan rupawan telah begitu menyilaukan matanya.
tak ada sebab mengapa tiba-tiba matanya begitu sembab
bukan karena pukulan punggawa
melainkan kata yang bersarang jauh dari rasa iba.
ia terasa jalang jelata, mengapa kasih terasa melorot
dari genggam begitu mudahnya.
tak ada tanda-tanda bahwa 
hari esok masih ia punya. 
seluruh gempita tinggal gagap
terkulum mulut seketika.
“bawa ia ke tiang gantungan!”
dosa apa yang mudah diterka
doa apa yang murah musnahnya.
ia membayangkan alun-alun
yang dahulu mengajarinya menangkap capung
menggambar punggung kupu-kupu
dengan lamunan tentang istri dan anak-anaknya.
oh pagar hidup dari sulur sirih
serasa baru saja ia tembus.
ia melihat anaknya berlari
membawa kolecer di tangan.
ia melihat istrinya bersimpul senyum
merekatkan kasih merah delima di dada.
tapi mengapa semua bayang berubah hitam.
orang-orang mengepungnya, melempar
kesumat yang tak pernah ia sulut sepercik pun.
angin enggan menyejukkan pucuk mimpinya.
dahan harap terasa gemeretak terinjak-injak. 
“bila aku tak pernah membunuh anak malang itu
kalian akan merasakan malam begitu cepat
dilepaskan.”
dan orang-orang masih terkesima 
pada luruhan peluh dari tubuhnya.
saat tali dikalungkan ke lehernya
dan ia berdiri di atas sana sendiri
tanpa pengakuan dosa
yang tak pernah dimulainya.
“kalian akan merasa paling busuk
setelah rupa burukku menghalangi
matahati yang telanjur dibenamkan nafsu.”
juga tak membuat orang-orang
menyingsingkan lengan keangkuhannya.
hanya dada yang membusung
seperti busur memanahkan dendam
dan entah menyasar apa sebenarnya.
pada hentakan pertama jerat di lehernya,
ia menelan udara dari celah sempit dunia.
pada tarikan yang makin mencekiknya
ia menghisap aroma surga
tanpa kata-kata yang diumbarnya.
seribu burung menghalangi langitmu
dan udara yang membubung dipenuhi aroma
pandan wangi, sesekali berganti terasa bubuk kopi.
selebihnya aroma melati berjatuhan.
warna malam tiba-tiba menyergap
dalam kepak gagak yang mengerubung
mata dan lidah fitnah.
di tanah, di mana ia tergantung sepi
cahaya seakan miliknya seorang diri.
(2014)

***

Toni Lesmana

Di Situ Panjalu

kutemui jantung
ungu disaput kabut
mengapung di situ
denyutnya lembut
mengirim getar di hijau
air panjalu
itulah hutan yang mengambang
terdapat gerbang seperti celah tembang
yang mengundang kembang
ke sanalah perahu-perahu
kuyup dan meluncur
tubuh-tubuh berlumur rindu
di sana ada kubur
di bawah daun-daun
dijaga sepasang harimau
kubayangkan kau di sini
di sampingku
menghirup maut
yang merdu
mengalun
sedikit bikin mabuk
dan khusyuk. Lalu kita limbung
berebut saling menawarkan tubuh
menjadi perahu dan dayung
menuju aum
di balik kabut itu
di dalam kubur-kubur itu
selalu ada yang ingin 
dijenguk
dengan rindu
2004

Di Dada

kusimpan apa
yang kau turunkan itu
lurus ke hati
lurus ke langit
sebelah tubuhku pedih terbakar
sebelah lainnya nyaman gemerlap
entahmana
yang kelak akan abadi
2014

Mugya Syahreza Santosa lahir di Cianjur, Jawa Barat, 3 Mei 1987. Buku puisinya Hikayat Pemanen Kentang (2011). Tinggal dan bekerja sebagai penulis lepas di Bandung.

Toni Lesmana lahir di Sumedang, Jawa Barat. Menulis puisi dan prosa dalam bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Bergiat di Komunitas Studio Titikdua Ciamis.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mugya Syahreza Santosa dan Toni Lesmana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” pada 8 Februari 2015