Mengenang Ragil Suwarno Pragolapati – Pelangi dan Burung-Burung – Di Bandara Ngurah Rai – Simpang Siur

Karya . Dikliping tanggal 9 Februari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Mengenang Ragil Suwarno Pragolapati

Di pantai ini
aku terpekur sendiri
menatap ombak
seperti ribuan tombak
merajam batu karang
sepanjang siang
bertahun-tahun aku mengenangmu
bercengkerama dengan kawan-kawan
dengan lesehan
di tepi jalan itu
andai aku tahu
kini di mana engkau
akan kuajak menikmati secangkir kopi
sambil berbincang tentang prosa dan puisi
sejak kepergianmu
yang tak lagi kembali
aku kehilangan guru
dalam menulis prosa dan puisi
andai aku bisa menyusulmu
akan kuajak kau kembali
karena negeri ini masih butuh tutur katamu.
Pantai Selatan, 2015

Pelangi dan Burung-Burung

Sekawan burung-burung
Terbang mendekati pelangi
Pelangi dan burung-burung
Seperti burung-burung itu
Meraih pelangi untuk kujadikan selendang
Bagi ibuku
Aku jadi teringat masa lalu
Digendong ibu
Dengan selendang kawung
Bergambar pelangi dan burung-burung.
Bumi Mina Tani, 2015

Di Bandara Ngurah Rai

Menunggu pesawat terbang
Bersama sejumlah calon penumpang
Aku merasa sendirian
Dan kesepian
Langit biru bersisik mega putih
Membayangkan wajahmu letih
Sehabis kita menafsirkan kasih
Angin lembut
Seperti hembusan napasmu
Ketika kau menggelung rambut
Sehabis kita mengikis rindu
Hidup memang terlalu singkat
Untuk saling bertukar semangat
Jauh pun tiba-tiba jadi dekat
Beda bahasa tak lagi menyekat
Di bandara ini
Banyak yang datang dan pergi
Meninggalkan kesan
Membawa kenangan.
Pulau Dewata. 2015

Simpang Siur

Simpang siur langkahku
Mencarimu dalam rindu
Banyak ruas membentang
Semuanya bikin bimbang
Ingin aku bertanya
Tentang alamatmu
Tapi kepada siapa
Semua merindukanmu
Di simpang siur
Aku makin bimbang
Melihat hiasan janur
Dan ceceran kembang.
Nusa Dua, 2015

Khadam

Selalu kau berubah-ubah
Jadi perempuan jadi lelaki
Siang malam mengajak ibadah
Agar bahagia hidup dan mati
Katanya sorga tidak untuk dijual
Jadi tak usahlah membelinya
Tinggal namamu terserat jadwal
Kapan bakal memasukinya
Bumi Mina Tani, 2015

Pantai Sanur

Setiap aku datang di sini
Selalu memandangi hamparan pasir ini
Yang menjadi alas tidur turis dari manca
Memamerkan dada dan pantatnya
Kulihat juga tanpa sengaja
Sepasang turis bercumbu mesra
Di kolam belakang hotel itu
Tanpa malu-malu
Aku tiba-tiba terpana
Melihat sekelompok siswa
Bersama guru-gurunya
Katanya sedang belajar wisata.
Pulau Dewata, 2015
*) Nazil Muhsinin. Lahir 14 September 1971. Buku Puisinya ‘Cermin Cembung’ terbit tahun 2009 dan ‘Apel Impor yang Membusuk’ terbit tahun 2014. Suka mengembara ke berbagai pelosok dalam negeri maupun luar negeri untuk menulis prosa, esai dan puisi.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nasil Muhsinin
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” pada 8 Februari 2015