Kenangan – Setiwang – Way Besai – Kukejar Bayangmu – Telah Diingatkan

Karya . Dikliping tanggal 9 Februari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Kenangan 

bertahun-tahun lamanya 
pohon ini bercabang 
dengan lebatnya 
dalam mimpiku 
tapi yang tampak sekarang 
dari beranda rumahku 
lebih hijau dari hijaunya 
kenangan 
nikmati saja matahari 
selama masih bisa 
sebelum hujan datang 
tak terbayangkan 

Setiwang 

pelangi turun di pancur tujuh 
way setiwang 
muli peteri1 sedang membasuh rambut
yang tergerai dari gelung 
siapa pula tak silau 
sepasang mata lentik 
siapa pula tak tergetar 
sekulum bibir senyum 
muli peteri 
muli peteri 
anak raja 
negeribatin di balik bukit 
menebar harum swarga 
tempat diwa-diwa 
memanja diri 
satu kali 
bencana telah tiba 
negarabatin terguncang2 
jagat raya menghiba 
entah pula siapa punya dosa 
entah kutuk siapa terlanjur terucap 
entah siapa bisa menjadi penawar 
musibah menjelma prahara 
duka bagi negarabatin 
derita tiada obat 
muli peteri 
muli peteri 
kena kurak3 
begitulah 
sebuah bisikan datang: 
“mandilah di way setiwang“ 
agar paras kembali segar 
agar hidup membugar 
muli peteri 
muli peteri 
anak raja 
pelangi turun di pancur tujuh 
way setiwang 
saat muli peteri membasuh duka 
yang mengharu dan segera berlalu 

Catatan:
1 muli peteri = putri raja 
2 gempa bumi melanda Liwa, Lampung Barat, pada 1908, 1933, dan 1994 
3 kurak (bahasa Lampung) = penyakit kulit 

Way Besai 

dari sekalabrak ulun-ulun menghilir 
way besai, antar aku ke repong-repong 
talang-talang 
“dari kopi, lada, damar kami menghela nafas“ 
ulun tuhaku ngebangun rumah panggung 
berjan meranti 
belantara menjelma umbul 
way besai, dari sinilah hidup menghulu 
dari sinilah sejarah dan peradaban 
ulun lampung! 
“bagaimana memisahkan kami darimu?“ 

Kukejar Bayangmu 

kukejar bayangmu 
di ketinggian bukit-bukit 
di kedalaman laut-laut di kehijauan hutan-hutan 
di kejejauhan utara-selatan 
di mana-mana 
tanah merah kubangan 
hujan gempa banjir 
tak kurasa tak kupeduli 
kalaupun harimau 
setan iblis sekalipun 
kutinju kuterjang 
tapi 
aku takut 
kau sudah 
menjelma batu 

Telah Diingatkan 

telah kusaksikan kerusakan 
di laut darat langit 
telah datang bencana 
dari muka belakang samping 
atas bawah perut bumi 
kita tak mampu menduga 
kita tak bisa mengelak 
kita tak kuasa menolak 
telah diperlihatkan padamu 
betapa tak ada artinya keangkuhan 
betapa kecilnya makhluk bernama manusia 
dan betapa kau tak ada apa-apanya 
tapi tragedi bukan untuk disesali 
kematian bukan untuk dirutuki 
tapi untuk memberi makna bagi yang hidup 
agar tak menjadi sia-sia 
: telah diingatkan agar kau berpikir 

Kemiling, Suatu Senja 

siapa membakar matahari 
langit merah membara 
angin menghembus sunyi 
nyeri berpagut mara 
sendiri 

Tentang Hujan 

semalam memang hujan, minan 
tapi bukan hujan yang menidurkan hati 
kita terlampau lelah berbincang 
sepanjang masa 
tanpa suara tanpa titik temu 
sudah jangan pikirkan hujan 
ketika hujan datang orang-orang sibuk 
berbincang 
berjam-jam menunggu
hujan adalah rencana yang tersusun 
dalam benak 
atau malah tertulis dalam agenda 
orang-orang sibuk 
sesekali hujan berkisah tentang 
orang-orang romantis 
yang bertemu kundang tapi tak bisa 
berbuat apa-apa 
selain menghitung-hitung rintik air yang jatuh 
dari atap mengenai kaleng butut 
di belakang gudang 
hujan lebat sekali semalam, minan 
tapi hati kita tak sejuk karenanya 
dia nyatanya tak bisa mencairkan hati kita 
api terlanjur membesar 
tak kan padam 
oleh hujan sepanjang tahun sekalipun 
sudahlah berhentilah menyalahkan hujan 
hujan memang tak kan mengerti tentang 
perasaan kita hujan tak kan tahu dengan obsesi 
kita hujan juga tak kan paham apa yang kita pikirkan 
sudahlah berhentilah menyesali 
hujan kita hanya ingat hujan telah memberi kita arti 
jadi, tak ada alasan membenci hujan 
semalam memang hujan, minan 
lebat sekali 
tapi kita tetap tak mengerti 
apakah hujan masih merahasiakan sesuatu 
badan kuyup tapi yang kurasa 
panas menyengat 

Udo Z Karzi, penyair, lahir 12 Juni 1970 di Liwa, Lampung. Penerima Penghargaan Kamaroeddin 2014 dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung ini menulis dalam bahasa Indonesia dan Lampung. Buku puisinya: Momentum (2002) dan Mak Dawah Mak Dibingi (2007).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Udo Z Karzi 
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” pada 8 Februari 2015