Kisah Empat Gadis Pemilik Perahu – Sang Pengabul Mimpi – Tak lagi Milikku

Karya . Dikliping tanggal 22 Februari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Kisah Empat Gadis Pemilik Perahu 

empat gadis berceloteh tentang perahu mereka
pada kakek yang duduk di tepian dermaga

gadis pertama mulai bertanya
tuan, tidakkah kau lihat perahuku?
diam dan hanya menunggu ombak.
angin berjalan berdampingan
padahal matahari mulai tenggelam
bagaimana aku berlayar menuju pelabuhan?
saat rembulan jua enggan berteman

gadis kedua menghampiri dan bergumam
tuan, sekiranya perahuku terlampau lama berlabuh
hingga ia akan kehabisan bahan bakar
adakah tempat lain yang mesti kutuju dahulu?
sekedar melepas penat setelah berlayar
ataukah berharap perahu lain menjemputku

gadis ketiga memberanikan diri mendekat
tuan, aku memiliki tiga perahu
dengan ketiga nakhoda berbakat
manakah yang dahulu kunaik?
yang semuanya menawarkan emas dan permata
berkilau
setelah aku sampai di pelabuhan nanti

Baca juga:  Plesetan Pantun Minggu ke-2 Oktober 2015

gadis keempat tampak cemas,
tuan, bagaimana denganku
perahuku terlebih dulu kandas
tanpa sempat berjalan menuju pelabuhan
adakah kesempatan?
untukku berlayar seperti waktu itu

biarkan perahumu berjalan sebagaimana mestinya
meski itu lurus, berbelok, mundur, bahkan harus diam
sekalipun
ia akan menentukan pelabuhannya
laiknya berjalan di lorong gua yang keluar menuju
cahaya

kata si kakek yang telah termakan usia
mantan nakhoda sekaligus penunggu dermaga

Jakarta, 21 Januari 2015 

Sang Pengabul Mimpi 

aku bertanya setengah sadar
pada sebaris rumput yang tumbuh lebat
di pekarangan
sembari kedua tanganku berlipat
dan mataku nanar penuh harap

Baca juga:  Telaga Hilang Riak - Anapuisi - Kalam Puisi - Segala Puji Bagi Puisi - Lukaku Apakah Lukamu

apa benar kenyataan berlapis tipis
impian tertulis berbaris-baris
di dinding tempat ia terlihat manis
meski sekedar polesan tinta yang mulai habis

“mungkinkah pengabulan doaku delay?“
bisikku lebih pada diriku sendiri
saat pergantian tahun di momen kembang api 
kutuju hanya pada sang pengabul mimpi

Jakarta, 21 Januari 2015 

Tak lagi Milikku

kau tak lagi milikku
terbang terbawa angin masa lalu
si pemberontak ulung
menyerupai malaikat pencabut sukma
iblis menjadikan tangis

pernahkah aku menjadi duniamu
ketika kau sibuk dengan mainan
padahal berkali-kali aku menegakkan
kedua tangan dan kakimu
dari asal tempat dudukmu yang empuk

Baca juga:  Pendingin Ruangan dan Perang Dunia Ketiga

sempat memiliki matamu
terasa seperti mengibarkan layar bersama di kapal
meski terhempas karang, dan membencimu sekarang

kau tak lagi milikku, leburlah jadi abu

Jakarta, 15 Januari 2015 

Herwit Daya Tani, lahir di Jepara, 16 Agustus 1992.
Menulis puisi dan sesekali menggeluti dunia teater serta model. Kini, ia bekerja sebagai perawat di RSUP Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Herwit Daya Tani
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” pada 22 Februari 2015