Pengakuan Gayatri – Prapanca – Bubat di Luar Kakawin – Buaya Setia Kedungsari

Karya . Dikliping tanggal 22 Februari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Pengakuan Gayatri 

Di lantai kuil rahasia Tantri 
Singasari serta ayahku mati 
sebelum Tartar menyeringai 
melalap tubuh laskar Kediri.
Betapa nanti takdirku dikawini 
pangeran yang dulu mengungsi 
dan aku jadi rajapatni Tanah Jawi 
meraih lagi tahta yang terbantai.
Di ragaku darah berbau api 
mengobarkan hening bumi 
mengabu belukar kelam diri 
di bawah rindang kosambi.
Kupeluk tahta gemilang lelaki 
di jantungnya berdetak dinasti 
dan serbuk waktu merah gontai 
berjatuhan dari mahkota nyeri.
Dari raja ke raja aku melerai 
kecamuk singgasana terburai 
dalam relung panjang semadi 
dan mencakar sepi kulit pipi.
Aku tahu takhta datang-pergi 
bersama hikayat dan prasasti 
hingga tercium berabad nanti 
wangi cinta serta aib dan keji.
Kutepis istana dan jadi biksuni 
bersendiri bersama senyap suci 
dan terasa debar seluruh bumi 
mengasah pedang tanpa henti.
Mengerti sungguh aku nanti 
bukan hanya menjadi bangkai 
diberkati para penghuni negeri 
dan trah akan berjalan dan mati. 

Prapanca 

Dari desa ke desa leleh tinta pujangga 
dan petani di lumpur sawah raganya.
Tak berpijak bumi tapak kaki para raja 
dan meraih langit menjadi singgasana.
Tahta menuangi kanal dengan air mata 
dan di luar istana tak tersurat nestapa.
Melamun kabut di sekujur Anjasmara 
dan sejarah menapak lereng peristiwa.
Lantas tertatah silam waktu oleh kata 
dan bahasa akan mencipta segalanya. 

Bubat di Luar Kakawin 

Bukan rumput hijau sekarat di dataran lapang ini.
Kepada Prapanca tanyakan peristiwa yang terjadi. 

Buaya Setia Kedungsari 

Di tepi aliran Brantas 
menunggu lelaki itu di atas batu.
Kekasihnya bergegas 
dan selamanya tak lagi bertemu.
Kali sejuk dan ganas 
menyihir setia menjadi sembilu.
Kedungsari waswas 
diterkam hunusan taring waktu.

Memo Candi Minak Jinggo 

Tak kembali masa silam.
Telah pergi masa depan.
Meresap di tanah amuk darah.
Jiwa disiksa tahta yang marah.
Blambangan terpenggal kepala.
Kesumat tak kuasa menukarnya. 
Binhad Nurrohmat, penyair, lahir di pedalaman Lampung, 1 Januari 1976. Buku kumpulan puisinya yang terbaru ialah Kwatrin Ringin Contong (2014).
Sekarang bermukim di Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Binhad Nurrohmat
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” pada 22 Februari 2015